TANTANGAN DAKWAH IMM


Muqoddimah

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.
Istilah dakwah dalam kalangan umat Islam sangat populer bahkan telah menjadi kewajiban tiap-tiap muslim secara menyeluruh untuk menyerukan Islam sebagai Agama Rahmatan lil ‘alamin baik dalam bentuk mengajak, mengingatkan ataupun menasehati umat manusia agar kembali kepada jalan kebenaran dan kebaikan. Umat Islam yang dimaksud adalah yang termasuk dalam kategori (mukallaf) individu yang sudah bisa dikenai beban tanggung jawab dan (mumayyiz) individu yang telah mampu membedakan antara yang benar dan salah, serta antara baik dan buruk.

Dakwah dapat dipahami dengan dua pengertian yakni pengertian etimologi dan terminologi. Secara etimologis, dakwah berasal dari bahasa Arab “دعوة” dari kata دعا- يدعو yang berarti “panggilan”, “ajakan” atau “seruan”. Ism Fa’il-nya ialah da’i/da’iyah (mufrad) dan du’at (jama’).

Dalam kamus Lisan Al-‘Arab, Ibnu Manzhur mengatakan : du’at adalah orang-orang yang mangajak manusia untuk bersumpah-setia (bai’at) pada petunjuk atau kesesatan. Bentuk tunggalnya adalah da’i atau da’iyah, yang artinya orang yang mengajak kepada agama atau bid’ah. Dalam kata da’iyah, huruf “ha” berfungsi sebagai mubalaghah (superlatif). Nabi SAW juga disebut sebagai da’i Allah SWT. Demikian pula seorang mu’adzin disebut sebagai da’i, dan Nabi SAW adalah da’i umat atau yang mengajak mereka kepada tuhidullah dan taat kepada-Nya.

Pengertian di atas, memberikan kepahaman bahwa istilah da’i dan da’iyah bermakna orang yang tidak hanya mengajak kepada petunjuk kebaikan tetapi juga da’i atau da’iyah dapat bermakna orang yang mengajak kepada kesesatan. Dalam haditsnya, Rasulullah saw bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
Artinya: “Dari Abu Hurairoh Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang mengajak menuju hidayah maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tapi tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka. Barangsiapa yang mengajak menuju kesesatan maka dia mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tapi tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka” (HR. Muslim no. 2674)

Secara spesifik, Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jawziyah menjelaskan bahwa setiap Da’i memiliki ciri khasnya sendiri, tergantung pada apa yang didakwahkannya. Ketika kata tersebut disandarkan kepada lafdz al-jalalah (الله) sehingga menjadi “داعي الله” maka ia mengandung spesifikasi makna dan aksentuasi tersendiri; yakni para da’I yang khusus menyeru kepada agama Allah SWT, beribadah kepada-Nya, ma’rifat serta mahabbah kepada-Nya. Mereka itu adalah “khawwash khalqillah” (makhluk Allah SWT yang istimewa), termulia dan tertinggi kedudukan dan nilainya di sisi Allah SWT. Sementara itu, Syaikh Jum’ah Amin Abdul Aziz, memahami kata da’i ketika disandarkan dengan lafadz al-jalalah (الله)  atau da’i ilallah adalah orang yang berusaha untuk mengajak manusia, dengan perkataan dan perbuatannya, kepada Islam, menerapkan manhajnya, memeluk akidahnya serta melaksanakan syariatnya.

Dalam perkembangannya dakwah diidentikan dengan seruan atau ajakan yang positif. Dakwah dipahami sebagai seruan ataupun ajakan kepada segenap umat manusia untuk mengenal dan memahami hakekat Islam, menyerukan kebaikan agar tercipta perubahan yang mendasar dan terlaksananya kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat, maka perlu usaha-usaha yang terorganisir dan tertata dengan baik sehingga tujuan yang diharapkan dapat terwujud secara menyeluruh. Hal tersebut, dalam karyanya Thayyib Barghust yang diberi judul “Manhaj Al-Nabiy fi Himayat al-Dakwah”, dakwah didefinisikan sebagai Sebuah kerja keras yang sistematis dan terstruktur bertujuan untuk mengenalkan hakekat Islam kepada semua manusia; melakukan sebuah perubahan yang mendasar dan seimbang dalam kehidupan mereka dengan jalan menunaikan segala kewajiban kekhalifahan untuk mencari ridla Allah dan menggapai kemenangan yang dijanjikan-Nya kepada orang-orang yang shalih dalam kehidupan akherat.”

