| Undangan Perubahan Untuk Negara Surga Dunia | ||||
|
|
Indonesia merupakan negara kaya (surga dunia) yang berlimpah seluruh isi alamnya. Akan tetapi Indonesia sudah sangat lama menanti ratu keadilan bagi rakyatnya, karena memang selalu tidak berdaya ditengah persaingan global. Karena itu, perlu ada reformulasi gerakan sebagai model membangkitkan kesadaran kritis seluruh rakyat untuk bergerak bersama-sama menyadarkan negara yang bernama Indonesia agar tidak selalu lelap dalam setiap cengkraman asing. Semisal jepang bisa bangun dan menjadi negara raksasa yang maju dalam waktu 25 tahun. Malaysia dengan dinakhodai Mahatir Muhammad butuh 20 tahun. Sementara hanya beberapa tahun saja yang dibutuhkan Cina untuk membangun kekuatan ekonomi dan ditakuti dalam percaturan dunia. Akan tetapi, mengapa Indonesia tidak bisa bangun dari tidur lelapnya. Karena pemimpin yang ada tidak punya keberanian untuk menolak dan melawan intervensi asing. Disinilah letak kekuatan kebangkitan revolusioner bahwa Indonesia harus berubah. Pasti perubahan itu akan segera datang, apabila undangan perubahan selalu kita kampanyekan, tentu hal ini adalah kemenangan pertama bagi kelompok perubahan. Faktanya bahwa SBY telah gagal melindungi warga negara yang berada di luar negeri. Sedikitpun perasaan dan nurani para pemimpin negeri ini tidak tergoyahkan, padahal selayaknya SBY harus melakukan langkah kongkrit dalam memberikan perlindungam dan kesejahteraan kepada rakyatnya. Pemimpin itu tidak harus mengenakan dandanan politik yang selalu bersikap lepas dalam melakukan apa saja. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 tetap tidak akan berkualitas karena pemerintah tidak sanggup mengurangi pengangguran. Basis pertumbuhan tetap terfokus pada konsumsi domestik. Tapi produsen pada konsumsi domestik itu adalah asing. Maka tingginya konsumsi domestik dinikmati sebagai laba orang asing di Indonesia. Ekspor akan tetap pada sektor primer dengan sedikit dukungan industri manufaktur. Namun patut dicatat, pihak yang mengekspor adalah swasta asing dan domestik dan industri manufakturnya juga dimiliki asing. Ironisnya, negara ini seperti "surga dunia" dari hulu ke hilir menghasilkan rempah-rempah, dari sabang ke merauke menyimpan sejuta berlian, emas, mangan. Namun rakyat Indonesia tak kunjung mendapat kesejahteraan, keadilan bahkan memperoleh penindasan dari pemimpinnya sendiri. Indonesia negara minyak yang berada pada urutan 29 di antara negara lainnya yang memiliki modal penyimpanan minyak sebagai pemasok kebutuhan gas yang berada pada urutan ke 11 diantara negara lain juga. Belum lagi kita menghitung penghasilan batu bara. Apalagi tambang emas, timah, perak, nikel, tembaga dan bijih timah dengan penghasilan rata-rata di atas 1 triliun perhari, sebagaimana yang di lakukan eksploitasi oleh newmont. Belum lagi investasi hutan laut yang sungguh enak di pandang mata dan polos murni. Hal ini terjadi di sebabkan oleh kebijakan ekonomi pemerintah yang bersifat "liberal non control" yang apalagi tidak akan pernah memihak kepada rakyat. Selain itu juga, yang memperparah negeri ini adalah aksi para koruptor dengan mencongkakan serta memelacurkan dirinya dengan cara gerogoti uang APBN dan APBD. Maka kita sangat sedikit bahkan rakyat sudah pesimis untuk memperbaiki kualitas hidup dan kesejahteraannya sendiri. Hal ini terlihat jelas dari data BPS tahun 2011 yang menyebutkan penduduk miskin dengan pengeluaran Rp 230.000 per tahun mencapai 30 juta, dan penduduk hampir miskin dengan pengeluaran Rp 233.000 sampai dengan Rp 280.000 per tahun berjumlah 57 juta. Jumlah itu membengkak apabila menggunakan standar internasional yaitu kurang dari 2 dolar AS perhari sebagaimana data dari Word Bank. Kondisi ini sungguh ironis, rakyat menderita di dalam negara yang di sebut "Surga Dunia". Undangan Perubahan merupakan titik fokus dalam membangun kesadaran bernegara-nasionalisme-nasionalisasi yang harus di realisasikan karena mengingat bahwa potensi alam Indonesia di kuasai oleh negara-negara asing dalam sejarahnya maupun masa kini menciptakan dilema dan justru meninggalkan akar persoalan yang memecah belah rakyat dan berpotensi memunculkan raja-raja kecil. Potret buram kondisi rakyat yang tidak di dukung oleh sistem pemerintahan akibat pemalakan oleh penguasanya sendiri dan tidak ada upaya untuk menguranggi pengangguran serta mengatasi rendahnya tingkat kesejahteraan penduduk Indonesia. Kita bisa saksikan bersama bahwa betapa terpuruknya Indonesia akibat masuk dalam G-20, yang dimana kita menilai G-20 merupakan konspirasi negara-nagara kapitalis untuk meraup keuntungan dari Indonesia. Sementara kerjasama ekonomi melalui G-20 justru membawa petaka di kemudian hari yang berimplikasi pada rendahnya martabat bangsa dan tidak menjamin kesejahteraan rakyatnya. Sebagaimana majalah Forbes Nov 2011 bahwa kekayaan Indonesia dimiliki oleh 40 orang terkaya baik dalam negeri (Indonesia) maupun luar negeri (asing), yang semakin menunjukkan jurang pemisah antara si miskin dan si kaya. Hal itulah yang kuat mendorong tumbuh suburnya kecemburuan sosial dan kultural terhadap rakyat Indonesia dengan melahirkan banyak persoalan sosial kultural karena memang mayoritas penguasa ekonomi adalah golongan pengusah hitam dalam "Surga Dunia yang bernama Indonesia".
