Media Sosial Instrumen Gerakan Pencerahan IMM


Perkembangan arus teknologi yang begitu cepat, dan sulit untuk dibendung kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat. Penyebabnya adalah teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi berubah statusnya dari kebutuhan sekunder menjadi primer. Sehingga hampir semua masyarakat menjadi pengguna atau disebut netizen.  Pada tahun 2013, Menkominfo Tifatul Sembiring melansirkan, pada sebuah media yakni  inilah.com, bahwa perkembangan pengguna internet di Indonesia  saat ini, sudah mencapai 62,9 juta pelanggan layanan internet,  untuk  jumlah  pengguna  Twitter,  berkisar 19,7  juta, dan Facebook  di Indonesia, sekitar 47  juta  pengguna.  Internet (International Networking) merupakan bagian dari instrument  media sosial untuk mengakses informasi dan komunikasi.

Angka   tersebut  kita sangat menyadari perubahannya sangat signifikan, jika dibandingkan perkembangannya  pada  tahun 2017. Sementara, menurut Lembaga Riset Pasar e-Marketer,  populasi netter di Tanah Air mencapai 83,7 juta orang pada 2014. Angka yang berlaku untuk setiap orang yang mengakses internet, setidaknya satu kali setiap bulan, mendudukkan Indonesia, di peringkat ke-6 terbesar di dunia dalam hal jumlah pengguna internet. Pada 2017, e-Marketer memperkirakan netter Indonesia bakal mencapai 112 juta orang, mengalahkan Jepang di peringkat ke-5 yang pertumbuhan jumlah pengguna internetnya lebih lamban.  Secara keseluruhan, jumlah pengguna internet di seluruh dunia diproyeksikan bakal mencapai 3 miliar pada 2015. Tiga tahun setelahnya, pada 2018, diperkirakan sebanyak 3,6 miliar manusia di bumi bakal mengakses internet setidaknya sekali tiap satu bulan. Data-data yang disebutkan tentang pengguna internet, menggambarkan dunia sedang berada di dunia baru, yakni dunia Internet.

Perkembangan pengguna internet yang begitu massif, mempengaruhi ide kreatif manusia, khususnya yang memproduksi Android. Kemanfaatan Android tentu sangat banyak dan penting bagi kita di zaman digitalisasi saat ini. Komunikasi dan informasi bisa diakses melalui Android. Pada acara Buka Puasa Bersama DPP KNPI 27 Mei 2017 di Aula PTIK  Jakarta, Menkopolhukam Bapak Wiranto pernah menyampaikan, bahwa 17 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2000 pengguna Hp di Indonesia 1,9 juta orang, dan sekarang jumlahnya meningkat signifikan yakni, 132 Juta orang dari 255 Juta jumlah penduduk Indonesia. Sementara jumlah Hp pada 17 tahun yang lalu, sebanyak 9 juta dan pada tahun 2017 meningkat sebanyak 300 juta.

Jika kita memperhatikan pengguna media sosial saat ini sangat tinggi jumlahnya, karena dipengaruhi oleh jumlah Hp yang sangat meningkat (Android). Misalnya saat ini jumlah pengguna (member) Facebook ada 250 juta, Myspace sebanyak 122 juta, Twitter 80,5 juta, Linkedin 50 juta, Ning 42 juta dan instrument media sosial lainnya seperti WhatsApp, Instagram, Line dan lain-lainnya.  Selain yang telah disebutkan sebelumnya, yang paling massif sekarang adalah media online yang juga termasuk Medsos. Media online yang sedang berkembang hampir semuanya berbetuk berita, tentu tidak jarang yang mengandung berita palsu atau bohong, yang trendnya disebut dengan berita Hoax.

