Perantau Modernis




Oleh  Riyan Betra Delza

Orang minang sangat terkenal dengan beberapa kebiasaannya salah satunya adalah tradisi merantau bagi anak laki-laki minang yang bertujuan untuk menambah pengalaman sekaligus mencari keberhasilan yang sering mereka sebut dengan ‘mambangkik batang tarandam. Ada pepatah minang yang mengatakan “karatau madang dihulu, babuah babungo balun, merantau bujang dahulu, dikampuang paguno balun”. Maksud  atau isi kandungan dari pepatah tersebut adalah, anak laki-laki perlu pergi merantau karena belum ada peran yang berarti dikampung halaman, kemudian isi dari pepatah tersebut adalah ketika sudah mempunyai rezeki lebih di rantau, diharapkan untuk selalu membantu kampungnya dengan mengirim sebagian hasil pendapatannya itu ke kampung halaman, dan kalaupun sudah mapan juga bisa pulang untuk membina rumah tangga, dengan melanjutkan tanggung jawabnya sebagai, ponakan dari pada mamaknya, dan mamak dari pada keponakannya.


Memang banyak peran yang harus dijalani oleh anak laki-laki di Minangkabau ini, oleh karena itu mencari ilmu dan pengalaman memang diprioritaskan pada para pemuda dan pemudinya. Seiring perjalan waktu budaya merantau memang masih eksis dan akan terus dilestarikan agaknya. Namun ada yang berbeda merantau dahulu dengan merantau pada sekarang ini, salah satunya adalah tujuan, dan kepeduliannya kepada kampung halamannya. Merantau bagi orang dahulu itu adalah sebagai media belajar, mencari jati diri  untuk meraih mimipi dan mewujudkan kemajuan untuk kampung halamannya kelak. Merantau tempo dulu juga bertujuan menguji ilmu yang sudah mereka dapatkan dikampung bisa atau tidaknya berkembang di masyarakat rantau.


Minangkabau tidak bisa dilepaskan dari Islam, dengan falsafah hidupnya yang “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah” akan selalu menjadi pondasi terhadap apa yang akan dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya merantau bagi orang minang dahulu adalah sebagai media pengaplikasian ilmu agama dengan mencoba menjalani hidup baru dilingkungan baru yang berbeda budaya, tapi tetap teguh memegang prinsip ke Islaman dalam bergaul, berbaur dan bertoleransi dengan sesama.


Sangat luar biasa sekali merantau tempo dulu yang menyuguhkan jutaan pengalaman, ilmu bermasyarakat sehingga dari proses-proses itu munculah pemuda-pemudi minang yang sangat visioner seperti, HAMKA, Bung Hatta, Tan Malaka, Sutan Syahrir, M. Yamin, M. Natsir, Usmar Ismail, Agus Salim, Imam Bonjol dan masih banyak lagi yang lain. Yang mampu membuktikan kiprahnya sebagai pemuda-pemudi terbaik Minangkabau dalam menjalani proses-proses kehidupannya.


Nah itu merantau tempo dulu , seiring berjalan nya waktu merantau sekarang juga sudah mengalami perububahan yang sangat signifikan, baik dari segi pola, tujuan dan lain sebagainya. Dalam hal ini saya memberikan istilah kepada perantau muda sekarang dengan sebutan perantau modernis, kenapa demikian.


Budaya merantau yang dijalani oleh pemuda-pemudi sekarang ini banyak sekali yang tidak pas dengan tujuan awal merantau bagi orang minang. Merantau yang dulu sebagai media pembelajaran kebijakasanaan sekarang ini lebih banyak kepada pelarian akan tanggung jawab, sebagai pelampiasan kebebasan yang selama ini di minangkabau sangat terkekang dengan adat, agama, dan budayanya yang kuat. Sehingga merantau sering disalah artikan dan cendrung dipakai sebagai media alternatif sebagai media penyalur syahwat kebebasan yang sangat menjerumuskan niat pemuda-pemudi mianangkabau.


Perantau modernis itu juga terkesan menjauhi agama dalam artian tidak sepenuhnya menjadikan agama sebagai sumber kehidupan dalam kesehariannya, dan tidak menjadikan agama sebagai temengnya berlindung dari godaan yang begitu dahsyat ketika merantau. Kemudian juga terkesan bersembunyi dari adat serta budaya mereka sendiri bahkan menutup-nutupi identitasnya sebagai orang minang, agar tidak dikatakan sebagai pemuda-pemudi yang ketinggalan zaman. Memang tidak semua, namun prilaku seperti itu hampir sama diterapkan oleh pemuda dan pemudi minang di daerah rantau. Akhirnya apa, dari proses yang terjadi atau yang mereka ikuti di daerah rantau tersebut akan melahirkan generasi-generasi minang yang sangat tercemar, baik dari segi akhlak, pengalaman maupun yang lain sebagainya.  


Nah ketika para generasi muda minang ini kembali ke ranah minang dengan keadaan merka yang sudah terkontaminasi modernisasi dalam artian yang negatif, mustahil mereka akan mampu “mambangkik batang tarandam” sebagai mana itu merupakan cita luhur dari merantau itu. Jangankan untuk “ membangkik batang tarandam” berdiri atas diri sendiri saja mereka tidak mampu untuk itu, bahkan seperti kehilangan identitas sebagai pemuda-pemudi minang.


Wajar saja sudah sangat lama Minangkabau tidak mencetak tokoh lagi, karena kontaminasi modernis itu telah mencemari jiwa pemuda-pemudi minang itu sendiri. Tidak hanya itu, dalam sistim adatpun pemuda-penudi minang tersebut juga sangat tidak menguasai, terbukti dengan hal-hal yang sudah tedrjadi seperti  memperjual belikan adat, misalnya jual beli gelar “Datuk”, praktisasi adat, dan lain-lain. Hal ini terjadi karena gagalnya mencari ilmu dimasa muda, dan juga gagal memahami makna merantau itu sendiri.


Walaupun demikian sudah saatnya kita kembali kepada Agama, adat, dan budaya dengan merawat makna serta melestarikannya secara kaffah kepada generasi muda, agar substansi dari Agama, Adat, budaya itu bisa dipahami sebagai anugerah yang akan membawanya kepada kesejahteraan yang hakiki.


Bersama-sama hendaknya bagi tokoh-tokoh minang, pemuka masyarakat, harus benar-benar bersinergi mengawasi, memberikan arahan tidak hanya dengan kata-kata saja, tapi harus di buktikan pada realita berkehidupan. Semoga merantau dapat menjadi sekolah pembelajaran kehidupan untuk mencetak para tokoh yang nantinya akan berguna bagi Agama, masyarakat, Nusa dan Bangsa.



Penulis : Ketua DPD IMM Sumatera Barat