ROHINGYA : KEJAHATAN HAK ASASI MANUSIA DAN PANGGILAN KEMANUSIAAN

Oleh : Feby M Faisal, S.H.
Tidak ada alasan apapun yang dibenarkan untuk sejumlah tindakan brutal yang dilakukan terhadap saudara kita etnis muslim Rohingya di Myanmar. Pemerkosaan, penyiksaan, pembantaian dan pembersihan etnis seperti ini jelas merupakan tindakan genosida yang merukan pelanggaran berat Hak Asasi Manusia (HAM). Dari sejak 2012 sampai mei 2017 saja,  Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat sudah hampir 168.000 orang muslim Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar karena tidak kuat menghadapi semua penyiksaan dan intimidasi yang menimpa mereka, belum termasuk mereka yang menjadi korban pembantaian yang belum sempat melarikan diri dari daerah tersebut. Etnis rohingya adalah etnis minoritas yang tidak pernah diakui keberadaanya oleh pemerintah Myanmar sejak kemerdakaanya dari inggris tahun 1948, padahal etnis muslim Rohingya tersebut lahir dan sudah tinggal dalam waktu yang begitu lama di daerah tersebut.
Sikap seolah diam dan membiarkan terhadap kondisi seperti ini dari Aung San Suu Kyi, sebagaii state consellor of Myanmar cukup membuat tidak hanya masyarakat muslim Indonesia, tapi warga dunia bahkan beberapa para pemimpin dan tokoh-tokoh dunia merasa geram dan kesal, seolah menyiratkan persetujuan atas tindakan militer yang tidak ber perikemanusiaan. Sebagai sosok yang seharusnya menginspirasi karena sebagai salah satu peraih nobel perdamaian, memperlihatkan bahwa reputasinya begitu jatuh dan tidak layak untuk mendapatkan award tersebut.
Setidaknya, ada beberapa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap saudara kita muslim Rohingya, diantaranya ; Diskrimasi Rasial, Pemerintah (Myanmar) dalam hal ini telah melakukan, diskriminasi terhadap etnis Rohingya didasarkan pada ras, etnis dan agama, mereka melaksanakan kebijakan Burmanisasi dan Budhanisasi  yang memarjinalkan warga muslim Rohingya. Slogan yang mungkin cukup popular dari mereka adalah “Arakan is for Rakhines, Arakan and Budhisme are synonymous. There is no Rohingya in Arakan, Drive them out to their country -Bangladesh”. Karena mereka tetap beranggapan bahwa warga muslim Rohingya ini adalah pendatang illegal dari Bangladesh.  sikap seperti ini tentunya melanggar ketentuan pasal 5 dari  International Convention on the Elimination of All Form of Racial Discrimination. Yang pada intinya tindakan-tindakan atau praktik diskriminasi harus dihilangkan, kesetaraan dan kesempatan serta  hubungan baik antar orang dari berbagai ras yang berbeda harus dijaga.
     Selain itu juga menyangkut diskriminasi atau kebebasan beragama bagi warga Muslim Rohingya, sejak juni 2012 saja hampir semua masjid di Ibu kota Arakan yaitu Sittwe/Akyab dihancurkan dan dibakar, dilarangnya membangun masjid dan madrasah disana, banyak masjid dan sekolah yang ditutup, dan melarang warga muslim Rohingya untuk beribadah di dalamnya. Ini sangat jelas adalah tindakan yang jahat dan tidak bisa di tolelir. Tindakan seperti ini menyalahi aturan dari Declaration of the Right of Persons Belonging to National of Ethic, Religion, and Linguistic Minorities, yang mana pada dasar nya eksistensi suatu identitas kebangsaan, agama dan budaya haruslah mendapatkan perlindungan, termasuk dalam menjalankan kehidupan beragama.
