Akuilah Kami Sebagai Manusia





Oleh : Ayu Nur Kumala Sari 

Krisis kemanusiaan kembali melanda etnis Rohingya di Myanmar. Berlari kesana-kesini penuh ketakutan. Tak memiliki identitas kewarganegaraan menjadi alasan. Sungguh ironi melihat tragedi kemanusiaan muslim rohingya. Tidak memiliki akses seperti halnya manusia pada umumnya. Selain itu, ruang gerak geografis yang dibatasi. Pilu ketika melihat anak anak kecil rohingya yang seharusnya berlari karena bermain, tetapi mereka berlari karena ketakutan dan di saat manusia lain tertidur lelap sepanjang malam tetapi muslim rohingya menjaga satu sama lain. Jika sewaktu-waktu praktik genosida yang dilakukan pemerintah Myanmar kembali mengancam jiwa.

Penegakan hukum dan keamanan yang dilakukan oleh otoritas Myanmar sangat tidak proposional dengan insiden yang terjadi. Hal ini berakibat banyak etnis Rohingya kehilangan nyawa dan terlantar dari Myanmar.

Dimana peran pemerintah Myanmar yang disebut mendapatkan hadiah penghargaan nobel perdamaian itu? Dimana peran bangsa dunia dan ASEAN yang seharusnya melindungi? Sekan dunia buta dan tuli akan tragedi ini. Dunia lupa kalau muslim rohingya juga manusia, setidaknya negara-negara ASEAN perlu mempertimbangkan untuk memberikan sanksi terhadap negara Myanmar. Jika konflik dibiarkan berlarut-larut akan semakin rumit konflik tersebut sementara warga muslim biasa hanya akan menjadi korban.

Publik mempertanyakan pemberian nobel perdamaian yang disandang Aung San Suu Kyi sebagai aktivis HAM karena telah membela rakyatnya. Akan tetapi, ketika muslim Rohingya sedang dilanda krisis kemanusiaan Suu Kyi hanya diam dan seakan membiarkan konflik tersebut terjadi.

Sebaiknya lembaga pemberi nobel di Oslo, Norwegia harus mengadakan evaluasi bahkan mencabut hadiah nobel perdamaian tersebut. Publik sangat mengecam tindakan kebiadaban tersebut, mendorong komunitas internasional khususnya ASEAN untuk mengembargo baik secara diplomatik maupun ekonomi dan berharap pemerintah Indonesia dapat segera mengambil langkah konkrit dalam menangani kasus ini. Sudah sepatutnya Indonesia yang dijuluki negara dengan muslim terbanyak di dunia ikut andil dalam kasus ini dan tidak menjadi apatis. Jangan sampai kita memiliki mulut tetapi seakan bisu,  memiliki telinga tetapi tidak mau mendengar dan memiliki mata seakan tidak melihat. []

Penulis : Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Cirendeu/ S1 Universitas Muhammadiyah Jakarta