AMM Bersinergi Solusi atasi Krisis Kader



   Oleh :  Joko Triyanto,S.Kom.,M.Pd.I. 

Sudah selayaknya kita meneropong Muhammadiyah di masa yang akan datang. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, gerakan dakwah amar ma’ruf  nahi munkar dan gerakan tajdid tidak mungkin lepas dari upaya-upaya pewarisan kayakinan dan cita-cita hidupnya, pewarisan  kepribadiannya,  kepada generasi muda (AMM).


Generasi Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna amal dan perjuangan persyarikatan Muhammadiyah. Sejak awal kelahirannya usaha-usaha tersebut telah dilakukan sebagai bentuk sistem pengkaderan dengan kekayaan tradisi dan sibghoh persyarikatan Muhammadiyah. Sistem tersebut telah berjalan lebih dari satu abad, dengan berbagai dinamikanya, sebagai antisipasi atas perkembangan sejarah, ilmu, teknologi dan globalisasi. Untuk melangsungkan perjuangan persyarikatan Muhammadiyah membutuhkan Kader, bukan sekedar kader penerus saja namun yang di butuhkan adalah kader pelopor, penerus sekaligus penyempurna perjuangan Muhammadiyah.


Tidak bisa di pungkiri akhir – akhir ini pimpinan persyarikatan Muhammadiyah Semakin semangat, bahagia sekaligus gelisah, melihat Amal Usaha Muhammadiyah yang berkembang begitu pesat dari ranting, cabang, daerah, wilayah hingga luar negeri, disisi lain mengalami kriris Kader, memang banyak sekali yang berebut menjadi Kader Penerus, namun sangat sedikit Kader penerus sekaligus Pelopor dan penyempurna amal perjuangan Muhammadiyah. Kegelisahan tersebut melahirkan sistem pengkaderan yang kita kenal dengan istilah 4 Pilar Perkaderan Muhammadiyah. Empat pilar sebagai penopang perkaderan yang dimaksud diantaranya yaitu Perkaderan Organisasi Otonom (ortom), Perkaderan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), Perkaderan Pimpinan dan Perkaderan Keluarga. Dalam tulisan ini saya hanya akan menyinggung  satu pilar perkaderan saja yaitu pilar perkaderan organisasi otonom (ortom).


Satu pilar perkaderan organisasi otonom yang meliputi Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah (PM), Nasyiyatul Aisyiyah (NA), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM), Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (GKHW). Muhammadiyah sebagai Bapak dan Aisyiyah sebagai Ibu dari Angkatan Muda Muhammadiyah (PM, NA, IMM, IPM, TSPM, GKHW) sudah sewajarnya memperhatikan dan membimbing perjalanan dan perkembangan organisasi otonom tersebut. 
 
 
Angkatan Muda Muhammadiyah atau yang kita Kenal AMM tersebut telah terbukti sebagai satu-satunya pilar perkaderan yang mampu menjadi kader Penerus sekaligus pelopor dan penyempurna amal perjuangan persyarikatan Muhammadiyah tercinta. AMM yang mempunyai wewenang sebagai organisasi otonom mempunyai hak sendiri untuk mengatur dan mengelola perkaderan sesuai kebutuhannya masing-masing. Dan sistem tersebut sudah berjalan setengah abad lebih atau sesuai usia ortom.

AMM Sangat berjasa atas perkembangan Muhammadiyah dari ranting hingga Pusat. Banyak daerah yang tadinya belum ada Muhammadiyah setelah kehadiran AMM akhirnya berdiri PRM, PDM secara legal formal hampir merata di seluruh Bumi Nusantara, bahkan ada dua ortom yakni Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang telah mengepahkan sayap dakwah hinga ke mancanegara  dangan mendirikan banyak Cabang Istimewa TSPM dan IMM di luar negeri. Itu artinya AMM mampu menjadi kader andalan Muhammadiyah dari tingkat akar rumput, ranting, daerah, wilayah, pusat hingga kancah internasional. 
 
