Pernyataan Sikap PP Muhammadiyah Terkait PERPPU Ormas

WhatsApp Image 2017-07-02 at 12.08.52 PM

JAKARTA, Suara Muhammadiyah-Setelah melalui sidang pleno, Pimpinan Pusat Muhammadiyah akhirnya menyatakan sikap resminya terkait Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat atau PERPPU Ormas. Sikap Muhammadiyah ini tertuang dalam Pernyatan Sikap Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 364/PER.I.O/A/2017. Pernyataan yang ditandatangani langsung oleh ketua umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan sekretaris umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti itu memuat enam poin penting.

Pernyataan bertanggal 2 Agustus 2017 itu mempertegas komitmen Muhammadiyah untuk mendukung Negara Pancasila, dan menolak pemutlakan gagasan Khilafah Islamiyah. “Muhammadiyah menolak paham yang memutlakkan sistem kekhalifahan Islam yang  disertai sikap menegasikan pilihan politik Islam lainnya dengan    menuding  sebagai  sistem  di  luar   Islam (tidak   lslami, sistem   thaghut), lebih-lebih apabila disertai   gerakan   untuk  mengganti    sistem   politik  yang telah   berlaku   pada setiap   negara  Islam   atau negara  Muslim.”  

Dalam Muktamar    ke-47   Tahun   2015    di    Makassar, Muhammadiyah memutuskan sebuah dokumen      penting      tentang    “Negara    Pancasila     Dar   al-Ahdi     Wa   al-Syahadah”. Kandungan   isinya  ialah   Negara   Kesatuan    Republik    Indonesia    yang berdasarkan Pancasila dan sejalan dengan  ajaran   Islam, sebagai hasil konsensus nasional yang harus dibangun menuju terwujudnya    cita-cita   nasional. 

“Bahwa   Negara   Pancasila   tersebut    selain    disebut   sebagai  hasil  konsensus  nasional (Dar a/-ahdi) dan  tempat pembuktian atau kesaksian (Dar al – Syahadah), dapat diposisikan dan  difungsikan    sebagai   negeri    yang  aman  dan  damai  atau  Darussalam (Dar al-Salam). Sebagai  hasil     konsensus    nasional     maka   Negara   Pancasila  mengikat   bagi  seluruh   institusi negara  dan komponen   bangsa,” tegas Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Oleh karena itu, Muhammadiyah menolak   segala   paham,  eksistensi   organisasi,   dan gerakan  anti   Pancasila  lainnya    yang  berusaha     mengganti     Dasar   Negara    Pancasila    dan  Negara    Kesatuan     Republik  Indonesia. Muhammadiyah bukan hanya menolak gerakan anti-pancasila yang berbasis paham agama. Namun juga mempertegas penolakannya atas paham  dan gerakan  Komunisme,  maupun  paham  yang ingin menjadikan atau membawa  Indonesia  menjadi    negara   sekuler. Muhammadiyah juga menolak segala bentuk separatisme  yang ingin memisahkan diri dari  Negara Kesatuan   Republik   Indonesia, maupun segala   paham   dan  gerakan  yang  meruntuhkan    sendi-sendi   dasar   NKRI.

Surat Pernyataan Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu juga meminta DPR untuk  tetap berpijak  pada prinsip-prinsip  demokrasi  dan  negara hukum  yang  berlaku,  serta  tidak boleh  surut  ke  belakang yang  memberi  peluang  pada kebijakan   yang   mengandung unsur   otoritarian   yang bertentangan dengan prinsip demokrasi dan negara  hukum. Karenanya  DPR-RI  penting untuk mempertimbangkan  dan merujuk  regulasi  Ormas   pada  UU  Ormas  No  17  Tahun  2013  yang secara  konten  sejalan dengan  prinsip  demokrasi  dan  negara  hukum  sebagaimana  terkandung dalam  pasal  3 ayat   1    UUD   1945.   Apabila  terdapat   kekurangan   sebagaimana   yang menjadi dasar  keluarnya   PERPPU   No  2 Tahun   2017   maka  DPR-RI  dapat  melakukan  perubahan  atau penyempurnaan  terhadap Undang-undang  nomor  17  tahun 2013  tanpa keluar  dari  jiwa dan  spirit dasar  UU tersebut  dalam  prinsip  demokasi  dan  negara  hukum    (Pasal  3  ayat  1 UUD   1945), serta  dalam   prinsip   kebebasan   berserikat,   berkumpul,  dan  mengeluarkan pendapat  (Pasal  28 E ayat  3)  dalam   memperlakukan  atau   melakukan  tindakan  hukum terhadap  Organisasi  Kemasyarakatan  sebagai  pilar  penting  keberadaan  dan   perannya dalam  menegakkan dan membangun NKRI.

Dikarenakan PERPPU tersebut telah masuk ke ranah politik di DPR-RI, maka Muhammadiyah menyerahkan  proses politik  ini kepada DPR untuk  mengambil keputusan politik  yang  sebaik-baiknya  dan  sebijak-bijaknya yang didasarkan  pada  kepentingan bangsa  dan  negara yang lebih  luas   serta mendukung  tegaknya  sistem pemerintahan   yang   demokratis   dan berdasarkan hukum yang   sesuai   dengan Pancasila   dan   Undang-undang   Dasar   1945.

Muhammadiyah juga meminta DPR berdasar  pada  masukan dan  kritik  atas sebagian  isi Perppu yang  menimbulkan kontroversi, terutama yang menyangkut pembubaran  Ormas tanpa proses pengadilan dan pentingnya kriteria  yang  jelas  mengenai  hal-hal  yang disebut  paham   dan gerakan mapun tindakan yang  bertentangan  dan/atau  anti Pancasila.  Muhammadiyah  menuntut DPR benar benar  bersikap yang  seksama  dalam mengambil putusan.

Muhammadiyah membenarkan bahwa memang diperlukan tindakan hukum terhadap organisasi kemasyarakatan  (Ormas) yang  terbukti secara nyata  dan meyakinkan mengembangkan paham,  ideologi,   dan   gerakan   yang   bertentangan   serta   ingin   mengganti   Pancasila dan/atau   keberadaan  NKRI.

Akan tetapi, tindakan  hukum  berupa  pembekuan  atau  pembubaran Ormas tersebut semestinya dilaksanakan  dengan  prinsip demokrasi  dan  negara  hukum serta  bykan atas  dasar  negara kekuasaan  sebagaimana  termaktub  dalam  pasal  1  ayat  (3) UUD 1945 serta pasal  28E ayat (3) UUD 1945, yang  spirit konstitusi dasar tersebut telah direprsentasikan    dalam    Undang-Undang  Ormas    Nomor    17   Tahun     2013.

Dalam melakukan  regulasi  dan  tindakan hukum terhadap  Ormas tersebut  hendaknya meniscayakan adanya proses  pengadilan serta harus dipastikan adanya kriteria yang jelas mengenai paham, ideologi, dan gerakan yang disebut anti atau bertentangan dengan Pancasila  agar  tidak menjadi  pasal  karet  dan  tidak  menjurus  pada   penyalahgunaan kekuasaan. (Ribas/Th)