Yang ketiga menyagkut tidak diberikanya kewarganegaraan kepada warga Rohingya (stateless Persons). Etnis Rohingya sebagai kelompok minoritas etnis muslim yang telah tinggal berabad-abad di Myanmar keberadaanya tidak pernah diakui sebagai salah satu dari 135 etnis resmi di Myanmar selama bertahun-tahun. Mereka tinggal di Negara bagian pesisir Barat Rakhine yang merupakan salah satu kawasan termiskin di Myanmar. dari tahun 1962 mereka hanya di berikan tanda identitas sebagai penduduk asing dengan dibatasinya pendidikan dan pekerjaan mereka. hal ini melanggara beberapa ketentuan HAM internasional, Dalam Pasal 15 ayat 1 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) dikatakan bahwa  “ setiap orang berhak untuk berkewarganegaraan” dan dalam pasal 5 daro International Convention on The Elimination of All Forms of Racial Discrimination dikatakan bahwa Negara wajib menjamin hak dari warganya termasuk kewargan
yang selanjutnya menyangkut kejahatan kemanusiaan (crimes against humanity). Saat ini hampir tiap hari kita disungguhkan dengan berbagai pemberitaan dan tayangan mengenai kebrutalan militer yang menyiksa, membunuh bahkan membakar hidup-hidup saudara kita etnis muslim Rohingya. Walaupun ada beberapa yang hoax namun tidak bisa dipungkiri beberapa adalah benar-benar terjadi dan terkonfirmasi dari pernyataan beberapa warga Rohingya yang selamat melarikan diri dari wilayahnya dan mengungsi ke beberapa Negara terdekat. Adanya anggapan bahwa warga muslim Rohingya ini merupakan “a Threat to National Security”  menjadikan militer pemerintah seolah menghalalkan segala cara untuk mengusir, menganiyaya serta membunuh warga rohingya.
Hal-hal diatas adalah beberapa alasan dari begitu banyak alasan lain yang cukup untuk membuka hati nuratin dunia bahwa telah terjadi ketidak adilan terhadap penduduk minoritas muslim etnis Rohingya, Indonesia sebagai Negara dengan penduduk mayoritas muslim dan berada dekat dengan Negara Myanmar, sudah sepantasnya berusaha melakukan tindakan kongkrit untuk menghentikan hal ini, tidak sekedar ceremonial  tertulis yang berakhir dengan berjabat tangan tanpa hasil kongkrit.
Selain itu, kejadian yang meninmpa saudara muslim Rohingya ini sudah sepantasnya memunculkan kepedulian dan solidarisme dari muslim dunia dan Indonesia khususnya, islam mengajarkan persaudaraan universal.  Umat islam harus seperti apa yang di sampaikan oleh Rasulullah SAW “ …. Seperti jasad yang satu” jika saudara kita di Rohingya sedang kesulitan, maka wajib bagi kita untuk peduli, mendoakan, dan melakukan tindakan sesuai dengan cara, kapasitas dan kemampuan masing-masing. Saya katakana sekali lagi kepedulian dan tanggung jawab kita untuk menolong mereka dengan cara kita masing-masing adalah wajib ! jangankan kepada saudara yang muslim, kesesama manusia yang berbeda keyakinan dan agama pun kita wajib peduli saling membantu. Apalagi dengan yang seiman dan seakidah.
Apa yang terjadi terhadap saudara-saudara muslim Etnis Rohingya ini adalah Kejahatan kemanusaian dan Hak Asasi Manusia yang tidak bisa di biarkan dan di benarkan oleh siapapun dengan alasan apapun. Tindakan militer yang demikian brutal harus segera dihentikan, kepedulian dan solidaritas dari umat islam di negeri ini, masyarakat Indonesia, dan warga dunia pada umumnya adalah hal yang penting untuk bisa melepaskan saudara kita warga Rohingya dari berbagai belenggu yang mengerikan, sehingga mereka bisa menghirup udara bebas tanpa diskriminasi, intimidasi, dan kekerasan yang selama ini mereka alami baik dalam menjalankan agamanya maupun berkehidupan. []


Penulis : Kader IMM Cabang Depok