Living Value Education Sebagai Penangkal Bullying

Perilaku bully-ing masih marak terjadi pada anak-anak di Indonesia
0

Jakarta – Lagi lagi kekerasan hanyalah fenemone gunung es yang tak ada henti hentinya. Kasus kali ini menjadi tranding topik yaitu Bullying. Sebenarnya kasus ini bukanlah kasus baru namun 22 th sejak saya SD ternyata sampai saat ini mash menjadi akar masalah.

Bukan hanya saya pastinya, saya yakin semuanya pernah menjadi pelaku, korban ataupun penonton dari kasus bullying. Contoh saya menjadi penonton teman saya yang sedang di bulli habis habisan, kerudungnya di copot, sepatunya di sembunyikan, diberikan nama julukan yang aneh, namun saat itu tak sempat terfikirkan untuk melaporkan kepada guru. Begitu pula pelaku saya yakin setingkat anak SD belum terfikirkan dampak bullying bagi korban.

Bagi pelaku banyak yang melatarbelakangi mereka untuk melakukan pembullyan.bisa karena orang tua yang suka bertengkar, saudara, lingkungan atau bahkan guru yang suka berbuat kasar.

Menurut data KPAI kasus bullying yang terlaporkan di 2019 37 kasus. Bukan hanya bullying terhadap sesama teman, bahkan di 2018 di Gresik pernah terjadi bullying terhadap seorang guru yang di video kemudian menjadi viral.

Hal utama yang perlu dicermati adalah bagaimana menerapakan nilai dalam diri seorang anak. Kembali ke peran orang tua dan guru. Orang tua dan guru adalah iklan utama di lingkungan intern untuk anak. Lingkungan ekstern adalah kehidupan di luar intern anak, kehidupan di sekitar anak baik lingkungan bermain bersama teman temanya atau media televisi atau media sosial yang dapat memicu anak untuk menirukan perilakunya.

Living value educatian (pendidikan nilai dalam kehidupan) menjadi pokok untuk menjadikan pribadi anak sebagai sosok yang memiliki nilai kemanusiaan. Nilai agama yang ditanamkan misalnya rahmatan lil alamin. Bagaimana seorang anak bisa berkasih sayang dengan keluarga, guru dan temanya. Nilai kedamaian, cinta, tegang rasa, welas asih dan bertanggung jawab wajib di miliki oleh si anak. Sebagai penangkal dr kejahatan bullying.

Untuk memusnahkan cyber bullying memang harus dicari akar permasalahan, bukan membuang masalah begitu saja, sehingga suatu saat dapat muncul kembali ke permukaan. Bagi pelaku wajib di cari penyebabnya dalam melakukan bullying sampai ke akar akarnya. Bagi korban orang tua, sekolah dan teman teman wajib ikut memulihkan traumanya dengan cara merangkul agar timbul kepercayaan dirinya.

Hadiatul Hikmah
Ketua Bidang Kemasyarakatan PWNA Jawa Timur

Choose your Reaction!
Leave a Comment

Your email address will not be published.