Fenomena Hoax dan Nalar Kritis Netizen (Dakwah Era Digital IMM)


Oleh : Imam Alfian
Hoax merupakan istilah "Kekinian" yang familiar di Media sosial. Yang mensifati konten informasi yang samar-samar ataupun Palsu. 
Semakin tak terbendungnya arus Informasi yang beredar di Media Sosial, maka Hoax pun semakin tidak terdeteksi dan terkendali bisa di ibaratkan seperti fenomena Gunung es, hanya 10 persen menyeruak ke permukaan namun fakta di bawahnya melebur berdampingan dengan Informasi-Informasi yang Benar. Kalau saya asumsikan perbandingannya 1 : 2 (Satu Berbanding dua)  satu Konten Informasi yang sesuai fakta Kebenaran di dampingi dua Konten Informasi yang Hoax. Bagi para warga net (Netizen)  yang memiliki tingkat filterisasi diri dalam bermedsos pasti tau bagaimana cara memilah konten yang benar dan hoax artinya masih melakukan tabayyun. Namun hal itu berbanding terbalik dengan netizen yang belum memiliki pemahaman soal konten Media antara yang benar dan Hoax. Tanpa pikir panjang setiap konten Informasi yang tersebar di medsos seluruhnya di anggap sebagai sesuatu yang benar, dianut kemudian di sebar luaskan.  

Hal ini seperti dalam penjelasan teori "Needle Hypodermic" Teori ini mengasumsikan bahwa media memiliki kekuatan yang sangat perkasa, dan komunikan  (Netizen)  dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa. Seorang komunikator dapat nmenambahkan peluru komunikasi yang begitu ajaib berdaya (pasif). Pengaruh media sebagai hypodermic injection (jarum suntik) didukung oleh munculnya kekuatan propaganda Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945). Memang teori ini menurut sebagian orang apalagi praktisi komunikasi merupakan teori yang terlampau klasik namun relevansinya dengan berhubungan dengan Fakta bahwa masyarakat Indonesia (Para Netizen) yang kurang mempuni pemahamannya soal Konten Media dari banyaknya Informasi yang terdapat di media sosial cenderung tak berdaya untuk memilah antara Berita atau Informasi yang benar dan yang Hoax. 

Penjelasan di atas seolah menjadi titik tolak berpikir saya yang mencurigai bahwa sebetulnya ada unsur kesengajaan, dalam hal ini Bahwa Berita Hoax itu sengaja di Kontruksi untuk membentuk mindset masyarakat kelas bawah yang masih belum memiliki filter dalam diri dari gencaran ribuan bahkan jutaan Berita Hoax dengan mempercayai dan melakukan Forward Shere kepada akun yang lain. 

Masyarakat Indonesia salah satu pengakses Media Sosial Tersebesar di dunia, mulai dari Tua, muda, anak Sekolahan SD sampai Perguruan Tinggi. Dengan segala latarbelakang Pendidikan, ekonomi ini meruapakan lahan subur penggiringan opini melalui Media Sosial. Seolah Fenomena Hoax ini bangian dari penyusupan terselubung untuk mengukur kelemahan dan ke rentanan masyarakat Indonesia terhadap Konten yang di lihatnya di dunia maya. 

Akses Internet bukan lagi barang mewah bagi masyarakat Indonesia. Hal ini patut di sadari bahwa pentingnya memfilter diri kita dari bahya Berita Hoax dengan cara memilah dan memilih Informasi yang layak dan kredibel untuk di konsumsi ataupun di shere ulang. Serta mampu kritis terhadap terpaan berita yang terdapat di dunia maya terutama di media sosial. 

Lantas bagaimana kita sebagai Kader IMM dalam Menyikapi persoalan Hoax ini. Tentu sebagai kader dengan dialektika keintelektualan harus kritis terhadap Informasi apapun dan dari manapun termasuk Media Internet. Artinya Kader IMM tidak boleh kaku terhadap perubahan teknologi Informasi. Ruang ruang ini perlu di isi dan disikapi secara sadar dan Logic.  Bukan menutup kemungkinan banyak juga kader IMM yang belum bisa membedakan Informasi antara yang Hoax dan yang benar dan kemudian di sebarkan. Hal ini tentu menjadi sindiran buat kita sebagai kaum Intelektual. 
Untuk mengapresiasi Kemajuan Teknologi Informasi IMM memiliki Bidang Media yang tugasnya mewartakan Aktivitas IMM sekaligus memberikan pemahaman yang benar soal Essential dan Etika Journalism. Bagaimana sikap kita dalam memanajemen terpaan Konten media yang didalamnya juga terdapat Infomasi Hoax yang berbanding 2 kali lipat dari Infomasi yang benar. Tentu ini bagian dari Dakwah amar makruf nahi munkar dalam Era Digital. 


Penulis : Ketua DPD IMM Papua/Aktivis Mahasiswa Papua