Menurut Prof. H M Amien Rais, “Dakwah pada pokoknya berarti ajakan atau panggilan yang diarahkan pada masyarakat luas untuk menerima kebaikan dan meninggalkan keburukan. Dakwah merupakan usaha untuk menciptakan situasi yang lebih baik sesuai dengan ajaran Islam di semua bidang kehidupan. Dipandang dari kacamata dakwah, kehidupan manusia merupakan suatu kebulatan. Sekalipun kehidupan dapat dibedakan menjadi beberapa segi, tetapi dalam kenyataan kehidupan itu tidak dapat dipisah-pisahkan.”

Istilah lain yang biasa dijumpai dalam menyerukan dan menyampaikan risalah Islam adalah kata Tabligh, yang dalam pandangan Fiqh pada dasarnya mengandung makna yang sama dengan dakwah. Jika ditinjau dari asal katanya, Tabligh berasal dari bahasa arab تبليغ sebagai bentuk masdar dari  ballagha – yuballigh (بلَّغَ – يُبَلِّغُ) artinya menyampaikan. Fiil (kata kerja) بلّغَ merupakat bentuk mazid (pengembangan) dari kata kerja asli (mujarrad) “بَلَغَ – يَبْلُغُ” yang berarti sampai. Bentuk mujarrad merupakan fiʿil lazim (intransitif) dan pengembangannya (mazid) menjadi fiʿil mutaʿaddī (transitif). Adapun isim faʿiln-ya مُبَلِّغٌ (muballigh) yang berarti orang yang menyampaikan suatu pesan agar sampai kepada sasaran yang dituju. Istilah tabligh ini dapat dalam Al-Quran surah ali Imran ayat 20 yang berbunyi:
فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَاد....
Terjemahnya: “....Apakah kamu (mau) masuk Islam". jika mereka masuk Islam, Sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, Maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya”.

Dalam beberapa ayat Al-Quran juga menegaskan tentang tugas Nabi dan Rasulullah sebagai penyampai ajaran Allah Swt, tidak kemudian diharuskan memaksa umat manusia untuk menjalankan ajaran-ajaran Allah swt. Sebagaimana yang dikemukakan dalam Al-Māidah: 92, 99; al-Raʿdu: 13; Al-Naḥl: 35, 82; Al-Nūr: 54; Al-ʿAnkabūt: 18; Yasin: 17; Al-Syūra: 48; Al-Taghābun: 12.

Dalam implementasinya, tabligh merupakan bagaian yang terpenting dan merupakan tahapan pertama dalam berdakwah. Hal ini, sebagaimana dikemukakan oleh Buya Yunahar Ilyas bahwa tabligh merupakan salah satu tahapan dari lima tahapan (marhalah) dakwah: (1) marhalah tabligh, penyampaian pesan, (2) marhalah ta’lim, pengajaran, (3) marhalah takwin, pembinaan, (4) marhalah tanzhim, pengorganisasian dan (5) marhalah tanfidz, pelaksanaan.

Dakwah dan Tabligh saling berkaitan erat dan pada hakekatnya memiliki makna yang sama. Pada wujud aktualisasinya, tabligh menjadi tahapan yang terpenting dalam berdakwah sebelum tahapan-tahapan yang lainnya. Sebagai tahapan, tabligh tidaklah berdiri sendiri, oleh karena itu, diperlukan sinergisitas dengan tahapan-tahapan yang lain agar tujuan dan cita-cita dalam berdakwah dapat terwujud secara kaffatan.  Untuk mewujudkan sinergisitas yang baik maka dakwah harus terorganisir secara teratur dan matang dalam perencanaan materi dan pelaksanaannya.
Tantangan Dakwah IMM
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.

