PEMIMPIN BERGAYA KERETA


Pemimpin terintegral dengan institusi. Strategis keberadaan pemimpin di suatu wadah, baik organisasi terkecil sampai yang terbesar (negara). Di abadikan dalam satu sistem universal saat ini, yakni demokrasi. Perangkat nilai demokrasi menanamkan satu rule game, bahwa pimpinan politik harus terotasi secara periodik. Dan menghindarkan kempemimpinan yang bersifat absolute. Dan ini adalah kebenaran yang umum dari sistem universal demokrasi.

Demokrasipun secara kritis dihadapkan dengan tantangan nilai, dalam proses dealektisnya. Seperti kajian demokrasi, apakah demokrasi yang diterapkan, subtansi atau prosedural. Dalam pandangan yang umumpun, tantangan demokrasi dihadapkan dengan, terselenggaranya secara subtansi dalam aplikasi demokrasi. Namun Kajian demokrasi subtansipun, hemat saya, bahwa bukan hanya pada kesejahteraan rakyat, yang di posisikan sebagai titik tolak kajian.

Namun sebenarnya, demokrasi subtansi, tidak bisa dipisahkan dari relevansi terselenggaranya pesta demokrasi (Pemilu), dengan pemimpin hasil dari proses demokrasi. Saya menyederhanakan bahwa, demokrasi subtansi adalah integritasnya kepemimpinan politik dari produk demokrasi (pemilu) dengan aktualisasi dalam realitas setelah proses demokrasi. Yang esensinya bahwa, integritas pemimpin dalam mengemban amanat rakyat.

Maka dalam kesempatan ini, saya menulis. Jauh dari subyektifitas saya pribadi, karena secara obyektif bangsa Indonesia harus ada keputusan yang mendesak dari kepala negara dan kepala pemerintahan, dalam status politik bangsa saat ini. Saya tidak memungkiri, tulisan ini dari refleksi kritis kebangsaan saya pribadi. Seperti pemimpin yang bergaya Kereta. Saya menilai transportasi Kereta, merupakan transportasi yang riil bergerak secara otomatom. Pertama, Kereta Api, Bergerak di atas relnya, Kereta tidak bisa keluar dari rel-relnya. Kedua, Kereta, merupakan satu- satunya alat transportasi yang tidak bisa berhenti dengan kondisi apapun, kecuali hanya berhenti di Stasionnya. Jadi Kereta, merupakan alat transportasi yang saya nilai bergerak berdasarkan sistem settingan otomatis, yang kaku dan statis.


Dari citra Kereta di atas, saya menggambarkan kepemimpinan saat ini. Saya mencitrakan bahwa, rel kereta adalah elite politik bangsa saat ini. Yaitu, pengusaha dan pembisnis yang memiliki kekuatan capital dalam mengawal mulai dari proses awal dalam pemilu sampai ketika mendapatkan kekuasaan. Rel Kereta mengatur rotasi dan geraknya Kereta, akar tidak keluar dari koridor. Maka posisi elite politik yang berada di belakang kekuasaan ini, yang memiliki kekuatan rill mengatur pemimpin agar tidak keluar dari kepentingan elite, baik itu politik, ekonomi, hukum, dll.

Ketika Kereta hanya bisa berhenti di stasion, saya menggabarkan kondisi pemimpin yang tidak pada kesadaran cita rakyat. Namun tunduk pada kesepakatan politik yang pragmatis. Pemimpin politik gaya Kereta, bergerak secara otomatis yang kaku dan statis. Merupakan Pemimpin, yang bisa saya citrakan adalah pemimpinan tidak memiliki kesadaran yang merdeka dan demokratis. Dan saya menilai kecenderungannya di intervensi di seluruh dimensi. Pemimpin gaya ini, tidak diorientasikan untuk bangsa sendiri. Akan tetapi seluas-luasnya di peruntukan untuk elite politik yang berada di belakang kekuasaan. Ini sangat bertolak belakang dengan pesan demokrasi.

 Pemimpin lahir dari ekspetasi rakyat. Dan bekerja untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Pemimpin gaya Kereta, merupakan gaya kepemimpinan yang menghianati dan pengikari proses demokrasi. Jadi keberadaan demokrasi, sebagai sistem yang universal, terancam dari aktifitas politik pemimpin gaya kereta. Karena secara integritas, pemimpin yang lahir dari sitem demokrasi tidak membuat gap antara pemerintah dan rakyat. Namun, pemimpin gaya ini, memproyeksikan dirinya untuk mendekontruksi demokrasi. Sehingga hemat saya menilai, semua permasalahan bangsa yang akut, dapat di selesaikan. Jika proses demokrasi kita, tidak menghasilkan Pemimpin politik gaya kereta.[]


 Penulis : Zainul Abidin An Suma (Mahasiswa Pasca Ilmu Politik Universitas Indonesia/Kader IMM NTB)