Muhammadiyah, Antara Berkemajuan & Berkeunggulan


Oleh: Ahmad Jamaludin


Muhammadiyah salah satu Ormas Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Muhammadiyah juga memiliki tujuh organisasi sayap yang dikenal dengan organisasi otonom (Ortom) yakni; Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Tapak Suci Putra Muhammadiyah, dan Hizbul Wathon.

Selain itu, Muhammadiyah juga memiliki amal usaha (AUM) yang cukup banyak yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia, bahkan di beberapa negara. Misalnya, di bidang kesehatan, ratusan rumah sakit telah didirikan oleh Ormas ini. Di bidang pendidikan, ribuan sekolah dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi juga didirikan oleh Ormas ini. Demikian hal yang sama juga dilakukan oleh Muhammadiyah di bidang ekonomi, sosial, dan lainnya.

Sebab itulah, kehadiran serta peran Muhammadiyah dalam konteks pembangunan Indonesia memang tidak bisa dipandang sebelah mata apalagi dikesampingkan begitu saja, sangat nampak jelas bahwa Ormas ini memiliki kontribusi besar di setiap lini pun agenda pembangunan dan kemajuan hidup berbangsa dan bernegara.

Urusan Politik

Sementara itu, Muhammadiyah memang “tidak terlalu tampil” dalam urusan dan berbagai perkembangan serta dinamika perpolitikan nasional. Seperti yang pernah disampaikan mantan Ketua PP Muhammdiyah Syafii maarif, bahwa sepanjang pengetahuannya, Muhammadiyah belum pernah membicarakan secara khusus tentang masalah teologi politik. Sebab, Muhammadiyah memang tidak dirancang untuk mengurus politik kenegaraan sebagai bagian dari teologi.

Salah satu faktor kebertahanan dan keberhasilan Muhammadiyah dalam menjalankan misi pembangunannya yakni, atas kemampuan memelihara cita-cita luhur bapak pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan dan kemampuan Muhammadiyah dalam menjaga jarak dengan negara, kekuasaan, dan politik praktis.

Muhammadiyah menghindarkan diri dari keterlibatan langsung dalam urusan politik, baik politik negara, politik kepartaian, maupun politik kekuasaan. Meskipun hal tersebut menjadi pro-kontra dalam tubuh Persyarikatan, tetapi keluhuran cita-cita pendiri Muhammadiyah dan kenegarawan para pemimpin Muhammadiyah tak tergoyahkan.

Kemudian, dalam perkembangannya di tengah fluktuasi bangsa dan negara. Muhammadiyah tentu akan tetap menjadi penyokong negara dan mitra pemerintah dalam urusan kemasyarakatan, pendidikan, dan kemanusiaan. Namun, di tengah naik turunnya kehidupan saat ini, apakah Muhammadiyah akan tetap sebagai penyokong dan mitra saja? Atau akan mencoba bergerak lebih jauh dari sebelumnya? Jawabannya tentu, berngantung pada warga persyarikatan sendiri.

Mantan Ketua PP Muhammdiyah Din Syamsudin berharap, agar Muhammadiyah bisa menjadi organisasi Islam yang berkeunggulan. Saat ini sudah waktunya bagi Islam dan umat Islam menjadi lambang dan faktor keunggulan. Menurutnya, Muhammadiyah akan tetap pada apa yang sudah digagas sejak awal kelahirannya oleh KH. Ahmad Dahlan, yakni Islam Berkemajuan dan tidak ubah. Walau pada abad kedua ini diharapkan agak maju sedikit, bukan hanya Islam Berkemajuan, tapi juga Islam Berkeunggulan, kerena maju belum tentulah unggul.

Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi terbesar di Indonesia dan dunia sekalipun, memang harus selalu melakukan langkah-langkah yang lebih maju untuk memelihara dan meningkatkan pengabdiannya kepada Ilahi. Sebab itu, Islam dan umat Islam yang berkeunggulan akan dapat menjawab semua tantangan dan perubahan zaman di masa mendatang.

Akhirnya, semoga agenda-agenda Persyarikatan Muhammadiyah dalam rangka membangun dan meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa, bernegara, berumat, dan berkemanusiaan dapat terlaksana dengan penuh keikhlasan pengabdian, dan keberhasilannya dapat menjadi model bagi persyarikatan lainnya. []


Penulis : Ketua Umum IMM Tangerang Selatan