IMM memahami dakwah sebagai seruan atau ajakan menuju keinsafan atau ikhtiar yang dilakukan untuk mengubah situasi dari yang buruk menjadi situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap diri sendiri, individu yang lain maupun masyarakat secara umum. Perwujudan dakwah IMM bukan sekadar usaha peningkatan pemahaman keagamaan dalam tingkah laku dan pandangan hidup saja, tetapi juga menuju sasaran yang lebih luas. Apalagi pada masa sekarang ini, dakwah IMM harus lebih berperan menuju kepada aktualisasi ajaran Islam secara kaffatan dalam berbagai aspek kehidupan. Pada kenyataannya dalam mendakwahkan Islam, IMM senantiasa menjumpai berbagai kendala dan tantangan. Realitas dakwah Islam menjadi problem keagamaan yang krusial dan terkadang dilematis.

IMM sebagai eksponen Persyerikatan Muhammadiyah turut serta dalam mengikhtiarkan kehidupan yang lebih baik dan turut mengemban misi keummatan dan keagamaan. Oleh karenanya, IMM sejak berdirinya telah mengikrarkan tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh segenap kadernya. Religius, Intelektual dan Humanis merupakan ciri khas yang harus terinternalisasi dan terimplementasi dalam pola tingkah laku dan karakter kader IMM. 

Tri kompetensi dasar IMM ketika diintegrasikan dalam bentuk praksis gerakan dakwah maka sasarannya adalah gerakan keagamaan, gerakan kemahasiswaan dan gerakan kemasyarakatan. Ketiga trilogi gerakan tersebut, merupakan fokus perhatian IMM sejak kelahirannya. Oleh sebab itu, konstenrasi gerakan dakwah IMM diarahkan dan dituntut mampu untuk membumikan nilai-nilai ajaran Islam yang menyeluruh pada bidang keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan. Sebagaimana amanah 6 penegasan IMM yang disahkan oleh KH. Ahmad Badawi kala itu. 

Pola gerakan dakwah pada trilogi gerakan IMM, tidaklah berjalan semulus yang diharapkan. Masih banyak dijumpai dinamika yang menjadi tantangan dan hambatan dalam proses pengimplementasiannya, baik tantangan yang muncul dari internal maupun eksternal. Kita pahami bahwa tantangan dakwah semakin hari semakin kompleks seiring perkembangan zaman. Tantangan yang dihadapi IMM menyasar masuk pada ketiga ranah gerakan yang diusungnya. Berikut klasifikasi tantangan dakwah IMM pada bidang gerakannya di era kekinian:

  1. Tantangan pada aspek keagamaan (Dakwah Religiusitas).
Problematika ke-Islaman masa kini merupakan tantangan besar IMM yang harus dirumuskan solusinya. Bentuk ke-syirikan modern merupakan bagian dari tantangan yang telah merusak aqidah dan akhlak serta telah merasuk dalam kehidupan individu maupun sistem kehidupan bermasyarakat. Timbul pertanyaan, apakah Islam sudah tidak mampu lagi menjadi solusi ataukah Islam sudah ketinggalan zaman..?. tentu jawabnya adalah tidak. Kenapa demikian, karena Islam adalah seperangkat aturan yang dibuat oleh Allah SWT yang bersifat universal dan sesuai dengan perkemabangan zaman,yang juga diyakini mampu menjawab segala bentuk problematika kekiniaan. 

Ungkapan sahabat Nabi “Al Islam Mahjubun bil muslimin” seolah merupakan realitas yang tidak dapat dipungkiri kebenarannya. Tantangan yang menjadi perhatian IMM dalam mendakwahkan Islam dapat dilihat dari banyaknya fenomena yang nampak dalam keberagamaan umat Islam saat ini, baik dari sisi aqidah, ibadah maupun akhlak dalam bermuamalah duniawi. Sebagai contoh konkrit misalnya, kesyirikan, tahayyul, bid’ah dan khurafat dan sejenisnya masih menjadi bagaian dari kepercayaan sebagian umat Islam. Dalam hal beribadah misalnya tidak sedikit umat Islam enggan melaksanakan ibadah Maghdah (Ibadah khusus), seperti Shalat, puasa serta kewajiban lain yang diperintahkan oleh Allah SWT. Al-Qur’an yang seharusnya sebagai pedoman dan penuntun seorang hamba, telah ditinggalkan, dijadikan hiasan dinding atau tersimpan rapi di dalam lemari. Oleh karena itu, tugas mendakwahkan Islam dalam menyerukan Islam sebagai dinul salamah, agama keselamatan dan agama kebenaran harus menjadi bagian dari tugas dan tanggung jawab IMM.