Dari data yang disebutkan di atas, kader Muhammadiyah khususnya kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) terlibat aktif, secara progressif, dan bahkan agresif, dalam penggunaan media sosial (Medsos). Keterlibatan IMM dalam mengikuti perkembangan dinamika media sosial, tentu bukan sebagai elemen yang menyumbang citra buruk media sosial. Akan tetapi, saya sangat percaya, bahwa hampir sebagian besar kader IMM memiliki integritas dalam menggunakan Medsos. Bukan hal yang asing bahwa saat ini, Medsos menjadi bahan perbincangan kontra produktif, terkait efeknya dalam lingkungan kehidupan masyarakat. Di sisi lain, Medsos ini sangat membantu, untuk kepentingan informasi positif, tetapi dalam waktu yang bersamaan, Medsos juga menjadi sumber masalah, baik dalam bentuk konflik, Hoax, propaganda, hate speech maupun dalam bentuk mengkonsumsi hal-hal yang maksiat. Sehingga pemerintah secara sadar membuat kebijakan melalui Undang-Undang ITE, dengan tujuan membatasi nuansa negatif dalam menggunakan Medsos.

Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 atau UU ITE, mengatur tentang informasi serta transaksi elektronik. UU ini memiliki yuridiksi, yang berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum di wilayah hukum Indonesia dan atau di luar wilayah hukum Idonesia dan merugikan kepentingan Indonesia.

Menelisik dan  membaca realitas yang telah berlalu, dan yang sedang berjalan, IMM sebagai elemen masyarakat yang membawa misi gerakan pencerahan harus andil dalam dinamika kehidupan media sosial. Tentu IMM bukanlah satu-satunya, tetapi salah satu diantara banyak elemen masyarakat yang punya misi yang sama, yakni aktivitas kebajikan (Amar ma’ruf Nahi munkar) dalam segala dimensi, terutama dimensi Medsos. Keterlibatan IMM bukan juga dinilai sebagai kunci, tetapi IMM menjadi bagian untuk mengurangi mobilitas negatif dalam perjalanan Medsos. Sehingga IMM harus memiliki konsep yang jelas dan juga matang untuk memasifkan gerakan Media Sosialnya, sehingga tidak terjebak pada dzulumat (kegelapan) tetapi harus menjadi An-Nur (penerang) atau At-tanwir (Pencerahan).

Dalam kesempatan ini, saya ingin menyampaikan beberapa point untuk memposisikan IMM dalam dinamika media atau media sosial (Medsos), sebagai elemen pencerahan. Bagi saya, kehadiran Medsos yang begitu massif ini, harus dijadikan instrumen pencerahan untuk Ikatan, Persyarikatan, Umat, dan Bangsa. Agar Medsos, dijadikan instrument pencerahan, maka kader IMM secara personal atau IMM secara institusi harus menggunakan Medsos, secara baik dan benar serta bertanggung jawab. Sehingga ada beberapa hal, yang harus diperhatikan oleh kader IMM dalam memanfaatkan Medsos, diantaranya selektif konsumsi informasi, kritis tanpa hate speech, informasi tanpa Hoax, edukatif yang mencerahkan, dan akses Medsos tanpa mengabaikan nilai moralitas dan spiritualitas.

Selektif Konsumsi Informasi 

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (Qs Al-Hujurat:6).

Pada 15 abad  yang lalu, Allah telah berfirman melalui Al-qur’an, mengingatkan manusia untuk teliti dalam mengkonsumsi informasi atau berita. Sehingga tidak bisa kita abaikan petunjuk dari Sang Khaliq , untuk menjadi kompas dalam menjalankan setiap misi kehidupan di muka bumi ini, yang salah satunya adalah, persoalan komunikasi dan informasi.

Sadar atau tidak bahwa ada dua bentuk informasi yang kita dapat setiap hari, yaitu infoormasi benar dan palsu. Jika salah menafsirkan atau kita salah mengkonsumsi informasi, maka akan terjebak pada informasi yang palsu atau sering disebut informasi Hoax. Terlepas dari benar atau palsunya sebuah informasi berita dari berbagai media, baik dari media cetak, elektronik, online apalagi media sosial (Medsos), saya hanya ingin menyampaikan bahwa kita harus menjadi pembaca berita yang cerdas dan berkualitas. Pembaca cerdas atau berkualitas yang saya maksud adalah, kita harus mampu memfilter atau menyaring sebuah berita secara selektif, agar kualitas informasi terjaga.

