PP Muhammadiyah : Indonesia Membutuhkan Strategi dan Format Baru untuk Islam dan Keindonesian




Jakarta – Piimpinan Pusat Muhammadiyah melaksanakan Kajin Bulanan dengan tema, Islam dan Keindonesiaan Mencari Format dan Strategi Baru, di Aula KH. Ahmad Dahlan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jalan Menteng Raya No. 62 Jakarta Pusat. Pada Jum’at  malam, 04 Agustus 2017.

”Pada Muktamar di Makasar, Muhammadiyah mengkunci melalui rekomendasi, bahwa Indonesia adalah negara Darul Ahdi  Wa Syahadah”. Kata Dr. Haedar Nasir, M.SI Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammdiyah pada Pengantar Kajian. (04/08)

Lebih lanjut ia mengatakan, Indonesia sebagai Darul Ahdi adalah Indonesia negara yang disepakati yang harus dirawat,  maka negara Indonesia adalah tempat kita berkiprah Wa Syahadah.  Karena  Negara Pancasila selaras dengan Islam, maka negara Indonesia sebagai Darul Salam, negara harus dibangun melalui pondasi keagamaan. Ujar Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

”Tetapi dalam politik dan dinamika kebangsaan ada dealektika, pasang surut”. Tegasnya.

Dalam konteks teologis ia mengatakan, umat Islam itu sendiri, ada spektrum yang berbeda, ada yang kanan, ada yang kiri. Seperti Konsep Negara Khilafah menjadi harga mati , dan ada spektrum yang kecil, yang memisahkan agama pada kehidupan politik, ekonomi. Dan agama hanya pada dimensi pribadi, yang kita kenal sebagai sekulerisasi. Dan Muhammadiyah memposisikan diri di tengah-tengah. Ini juga sangat sulit, sehingga Muhammadiyah dianggap pembela sekulerisasi, pembela sistem thogut. ”Maka kita butuhkan format baru, manyoritas dan minoritas tidak ada bedanya, maka yang minoritas tidak boleh meminta jadi mayoritas. Maka politik representasi yang idealnya”. Kata Dosen Psikologi UGM ini.

Mengenai strategi perjuangan di umat Islam sendiri, ia membacanya, bahwa masih gagal, misalkan Umat Islam apabila ingin berkuasa, harus menggunakan kesepakan dominasi, akan tetapi semua orang berhak menjadi presiden. Umat Islam harus realistis bahwa yang menjadi pemimipin, yang penting dia adalah muslim. Tuturnya.

Bagaimana kecenderungan kedepan, jelasnya, ada keintegrasian dan kesenyawaan antara keislaman dan keindonesiaan. Akan tetapi bangsa Indonesia harus tegak pada cita-cita bangsa, yang di masa lalu terbebas dari tari-tarik seperti sekarang ini. Ujarnya.

Pada kajian bulanan ini, PP Muhammadiyah Mengundang tiga Narasumber, yang pertama, KH. Salahudin Wahit dari Nahdatul Ulama, kedua, Dr. Yudi Latif, kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Dan ketiga, Prof. Bahtiar Efendi dari PP Muhammadiyah.

Pengajian tersebut dihadiri juga, dari Anggota Muhammadiyah dari daerah Kalimatan, dan Sulawesi. Dan diperkirakan pengajian bulan ini, dihadiri lebih kurang 300 Jamaah Muhammadiyah. []


Penulis dan Editor : Zainul Abidin An-Suma