Selain itu, maraknya fitnah dan serangan dari orang-orang yang tidak senang dengan Islam, baik dilakukan dengan terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi merupakan tantangan dakwah IMM dalam misinya membumikan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Umat Islam seolah diadu satu sama lain sehingga menimbulkan saling curiga, fitnah dan saling benci hingga berpangkal pada saling mengkafirkan antara satu golongan dengan golongan lain.

Fenomena keagamaan di atas, telah menggambarkan buruknya keberagamaan umat saat ini. Oleh karena itu, IMM memiliki tanggung jawab akan kelangsungan dakwah ke-Islaman guna memberikan pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah al-maqbulah secara komprehensif, baik secara tekstual maupun kontekstual kepada kader-kadernya, juga kepada masyarakat secara umum. Pemahaman terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah tersebut, harus dimiliki oleh segenap kader IMM, tidak hanya memahaminya secara tekstual saja tetapi lebih dari itu, kader IMM harus mampu mengelaborasi dan mengekspolarasikannya secara kontekstual (kekinian) sehingga Al-Qur’an dan As-Sunnah benar-benar hadir sebagai solusi terhadap banyaknya persoalan-persoalan keumatan dan keagamaan. Di samping itu, dalam tugas dakwah ke-Islaman ini, IMM harus berkomitmen untuk memurnikan ajaran Islam dari Takhayyul, Bid’ah, dan Khurafat. Sebagaimana misi awal lahirnya Muhammadiyah. Perlu diketahui, tidak mudah memberantas “penyakit agama” di atas, oleh karena itu, IMM harus mampu mencari formulasi dan strategi dakwah baru yang lebih rasional dan kontekstual. Dalam konteks paham keagamaan, IMM harus menjadi benteng penjaga Aqidah umat, yang mulai tergoyahkan dengan hadirnya kembali paham-paham keagamaan yang cenderung jauh melenceng dari ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah, maupun paham agama yang kemunculannya terbilang baru yang juga tidak sesuai dengan ajaran yang diyakini oleh Islam.

  1. Tantangan pada aspek Kemahasiswaan (Dakwah Keilmuan)
Kampus sebagai dunia akademik tentunya memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mendidik sumber daya manusia baik pada aspek keilmuan maupun pada aspek pembentukan karakternya. Mahasiswa sebagai sumber daya manusia yang dipersiapkan oleh dunia akademik dibekali dengan tri dharma perguruan tinggi. Dengan tri dharma tersebut, diharapkan mahasiswa yang ditelurkan mampu menjadi agen of change, agen of control social dan agen of intelektual. Ketiga fungsi ini harus mampu diperankan oleh mahasiswa sebagai bentuk tanggungjawab keilmuan dan soisal, sebab mahasiswa adalah elemen  masyarakat yang terpelajar. Dinamika kehidupan kemahasiswaan tidak terlepas dari dinamisasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang senantiasa berkembang tanpa henti. Perkembangan IPTEK membentuk karakter yang berbeda-beda pada mahasiswa. Dari sudut pandang positif, misalnya, IPTEK menjadikan mahasiswa lebih matang dalam keilmuan, memiliki kemampuan literasi, membudayakan riset-riset ilmiah dan berkompetisi secara sehat dalam meraih prestasi. Sedangkan dari sudut pandang negatif, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga menjadikan mahasiswa berpikir instan, konsumeristik dan cenderung acuh tak acuh terhadap persoalan sosial, menjauhkan diri dari interaksi sosial kemasyarakatan, sikap individualistik, hedonistik dan pragmatis. Efek negatif tersebut telah menjadi penyakit laten yang melanda aktifitas mahasiswa saat ini. Fenomena tersebut, juga bagian dari tantangan dakwah IMM di dalam lingkungan kampus sebagai basis gerakan dakwahnya dalam rangka mengintegrasikan keilmuan Islam dan menginternalisasikanya dalam pola tingkah laku dan perkataan. Adapun secara spesifik, yang menjadi tantangan dakwah IMM di lingkungan kampus adalah:
  1. Sistem akademik yang terkadang menguntungkan struktrual-birokrasi
  2. Kultur-sosial mahasiswa, seperti hidup pragmatis, materialisme, naturalisme, hedoninsme, ataupun adanya ketersaingan dosen dengan mahasiswa dan masyarakat, dll.
  3. Orientasi pendidikan yang cenderung dikotomis (non-islmai).
  4. Adanya percaturan berbagai macam ideologi dan pemikiran yang cenderung sekuler dan liberal (ghowzul fiqri).
  5. Mesjid-mesjid kampus tidak lagi menjadi basis gerakan IMM.
  6. IMM mulai kriris kader dakwah
  7. Aktivitas dakwah IMM mulai bergeser.