Sala satu contoh kegagalan ekonomi bangsa ini adalah di lihat belum mampu melawan tekanan dari para pemimpin Eropa dan Amerika, untuk mengambil peran dalam memulihkan ekonomi dalam negeri. Rezim SBY - Boediono lebih suka berhutang dan menciptakan masalah dengan rakyatnya, padahal SBY - Boediono harus berfikir bagaimana layaknya mempercepat pertumbuhan ekonomi. Namun yang terjadi akibat ketidakmampuan melawan sikap hegemoni neoekonomi Eropa dan Amerika sehingga situasi ekonomi Indonesia dalam konteks global pada tahun 2012 ini di pastikan mengalami keterpurukan. Tidak dapat disangkal bahwa menghadapi badai krisis keuangan akibat keserakahan para pemangku kebijakan di negeri ini yang meleset sehingga jatuh sendiri dengan tumbalnya institusi negara yang mengorbankan berbagai regulasi, tidak ketinggalan UUD 1945 yang di anggap ampuh membawa perubahan sebagai simbol yang "sakral" pasal 33 ayat 1-3. Seharusnya dalam krisis IMF dan blok Eropa Amerika, harusnya Indonesia bangkit tampil sebagai pengagas revolusioner untuk nasionalisasi aset asing yang selama ini menjadi ikon pemilik modal, dengan tujuan meningkatkan tarap kekuatan ekonominya sebagai serangkaian kebutuhan dalam negeri. Penghancuran terhadap IMF merupakan agenda mendesak yang di lakukan oleh Indonesia atas pencarian solusi ekonomi yang lemah. Indonesia sebenarnya bisa mengkonsolidasikan sebuah agenda mendesaknya yakni mengumpulkan para pemangku kebijakan ekonomi di IMF dengan menolak dan alih fungsi status IMF sebagai bagian dari pencegahan pemberian dana talangan sebesar 150 miliar euro (US$ 194 miliar) untuk menangkis krisis utang. Justru terbalik Indonesia membantu IMF untuk menanggulangi hutangnya. Dana talangan itu pun bertujuan menutupi krisis Yunani, Irlandia dan Portugal dan Italia juga. Posisi Indonesia tidak harus membutuhkan lembaga multilateral dalam rangka meperkuat status ekonominya karena langkah Indonesia dianggap tepat apabila berani nasionalisasi aset kepemilikan negara lain yang ada di Indonesia. Indonesia membutuhkan kebijakan ekonomi yang kredibel untuk mengatasi kekurangan dalam negerinya yang kian tidak jelas. Hal ini hanya akan tercapai jika ada undangan perubahan dari para pejabat dan aktivis mahaiswa, politik pada tahun 2012 ini harus mendukung kebijakan yang terlepas dari intervensi negara lain (kaum pemodal). Prototype kepemimpinan Indonesia ini harus berani untuk melawan intimidasi dari berbagai intervensi asing dan termasuk seluruh dunia harus membuat upaya kolektif dalam hal mempercepat nasionalisasi seluruh aset asing dengan pola pergerakan dan perubahan total yang akan mampu memulihkan perbudakan untuk menjadi keadilan dan kesejahteraan. Penulis adalah : Rusdianto BPH DPP IMM Bidang Media Dan Pengembangan Teknologi, Pimred Tabloid Kauman Dan Mahasiswa Program Magister Ilmu Komunikasi Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta |



