Pendidikan indonesia darurat kekerasan






JAKARTA - Belum lama ini publik dikejutkan oleh aksi nekat seorang siswa yang melakukan aksi kriminalisasinkepada salah satu guru di pulau jawa hingga tewas. belum usai diberitakan kasus tersebut, muncul lagi kasus baru yang cukup viral dimedia sosial yakni seorang ibu kepala sekolah dikriminalisasi oleh siswa dan orang tuanya dan beberapa peristiwasa lain yang serupa yang dimana korbannya adalah siswa. 

Guru mengkriminalisasi murid, murid mengkriminalisasi guru dan ada kalanya orang tua siswa yang mengkriminalisasi guru.

Muncul pertanyaan dibenak publik, apa yang terjadi pada lembaga pendidikan kita? Apa yang menyebabkan sehingga hal tersebut bisa terjadi.

Ini adalah sederet pertanyaan-pertanyaan yang seringkali muncul manakala terjadi kasus yang seperti di atas.

Apakah ini mutlak kesalahan lembaga pendidikan yaitu (tenaha pendidik, kurikulum?) Apakah ini mutlak kesalahan siswa? Ataukah mutlak kesalahan orang tua siswa? Tentu pertanyaan tersebut harus dijelaskan dengan baik.

Karakter

kasus kriminalisasi yang demikian dalam dunia pendidikan baik itu guru atau siswa yang menjadi korban atau pelaku biasanya disebut sebagai (dekadensi moral) penurunan moral. Apa yang menyebabkan itu terjadi, tentu banyak faktor yang mempengaruhi, sebut saja
1). Pola asuh orang tua
2). Lingkungan bermain 
3). Lembaga sekolah yang belum maksimalkan pendidikan karakter.
Ketiga hal tersebut bisa jadi sebagai pemicu maraknya siswa mengkriminalisasi guru.

1). Pola asuh orang Tua
Dalam dunia yang serba maju ditambah dengan kebutuhan manusia yang semakin bertambah membuat banyak orang tua tega menitipkan anaknya yang masih kecil karena sebuah pekerjaan, bukannya tidak boleh namun tidak sedikit penelitian yang telah membuktikan bahwa ada sebuah perbedaan dimana anak yang diasuh langsung oleh orang tuanya jauh lebih baik perkembangan dan pertumbuhan karakternya ketimbang diasuh oleh baby sister. Mengapa demikian, sebab orang tua kandung mengasuh tidak hanya dengan ketulusan namun dengan kelembutan, kehangatan dan penuh cinta. Sebab pendidikan yang paling utama adalah di rumah dan pendidikan yang dipenuhi dengam kasih sayang adalah merupakan pendidikan karakter. 

2). Lingkungan bermain
Orang tua seringkali bahkan kebanyakan tidak memperhatikan lingkungan bermain buah cintanya. Dengan siapa dia berteman, apa yang dilakukan anaknya diluar, ini sangat janrang diperhatikan oleh orang tua, nungkin karena mereka sibuk bekerja sehingga ketika pulang kerumah anak-anaknya tah istirahat sehingga untuk mau hanya untuk sekedar bertanya saja butuh keesokan harinya, itupun kalau tidak ada pekerjaan tambahan ditempat ia bekerja. Sehingga kontrol terhadap buah hatinya berkurang maka tidak jarang terkadang banyak orang tua yang kaget manakala mendapatkan informasi anaknya melakukan tindakan kriminal dan sebagainya.

3). Lembaga sekolah
Jika semua persoalan kriminal dan sebagainya yang terjadi di sekolah kita alamatkan kepada lembaga sekolah maka itu sangat keliru.  mengapa demikian, sebab yang namanya lembaga sekolah pasti akan memberikan pelayanan yang prima demi memanusiakan manusia, walaupun ada beberapa lembaga sekolah yang tenaga pendidikannya malah yang menjadi pelaku tindakan kekerasan terhadap siswa.
Sekolah hanya diberikan waktu kurang lebih 8 jam dalam sehari untuk memberikan bekal ilmu, memberikan contoh dan lainnya sisanya adalah siswa dalam perjalanan pulang, lingkungan bermain dan rumah. Namun dirumahlah waktu yang lebih banyak.

Kekerasan, siapa yang disalahkan

Tak perlu kita saling melempar kesalahan kepada orang tua, siswa dan pihak lembaga. Sebab mereka punya tanggung jawab masing-masing. Yang perlu lakukan adalah orang tua, siswa dan lembaga pendidikan mengevaluasi diri masing-masing, suda sejauh mana saya memberikan yang terbaik (orang tua kepada anak, anak kepada orang tua dan lembaga pendidikan kepada orang tua). Jiak suda evaluasis diri secepatnya diperbaiki yang menjadi kekurangan masing-masing sehinga tidak ada yang perlu disalahkan. Namun orang tualah yang lebih banyak tanggujawabnya terhadap karakter anak sebab mereka terlahir dari rahimnya dan akan dipertanggung jawabkan dihadapan yabg mahaa kuasa.

Pemerintah dalam ini kementrian pendidikan dan kebudayaan RI  harus terus membenah diri (evaluasi) apa yang kurang dari kurikulum kita, sebab kurikulum di indonesia manakala berubah menteri pendidikan maka berubah pula kurikum layaknya ada pesan yang ingin ditinggalkan kepada publik dalam bentuk sejarah bahwa kurikulum tersebut adalah produm ketika saya yang menjadi meteri pendidikan. Tapi ketika dunia pendidikan ditimpah musibah mereka tidak muncul lalu berkata bahwa bisa saja produk yang saya hasilkan dalam masa kepemimpinannya masih kuranh sehingga dunia pendidikan masih mengalami kasus tragis kriminal. []


Penulis : Jailani Tong