Kompeensi Religius IMM dalam makna yang paling mendasar adalah bagaimana menerjemahkan gerakan amar makruf nahi munkar minimal di lingkungan mahasiswa di mana IMM berada. Dakwah di lingkungan mahasiswa yang dihadapi IMM sejak kelahirannya mempunyai karekteristik dan tantangan yang khas dari waktu ke waktu. IMM sebagai gerakan yang berbasis kemahasiswaan dan keilmuan menaruh perhatian besar dan sekaligus memiliki tanggungjawab dalam mencetak  kader-kader da’i dan mubhaligh kampus, berperan penting dalam pengembangan sumber daya intelektual, perbaikan karakter mahasiswa yang memiliki kepekaan dan keshalehan sosial terlebih pada kader-kadernya. Disamping itu, seorang kader IMM mestinya mengasah khazanah keilmuannya sesuai dengan disiplin ilmunya agar kompetensi keilmuannya tidak bias praksis. Oleh karenanya, dakwah keilmuan IMM harus menjadi bagian dari gerakan yang terencana, terstruktur dan sistematis sehingga terbentuk kader-kader intelektual yang spirit keilmuan terbingkai oleh spiritualitas yang kokoh.

Seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini, terkadang membuat akal manusia berpikir dan bertanya melampui kapasitasnya sehingga tidak jarang muncul pemikiran-pemikiran ke-Islaman yang liberal dan sekuler bahkan sampai pada tingkatan ateisme. Jika hal ini dibiarkan maka tidak menutup kemungkinan akan merambat ke tubuh IMM itu sendiri. Tidak menafikan kemerdekaan berpikir kritis kader tetapi mengharapkan kader IMM dalam semangat keilmuannya harus terbingkai dalam religiusitas yang kuat. Jika ilmu tidak dibingkai dengan Iman maka benarlah apa yang dikatakan oleh Nurcholis Majid bahwa Ilmu membuat orang cerdas dalam berbuat, namun tanpa bimbingan iman, justu ilmu akan menjadi malapetaka buat dirinya sendiri bahkan lebih celaka dari orang tidak berilmu. Demikian sebaliknya, Iman menjadikan orang berbuat kebaikan, tetapi jika imannya tidak dibarengi dengan ilmu maka imannya tidak menjamin kesuksesan buatnya. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan “agama tanpa ilmu buta, ilmu tanpa agama hampa”.

Oleh karena itu, dakwah keilmuan IMM dimaksudkan untuk mengintegrasikan nilai-nilai ajaran Islam dalam disiplin ilmu yang menjadi pilihan kader-kader IMM. Dengan demikian, kader IMM yang kokoh Imannya diharapkan semakin semangat menuntut ilmu. Sebaliknya, semakin banyak ilmunya maka diharapkan semakin kuat dan tebal Imannya. Allah swt sangat menjamin hamba-hamba-Nya yang berilmu dibarengi Iman yang kokoh dengan meninggikan derajatnya (lihat QS. Al-Mujadilah [58]: 11).  

