MERAWAT KEMERDEKAAN




Oleh
Frisca Wulandari


Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Sejarah dimana kemerdekaan Indonesia tertunda oleh jajahan bangsa lain selama berabad-abad. Selama itulah pemuda mengobarkan api semangatnya untuk merebut kemerdekaan ibu pertiwi. Bahkan tepat Agustus ini usia Indonesia sudah 72 tahun,  peran pemuda menjadi semakin sentral dan tidak bisa diremehkan keberadaaanya.

Dalam beberapa kurun periode, bangsa ini telah mengalami berbagai macam peristiwa, dimulai dari pergerakan independen dengan kepentingan masing-masing yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, hingga penggulingan era kekuasaan Orde Baru hingga lahirnya reformasi yang kita rasakan saat ini.

Sebagai negara denga potensi yang melimpah, seharusnya Indonesia bisa menjadi salah satu negara adidaya dunia. Apakah benar kita sudah memanfaatkan segala anugerah yang diberikan oleh Tuhan dengan baik dan benar? Kita semua  bisa melihat kenyataan yang terjadi. Indonesia masih terus berusaha untuk menjadi negara maju yang kadang berkembang, kadang stagnan bahkan kadang menurun.

Logika mana yang bisa menerima kenyataan bahwa Indonesia sebuah negara agraris termasuk dalam salah satu negara pengimpor beras terbesar?“Orang bilang tanah kita tanah surga  petikan syair lagu yang berbicara kesenjangan sosial. Sulit dipahami memang, bagaimana mungkin terjadi krisis di wilayah Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau yang  terbentang sepanjang 3.977 mil.  Sejak kecil kita dinabobokan dengan kisah “Indonesia negara terkaya di dunia”. Informasi tersebut membuat kita menjadi terlena dan enggan bekerja keras. Kemerdekaan yang kita nikmati saat ini  adalah hasil perjuangan generasi terdahulu yang menorehkan sejarah di masa lalu dan menitipkan masa depan Indonesia kepada kita.

Bukan hal yang aneh jika Indonesia memang jauh tertinggal, kita lihat fakta yang ada.  Pertama bangsa Indonesia mengabaikan persiapan dalam menghadapi MEA. Kedua bangsa Indonesia tidak memanfaatkan peluang secara baik. Ketiga pemerintah menunjukan ketidakseriusan dalam menghadapi MEA. Seharusnya bisa Pemerintah mendesain masa depan yang jelas serta dapat memetakan peran Indonesia dalam persaingan. Di dalam kubur, bisa jadi para pendiri bangsa ini akan menangis menyaksikan Indonesia carut marut dengan segala persoalan yang sepertinya tidak henti-hentinya menerpa negeri ini. Indonesia sudah tidak lagi dijajah secara fisik oleh bangsa lain akan tetapi, Indonesia telah dijajah oleh neo imperialisme. Jatuh pada kehidupan hedonisme dan melupakan nilai-nilai luhur budaya bangsa. 

Setengah Abad lebih umur Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), menurut usia manusia masa ini seseorang berada pada kedewasaan dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan persoalan hidup. Begitulah seharusnya organisasi kemahasiswaan berjas merah ini menyikapi kemelut kehidupan di era moderen dan era globalisasi. Dimana pada era ini kedaulatan setiap pribadi dapat terenggut begitu mudahnya oleh tangan - tangan yang berkuasa. Selain di ajang perkaderan dan pelatihan, IMM merupakan gerakan kemahasiswaan yang konstruktif. 

Kerja kreatif memikirkan nasib bangsa, memikirkan nasib mahasiswa, memikirkan nasib umat manusia, dan memikirkan keberlangsungan dunia ini untuk warisan anak cucu kita adalah tugas utama ikatan. Proses pemikiran ini merupakan langkah pengkajian yang perlu dilakukan Ikatan. Menelaah masalah kehidupan yang tengah di alami dan memprediksi persoalan hidup di masa yang akan datang. Fungsi inilah sebagai blueprint gerakan kemahasiswaan memberikan solusi dan pencerahan bagi persoalan yang terjadi.

Kodrat IMM sebagai gerakan mahasiswa yang harus identik dengan pemikiran dan pergerakan tidak di sangsikan lagi. Memiliki peranan penting dalam pemerintahan sebagai control kebijakan yang tidak berkeadilan. Mahasiswa juga dikenal sebagai Agent of change, social control dan iron stock.IMM harus bergerak secara independen, tidak terikat janji-janji politik, namun harus sesuai dengan idealisme. Berpikir dan bertindak untuk menjaga dan mengembalikan kondisi negara menjadi ideal di usia Indonesia yang menginjak 72 tahun. Oleh karena itu menjadi kader merah marun di tuntut bukan hanya menjadi agen perubahan saja, melainkan pencetus perubahan itu sendiri yang tentunya ke arah yang lebih baik.  []

Penulis : (Sekretaris Umum DPD IMM Lampung)