NEGARA FLAKKA




Oleh : Zainul Abidin An-Suma

Negara dalam aktulisasinya, akan ada pada puncak sejarahnya, yaitu kesejahteraan sosial secara universal. Dan pada hakikatnya, proses aktualisasi dari puncak cita dan harapan, tidak terlepas dalam hambatan sejarah. Sehingga untuk melewati tantangan sejarah itu, dibutuhkan perenungan yang mendasar dalam proses pencapaian pada titik paripurna.

Proses untuk mencapai keparipurnaan itu, yaitu tidak memisahkan antara, kemajuan dan kedaulatan. Apabila kita memisahkan, dan saling membenturkan antara kemajuan dan kedaulatan. Maka kita terlalu lelap dengan dunia simbolitas compleks. 

Simbolitas Compleks adalah produk kolonial, yang diciptakan untuk diperuntukan seluas-luasnya bagi bangsa yang terjajah. Simbolitas Compleks adalah kenihilan subtansi dari kesadaranya. Sehingga Bangsa yang bersimbolitas compleks cenderung didukung oleh para bankir penjajah dan sering memberikan nasehat nista, seperti, “Ayo bangunlah jalan ini, gedung ini, sediakan lampu penerang jalannya, banggakan negaramu dengan itu semua. Dan kami siap membantu dengan memberikan hutang”, Kenistaan penuh menjerat seperti ini, yang mengairahkan bangsa yang bersimbolitas compleks, apalagi mendengar, akan diberikan hutang. Seluruh elitenya berselebrasi, dan berbangga-bangga, bahwa penjajah memberikan hutang, dan elite negara yang bersimbolitas compleks berkata “Luarbiasa, kita masih dipercaya”. Cukuplah ini sebagai bukti, bahwa negara jajahan merupakan negara, yang tingkat irasionalitasnya sangat tinggi. 

Sebagai contoh nyata misalnya, disalah satu Pusat Ibu Kota negara, tumbuh bangunan sebagai simbol kemajuan, yaitu peradaban modernis. Bangunan-bangunan tersebut mejulang tinggi, kemudian jalan melintasi dibahunya, dan terbentang jauh, dengan kelap kelip lampu yang amat cantik dan berwarna-warni. Dan kita terkagum-kagum dengan infrastruktur yang telah terbangun. Dan dibangun dari hutang.  Kemegahan, dan kelimpahan pembangunan itu, jauh diperuntukan untuk rakyatnya. 

Sempurnalah kebahagiaan dan kesejahteraan Bangsa yang terjajah. Maka pengetahuan dasar yang harus kita mengerti, bahwa dalam konteks penjajahan,  negara yang terjajah sudah otomatis dimatikan syaraf yang berfungsi untuk merenungi sejarahnya. Sehingga di negara terjajah akan selalu terjadi ketimpangan antara masa lalu dan masa depanya. Negara dan bangsa tersebut, tidak mampu membedakan antara kenikmatan dan penyiksaan, mimpi atau kenyataan, malahan dibenak bangsanya bertanya, kapan negara kita merdeka?.

Ironis memang. Pertanyaan itu sebenarnya, lahir dari kepasrahan pada kondisi. Antara hidup atau mati,  merdeka atau  ilusi. Jika merdeka, kenapa masif terjadi eksploitasi, penjarahan, dan menikmati kekejaman tanpa ambang batas. Sehingga hampir semua bangsa, berada pada kecemasan yang tidak terkontrol, sehingga timbulah kesimpulan, bahwa negara ini ditakdirkan untuk dijajah, mendapatkan penderitaan (dikebiri, seperti simbol negaranya), dan ketidakadilan yang melampui zaman, inilah dampak dari Simbolitas Compleksnya bangsa. 

Saya menulis tulisan ini dengan judul “Negara Flakka”, bertitik tolak dari refleksi kebangsaan. Negara Flakka merupakan negara yang sengaja diciptakan, dan atau  negara yang dikontrol secara otomatis. Pada dasarnya, Negara Flakka merupakan negara bekas  jajahan, karena kelimpahan dan kemakmuran Sumber Daya Alamnya, Penjajah yang berbagai modus politik, mengagendakan secara sistimatis dan masif penjarahan, eksploitasinya. Keterjajahannya membekas dan sampai pada kehancuran mentalitas kemajuan. Dalam sejarahnya, Negara Flakka mendapatkan drajat ketimpangan seperti, kesengsaraan, penderitaan, dan kekejamanya lebih nyata, dari pada, saat dijajah oleh kolonialisme.