  1. Tantangan pada Aspek Kemasyarakatan (Dakwah Humanitas)
Kemajuan di bidang teknologi yang muncul akibat globalisasi telah mencipta kultur kehidupan yang lebih modern dan memberikan dampak positif dan dampak negatif. Dampak ini telah membentuk kultur sosial masyarakat yang berbeda. Dampak positif dapat  meningkatnya keragaman budaya dengan tersedianya informasi yang menyeluruh sehingga memberikan orang kesempatan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan yang dimilikinya menjadi lebih produktif dan bernilai guna. Sementara pada efek negatifnya, kemajuan teknologi akan berbahaya jika berada pada orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Meraka dapat menggunakan teknologi untuk tujuan-tujuan yang deskruktif dan mengkhawatirkan. Efek negatif tersebut, telah tampak di depan mata dan bahkan telah menjadi realitas dan konsumsi sehari-hari yang dipertontonkan melalui media elektronik maupun media massa. Banyak kasus-kasus kriminal dan kejahatan lainnya terjadi karena faktor penyalahgunaan teknologi tersebut.

Perkembangan teknologi merupakan ciri masyarakat modern yang obsesi keduniaannya tampak lebih dominan ketimbang spiritualnya. Oleh Sayyed Hossein Nasr, berpandangan bahwa manusia modern dengan kemajuan teknologi dan pengetahuannya telah tercebur ke dalam lembah pemujaan terhadap pemenuhan materi semata namun tidak mampu menjawab problematika kehidupan yang sedang dihadapi. Menurut Nashr, manusia barat modern memperlakukan alam seperti pelacur dengan cara menikmati dan mengeksploitasi alam demi kepuasan individu tanpa rasa kewajiban dan tanggung jawab apa pun. Kehidupan masyarakat modern lebih memper-Tuhankan materi dan mengebaikan kebutuhan yang paling mendasar yang bersifat ilahiah (Spritual). Sehingga masyarakat yang hidup dengan kultur seperti ini amat sulit menemukan ketentraman batin sebagai penyeimbang dalam dirinya.

Beberapa problematika kehidupan masyarakat yang menjadi tantangan IMM dalam gerakan dakwahnya, adalah sebagai berikut:
  1. Adanya pengeruh globalisasi yang massif
  2. Pendangkalan Aqidah dan kemerosotan akhalak atau moral.
  3. Desintegrasi Ilmu pengetahuan
  4. Kepribadian masyarakat yang terpecah dan cenderung individualistik dan konsumeristik
  5. Penyalahgunaan IPTEK
  6. Kesenjangan ekenomi dan sosial masyarakat
  7. Keadilan dan kesejahteraan sosial yang tidak merata.
  8. Kehilangan kepercayaan diri dan masa depannya.

Mencermati fenomena di atas, Dakwah IMM disetiap level kepemimpinan harus mampu dijabarkan sebagai gerakan pembebasan dari berbagai bentuk eksploitasi penindasan dan ketidakadilan dalam semua aspek kehidupan. Sebab dari sanalah akan terbentuk masyarakat yang memiliki kecanggihan transformasi sosial dan kemampuan untuk meningkatkan taraf hidup lebih baik. Untuk itu, dalam rangka melahirkan masyarakat humanis dimana masyarakat berperan sebagai subyek dan bukan objek, dibutuhkan munculnya da’i Ikatan yang partisipatif dan mampu memfasilitasi masyarakat untuk memahami berbagai persoalan yang dihadapinya, menyatakan pendapat, merencanakan prospek di masa yang akan datang, dan mengevaluasi dan menfilter dengan bijak perkembangan global. Karakteristik dakwah tersebut ditandai dengan hubungan yang terbuka dan saling menghargai antara da’i dan masyarakat. Da’i atau mubhaligh Ikatan harus memahami masyarakat dan beragam pengalamannya, seorang da’i tidak kemudian harus memaksakan persepsinya. Materi dakwah juga menjadi penting untuk menjadi perhatian seorang da’i atau mubaligh Ikatan. Materi yang bermuatan motivasi akan mendorong masyarakat untuk meningkatkan kesadaran kritis dalam memandang persoalan kehidupan serta merasa memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan.