Berbicara kader penerus persyarikatan saat ini hampir semua level pimpinan ranting hingga pusat Muhammadiyah adalah alumni AMM (PM, NA, IMM, IPM, TSPM, GKHW) beberapa contoh jajaran PPM  seperti Haedar Nasir, M.Si.(alumni IPM), Prof. Yunahar Ilyas (alumni IMM), Hajriyanto Y Tohari (alumni PM), Dahlan Rais,M.Hum (alumni IPM dan IMM), Noorjanah Djohantini,MM (alumni IPM) ; jajaran PWM  Jateng, Tafsir,M.Ag ( alumni IMM), Bysron Muhctar,M.Si (alumni IMM) ;  dan masih banyak contoh yang lain. Kader  Ummat banyak kader AMM setalah dididik di ortom memilih jalur kultural dan tidak di struktur Muhammadiyah, contoh Prof. Ahmad Mansur Surya Negara ( alumni IMM, penulis api-api sejarah). Kader bangsa dan Negara contoh Prof. Amin Rais mantan Ketua MPR RI (alumni IMM), Hajriyanto Y Thohari mantan  DPR RI (Alumni PM) dan masih banyak lagi contoh yang belum bisa penulis tulis secara lengkap.

Apabila mau menyadari, untuk merawat dan menjaga eksistensi Muhammadiyah di muka bumi ini betapa penting dan dahsyatnya kehadiran AMM tersebut dalam rangka menjadi kader penerus, pelopor, dan penyempurna perjuangan dakwah persyarikatan Muhammadiyah. Memang sampai saat ini Muhammadiyah belum mampu menjamah kesemua Kecamatan, Kelurahan/PCM dan PRM belum terbentuk hingga tinggat di bawahnya (GJDJ). Sehingga pada muktamar ke 46 Muhammadiyah berdirilah Lembaga pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Muhammadiyah yang di ketuai oleh Dr. Phil. Ahmad Norma Permata (Alumni TSPM dan IMM). Peran aktif AMM diatas tidaklah boleh membuat kita terlena,  pada kenyataannya masih banyak pimpinan yang mengatakan kekurangan kader. 
 
Untuk menjawab persoalan krisis kader tersebut maka saya mengusulkan AMM untuk bersinergi, karna saat ini yang saya lihat proses dan sistem perkaderan di masing-masing ortom masih belum bersinergi alias jalan sendiri-sendiri, bahkan seolah-olah ada beberapa antar ortom saling bersaing menganggap dirinya paling hebat. Seharusnya Antar ortom saling bersinergi, karena masing masing ortom mempunyai tupoksi sendiri untuk bergerak semisal PM dikepemudaan, NA di Kepemudian, IMM di Kemahasiswaan, IPM di pelajar, TSPM di pencaksilat, GKHW di Kepanduan. Dan harus bersinergi dalam diaspora perkaderan yaitu saat pelajar di IPM setelah itu di IMM selanjutnya yang Putera lanjut di PM , yang puteri lanjut di NA begitupula yg mempunyai bakat di pencaksilat masuk TSPM dan yg senang kepanduan di GKHW, karena pada dasarnya semua adalah kader Muhammadiyah. Dan setelah semua perkaderan ortom selesai dan matang pada waktunya masuklah di Pimpinan Muhammadiyah baik secara struktural maupun kultural.
 

Sinergitas antar ortom AMM tersebut sudah pasti mampu menjawab kegelisahan Bapak Muhammadiyah dan Ibu Aisyiyah atas pernyataan “Muhammadiyah Krisis Kader?”. Namun, semua ortom AMM tidak akan berjalan dengan sesuai rencana apabila tanpa Bimbingan dan dorongan dari Bapak Muhammadiyah dan Ibu Aisyiyah, begitu sebaliknya. Karna bagaimanapun Muhammadiyah sangat membutuhkan Kader andalan, kader penerus, pelopor dan Penyempurna. Harapannya dengan bersinerginya AMM mampu mengatakan bahwa Muhammadiyah tidak pernah kekurangan Kader dan Muhammadiyah ke depan dalam kondisi apapun akan tetap kokoh berdiri dan terus melebarkan sayap dakwah keseluruh bumi nusantara dan kancah internasional. Jayalah Muhammadiyahku. []

 
 
Penulis : (Ketua DPD IMM Jawa Tengah Bidang Tabligh dan Kajian KeIslaman)