Sehingga proses dealektis politik dan ekonomi Negara Flakka, akan semakin terarah pada tatanan yang mencemari nilai. Ada satu permasalahan mendasar dari Negara Flakka, yaitu  Negara yang mencitrakan bahwa kedaulatannya sangat absurd. Dia diakui kemerdekaanya, akan tetapi kemerdekaan jauh dari rasionalitas dan terminologi Negara Merdeka.  Pengkultusan status politik, sebagai kategoris ketidak berdayaan, pengingkaran, dan  pelimpahan atas hasil perjuangan secara flisofis, historis, dan sosiologis kenapa negara dan atau bangsa itu dimerdekakan.

Negara Flakka adalah Negara Jajahan. Sebagai istilah untuk negara yang terus dijajah secara berkelanjutan dan tanpa berkesudahan.  Penjajahan tidak akan pernah terlepas dari kondisi geopolitik, geoekonomi. Ketika perkembangan sejarah politik yang semakin terlepas pada nilai-nilai etis dari politik itu sendiri. Maka dalam ekspetasi politik, sudah menjadi mainstreem, bahwa berpolitik merupakan proses akumulasi dan volarisasi harta dan tahta. Inilah polemik sejarah politik dunia, sangat instan, oportunis, akan tetapi rumit untuk memahaminya.

Negara Flakka, negara yang diekspolitasi secara politik dan ekonomi oleh negara yang bercapital padat, yang haus dengan kekuasaan dan pengaruh. Karena gagal memahami rasionalitas kemandirian dan independensi, berdampak pada, semakin tergerus, memudar, bahkan abu-abu indentitas bangsanya. Sehingga kemerdekaanya memuncak pada tahapan yang sangat dilematis, abstrak, dan utopis. Dan Negara Flakka akan terjebak, dipermasalahan yang multidimensi dan sistemik.

Tulisan panjang, yang telah dibaca di atas, tentang Negara Flakka. Sesungguhnya pusat dari masalahnya adalah tentang kesadaran. Karena kesadaran kebangsaan, mengaliri seluruh nilai, seperti keautektik kedaulatannya akan diwarnai dalam konteks status citranya yang dicapai ditingkat kesadaran autentik, bukan kesadaran yang Ilusi (Simbolitas Compleks). Jika kesadaran tidak teralianasi, maka seluruh permasalahan yang sudah berkarat, dan seperti benang kusut tadi, bisa terurai. Hampir semua bangsa di negara Flakka, dengan tidak sadar atas kemerdekaan, maka Negara tersebut tertindas dari sumber nurani kemanusiaan, dan kebajikan. Karena faktor utamanya adalah ketidak ada kesadarannya, memahami, pembangunan ini siapa yang diuntungkan. Apakah rakyat atau Bankir yang kapitalistik dan rakus. 

Saya akan mencoba, menarasikan agar memahami apa sih Negara Flakka itu, Ketika disuatu Negara, mengukur kemajuan dengan Infrastruktur, maka tentu kemajuan dibidang infrastruktur itu mencerminkan kedaulatan bangsa, dan rakyat. Kalau di Indonesia, mungkin, Gedung Pencakar langit di sepanjang Jalan Jendral Sudirman Jakarta Pusat, rakyat Indonesia leluasa masuk, kemudian bebas menikmati keindahan dari lantai yang paling tinggi dari Gedung-Gedung itu. Infrastruktur seperti Jalan, yang dibangun menggunakan uang rakyat (APBN), maka rakyatpun bebas melintasi tanpa, harus membayarnya lagi. Atau mungkin seluruh infrastruktur yang masih, dan sedang dibangun itu, bukan sebagai fasilitas strategis yang diperuntukan untuk memuluskan bisnis pemodal, dan penjajah Asing, melainkan untuk rakyat itu sendiri. Namun di Negara Flakka jauh untuk harapan dan pembangunan diperuntukan untuk rakyat dan bangsanya sendiri.

Itulah dampak dari Negara Flakka, negara merdeka, tapi jauh dari kemerdekaan. Dikarenakan kesadaran disubordinat oleh simbolitas yang picik. Maka ada harapan, Indonesia tidak termasuk Negara Flakka.  []



Penulis : Mahasiswa Pasca Ilmu Politik Universitas Indonesia