IMM sebagai elemen masyarakat terpelajar yang dituntut untuk mengabdikan dirinya di tengah-tengah masyarakat baik setelah menamatkan studi diperguruan tinggi maupun sebelum menyelesaikan studinya. Misi keumatan yang diemban IMM harus menjadi nafas gerakan yang teraktualisasi dengan baik. Pada basis gerakan inilah akan diuji keilmuan kader, apakah akan menjadi amal ataukah hanya mengendap dan menjadi konsumsi individu. Di lingkungan masyarakat inilah, kader IMM akan menunjukkan salah satu penegasannya dalam wujud aktualisasi nyata yaitu “Ilmu amalaiah dan Amal Ilmiah”. Kader IMM dengan kemampuan ilmu yang dimilikinya harus mampu membaca tipologi-tipologi masyarakat sebagai sasaran dakwahnya, baik tipologi masyarakat tradisional (awam) maupun masyarakat modern (perkotaan). IMM sebagai lokomotif pergerakan diharapkan mampu membentuk kader-kadernya agar memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan mampu hadir sebagai penawar solusi yang mencerahkan, membebaskan dan menggembirakan di lingkungan masyarakat yang ditempatinya.

Penutup
  Pada akhirnya, ketika para da’i atau mubaligh Ikatan tidak hadir sebagai pembawa risalah ke- Nabi-an, tidak hadir sebagai penyeru kepada Agama Allah swt, maka yang akan timbul adalah Pertama, Umat Islam akan terpengaruh oleh budaya dan gaya hidup serba seragam dan jauh dari nilai-nilai ajaran Islam, Kedua, infiltrasi budaya dan tata nilai barat yang lebih intens dan masif yang banyak bertentangan dengan identitas kepribadian bangsa dan akhlak Islam dan yang Ketiga, merebaknya konsumtivisme yang menggiring umat manusia, lebih khusus umat Islam kepada pemiskinan spiritual dan falsafah hidup hedonistik.

Sebagai akhir dari tulisan ini, kita patut merenungkan bahwa “setiap kita (mukmin) adalah da’i atau mubaligh”. Oleh karena itu, penting kiranya kita memahami beberapa karakteristik dakwah berikut ini:
  1. Rabbaniyah a. (bernuansa ketuhanan).
  2. Wasatiyah, Seimbang, tidak berlebih-lebihan dan tidak b. terlalu sedikit.
  3. Syumuliyah,c. Utuh dan menyeluruh dalam manhajnya (komprehensif), tidak juz’iyah (sebagian).
  4. Mu’ashirahd. (modern). Dakwah harus mengikuti perkembangan zaman.
  5. Waqi’iyyah,e. Realistik dalam memperlakukan individu dan masyarakat.
  6. Ilmiah.f. Materi dakwah harus berlandaskan pada ilmu pengetahuan.
  7. Inqilabiyahg. (perubahan total), bukan tarqi’iyah (tambal sulam). Proses perubahan yang dilakukan dalam dakwah hendaknya dilakukan secara total dan menyeluruh.
  8. Al-mana’atun al-Islamiyah h. (mempunyai imunitas keislaman). Ini penting bagi dakwah. Imunitas keislaman akan menjadi benteng bagi dakwah. Tingkat pertahanan dakwah ditentukan oleh sebesar apa imunitas yang dimiliki para penyebarnya.

Da’i atau Mubaligh IMM dalam berdawkah, juga harus memiliki karakter sebagai berikut:
  1. Atsbatu mauqifan, kader dakwah harus menjadi orang yang paling teguh pendirian dan paling kokoh sikapnya.
  2. Arhabu shadran, kader dakwah harus menjadi orang yang paling berlapang dada.
  3. A’maqu fikran, kader dakwah harus menjadi orang yang memiliki pemikiran paling mendalam.
  4. ausa’u nazharan, kader dakwah harus menjadi orang yang memiliki pandangan luas.
  5. Ansyathu amalan, kader dakwah harus menjadi orang yang orang yang paling giat dalam bekerja.
  6. Ashlabu tanzhiman kader dakwah harus memiliki gerakan yang paling kokoh strukturnya.
  7. Aktsaru naf’an, kader dakwah harus menjadi orang yang paling banyak manfaatnya.
  
Terjemahnya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.




Penulis  IMMawan Kadarisman, S.Pd.I
(Ketuta Bidang Tabligh dan Kajian KeIslaman DPP IMM Periode 2016-2018)