Peran IMMawati solusi umat dan bangsa




 
Oleh : IMMawati Rizkiani Bahtiar



Diskriminasi dan dekadensi moral yang tidak terbendung pada abad Milenium ini, merupakan tatantangan ideologis bagi negara dan bangsa Indonesia. Dan masih lekat diingatan kita semua, bahwa gerakan dan isue kesetaraan gender, yang intens dipropagandakan, diberbagai belahan dunia, lebih khususnya di Amerika dan Eropa. Menjadi fakta sejarah, bahwa perempuan mendapatkan perlakuan diskriminasi, tidak etis, dan minus moralitas diberbagai sektor. 

Sejatinya Perempuan dan Laki-laki, setara dan sama dalam, keterwakilan suara hatinya. Karena suara hati sebagai syarat, dalam menentukan peran dan langkah kongret. Dan apabila timbul kesenjangan sosial di dunia, dan lebih khusus di perempuan, maka penyebab utamanya adalah ketidak terakomodasinya suara hati.

Perempuan memiliki peran, sebagai penyeimbang dan penyelaras kehidupan. Relefansinya dikehidupan yang nyata, perempuan seyogyianya berhak untuk mengaktualisasikan peran-peran yang ada dalam dirinya, yang mengkarakterisasi kepribadian dan sikap. Maka untuk mencapai ekspetasi itu, maka laki-laki, memiliki imperatif etis (perintah tanpa syarat), untuk mencapai tujuan perempuan, yang nantinya dikukuhkan dalam berkarya yang nyata di negerinya sendiri.

Maka saya, akan mencoba membaca dengan seperangkat kelemahan. Dan saya akan memulai dari, berbagai macam polemik yang terjadi, yang tentunya berdampak pada peran dan status perempuan, seperti kini sudah menggiat dan menggeliat, berbagai penafsiran tentang perempuan, hal tersebut menandakan bahwa, kini perempuan mulai menunjukkan eksistensi sebenarnya. Sehingga para perempuan seharusnya menjadikan hal tersebut, sebagai momentum untuk menyelaraskan kehidupan, yang kini tercederai, oleh berbagai macam kesenjangan yang berujung pada ketidakadilan.

Isue Gender kini hadir sebagai solusi bagi kaum perempuan, yang memberikan peluang bahwa wanita memiliki suara hati, keterwakilan hak, peran, dan sama untuk diakomodasi diberbagai sektor. Dengan peluang ini, maka seyogyianya perempuan dengan mudah untuk membebaskan dirinya, keluar dari keterkungkungan, alienasi diri, dan eksploitasi. 

Maka dengan modal itu, saya dengan sadar dan rasional, mengatakan bahwa, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memiliki perempuan tangguh yang mampu memenuhi tantangan sejarah itu, namun, dengan kesadaran pula, saya mengatakan bahwa, akan ada arus yang sangat dekontruksi, jika kita salah melangkahkan kaki, di peradaban saat ini. Yakni akan berbanding terbalik, apabila para perempuan (IMMawati) tidak mampu mengambil dan menyadari peran yang dimilikinya, atau keluar dari pusat kesadarannya. Hal tersebut tidak akan terjadi, apabila IMMawati teguh dan memiliki budaya dasar yang kokoh, dalam mengaktualisasikan apa yang menjadi hakikat sejarahnya, sebagai bentuk pergerakan dan dakwah agar, berkhidmat di bangsa secara berdaulat. 

IMMawati hari ini, hemat saya belum mencapai pada kesadaran zaman, dan mengakibatkan ketidakmampuan untuk mengoptimalkan perannya dalam aktifitas sejarahnya, sehingga apabila kita melihat, dari berbagai sektor, maka peran IMMawati kini belum terlihat dan berdampak pada sejarah. Hal tersebut merupakan masalah sekaligus tantangan secara struktural dan individual kader itu sendiri. Oleh karena itu, pengejewantahan trilogi Ikatan yang menjadi basis pergerakan, yang harus mampu diimplementasikan sebaik mungkin. Sehingga melahirkan kader yang mampu bersaing, dari berbagai sektor baik secara lokal dan global.

Melalui Silaturahim Nasional IMMawati yang diagendakan oleh Bidang IMMawati DPP IMM, seyogyanya akan memberikan design, dan peta potensi kader. Kegiatan tersebut menjadi proses refleksi IMMawati, untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan, agar mengetahui simpul dan postulat IMMawati. Sehingga tercipta kader, yang mampu memberikan peran yang unggul, Karena IMMawati merupakan harapan sekaligus tumpuan umat dan bangsa dalam mengemban amanah sejarah. Penguatan peran dan aktualisasi IMMawati, sangat urgen, guna memperbaiki berbagai kesenjangan dalam berbagai dimensi kehidupan. []



Penulis : Kabid IMMawati DPD IMM Sultra
Editor  : Zainul Abidin An-Suma