Amerika Serikat Khianati Hubungan Bilateral





Oleh Aris Munandar

Hubungan Bilateral Indonesia-AS kembali tercederai oleh sikap inkonsisten Amerika Serikat terhadap Panglima TNI (Jenderal Gatot Nurmantyo) beserta delegasi saat sedang menghadiri acara Chiefs of Defense Conference on Country Violent Extremist Organization (VEOs) yang diundang secara resmi oleh Panglima Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (Jenderal Joseph F Durford, Jr.) yang berlangsung pada tanggal 23-24 Oktober 2017 di kota Washington DC.

Jika sekaliber panglima TNI saja diperlakukan seperti bola pingpong, bagaimana dengan rakyat biasa.? Bagaimana mungkin (undangan delegasi) kenegaraan antar angkatan bersenjata kedua Negara bisa ditolak di tengah jalan. Tentu saja, hal ini tidak bisa diterima secara akal sehat. 

Dalam kamus politik internasional, hubungan bilateral adalah keadaan yang menggambarkan saling mempengaruhi atau terjadi hubungan timbal balik antar dua belah pihak atau dua negara. Hubungan bilateral yang dimaksud adalah adanya timbal balik yang terjalin antara  Amerika Serikat-Indonsia dalam membangun hubungan apapun, termasuk saling menjaga stabilitas nasional masing-masing negara.

Mengutip teori Jack Plano C dan Roy Olton, (1990), “Hubungan kerja sama yang terjadi antara dua negara di dunia pada dasarnya tidak terlepas dari kepentingan nasional masing-masing negara. Karena kepentingan nasional yang merupakan unsur yang sangat vital yang mencakup kelangsungan hidup Bangsa dan Negara, kemerdekaan, keutuhan wilayah, keamanan, militer, dan kesejahteraan ekonomi”.

Terlepas disengaja atau tidak, mestinya Amerika Serikat tetap komitmen menjaga kemitraan strategis dengan Indonesia sebagai negara sahabat, agar hubungan bilateral terjalin dengan harmonis, baik menjalin hubungan kerjasama di bidang Ekonomi, Politik maupun pertahanan dan keamanan antar kedua belah pihak. Namun Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan  bilateral dengan Indonesia.
Atas pelanggaran itu, situasi nasional indonesia menjadi tidak stabil. Atas situasi itu, saya sebagai anak Bangsa, sangat tersinggung atas insiden tercela tersebut, karena ini bukan persoalan reputasinya bapak Gatot Nurmantyo sebagai panglima TNI, namun ini menyangkut martabat dan jati diri Bangsa yang sudah dilecehkan.

Apalagi dengan munculnya sebuah rumor bahwa, alasan penolakan panglima TNI di AS karena Jenderal TNI berbintang Empat itu diketahui pernah tersandung kasus pelanggaran HAM di timur Indonesia (Papua). Dengan alasan itu, maka setiap petinggi negara manapun yang tersangkut kasus pelanggaran HAM tidak diperbolehkan untuk menginjakkan kaki di negara yang menjunjung tingggi nilai-nilai demokrasi tersebut.

Dengan dalih negara yang paling demokratis di dunia, syah-syah saja karena alasannya masuk akal dan dapat diterima secara akal sehat, karena akan bertentangan dengan negara demokrasi apalagi Amerika Serikat merupakan negara yang paling melindungi kebebasan HAM di dunia. Namun saya tidak sepakat ketika Panglima TNI beserta delegasi ditolak di tengah jalan, apalagi penolakannya bukan melalui nota diplomatik resmi dari Dubes Amerika Serikat, karena itu mencederai hubungan bilateral antar negara.

Jikalaupun panglima TNI itu pernah tersangkut kasus pelanggaran HAM, kenapa dari awal Amerika Serikat tidak melakukan investigasi untuk menelusuri rekam jejaknya, agar dapat dibuktikan secara hukum, kemudian dengan alasan itu, pihak AS melalui Duta Besarnya di Indonesia mengirimkan nota diplomatik.

Meski informasinya pihak AS telah meminta maaf, atas insiden yang tidak terpuji itu pula, saya menduga bahwa pihak AS mempunyai niat jahat terhadap Indonesia, dan saya  mendesak Pemerintah Indonesia untuk bersikap lebih tegas agar pihak AS mempertanggungjawabkan perbuatannya supaya Bangsa Indonesia disegani oleh Bangsa-bangsa lain di dunia.

Oleh karena itu, saya sebagai anak bangsa sangat mengecam sikap Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab) Amerika Serikat yang telah melecehkan panglima TNI di mata dunia internasional, karena terkesan main-main dan mengkhianati persahabatan antar angkatan bersenjata serta hubungan bilateral Indonesia-Amerika Serikat menjadi disharmonis. 


Penulis : Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta/Sekertaris Bidang Lingkungan Hidup DPP IMM