Tidak sedikit jumlah masyarakat yang doyan membaca berita, akan tetapi masih banyak yang buta akan berita kebenaran. Masih sekedar pembaca berita, bukan pembaca cerdas dan berkualitas, karena dalam membaca berita tanpa selektif. Tetapi saya harus sampaikan juga bahwa jumlah pembaca cerdas dan berkualitas (selektif) kuantitasnya tidak kala saing dengan pembaca berita tanpa selektif. Maka tidak ada cara lain oleh kita untuk membedakan mana berita yang benar dan palsu, kecuali dengan selektif membaca berita dari setiap informasi dari banyak media yang ada.

Bagi saya sebagai kader IMM harus menjadi pelopor gerakan untuk memfilter informasi yang silih berganti datangnya dari berbagai media. Kader IMM harus tampil dengan gagah berani, di tengah kegealapan informasi media yang saat ini hampir kehilangan kepercayaannya kepada media. Kita sebagai kader IMM juga, harus percaya bahwa tidak semua berita yang ada, memuat berita yang palsu atau bohong, sehingga kita harus menjadi salah satu dari banyak elemen untuk mempertahankan eksistensi media sebagai pembawa berita yang benar dengan cara selektif mengkonsumsi berita.

Kritis konstruktiff tanpa Hate Speech

Salah satu misi dari 5 (lima) agenda reformasi tahun 1998 adalah kebebasan pers. Sebagaimana yang dimuatkan dalam UU Pers No 40 Tahun 1999, untuk mempertegas eksistensi kebebasan pers tersebut. Maka kita sebagai masyarakat yang menjalankan atau yang menikmati hasil dari agenda reformasi ini tentu harus bersyukur atau berterima kasih, kepada pejuang reformasi (Prof. Amien Rais Tokoh Reformasi) dan juga kepada Presiden BJ. Habibie yang mengeluarkan kebijakan saat itu.

Di tengah keberlangsungan kebebasan pers, pada waktu yang sama juga banyak hal yang mesti dievaluasi kebebasan pers tersebut. Banyak peristiwa konflik saat ini, hanya karena dampak dari pemberitaan media yang tidak berimbang. Dan yang paling merugikan banyak kalangan saat ini adalah media dijadikan instrument ujaran kebencian atau disebut dengan Hate Speech. Fenomena yang kita nikmati saat ini adalah pemberitaan media yang terlalu banyak pesan-pesan kebencian, pesan-pesan fitnah sehingga membangun paradigma masyarakat bahwa Media adalah alat penyebar ujar kebencian.

Kondisi media yang digambarkan di atas, maka kita harus mendukung langkah pemerintah melalui kebijakannya, yakni membuat Undang-Undang ITE.  UU no 11 tahun 2008 tentang ITE merupakan sebuah langkah yang tepat agar Instrumen informasi dan juga pengguna ITE tidak keluar dari esensi dari pemberitaan (pers).  Tentu UU tersebut perlu ada pengawasan terhadap perjalanannya di lapangan, serta perlu dievaluasi sebagaimana perannya selama ini. Karena kita tidak ingin UU tersebut hanya sebuah proyek pemerintah tanpa ada dampak positif, di tengah kehidupan masyarakat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan organisasi otonom Muhammadiyah yang tidak alergi dengan keberadaan media saat ini. Bahkan IMM harus menjadi bagian yang terpenting untuk melestarikan dan mempertahankan eksistensi media. Saya sangat percaya, bahwa IMM andil atau berkontribusi dalam dinamika media, yang sedang berkembang sekarang ini. Ketika di chek secara jujur, mulai dari tingkat komisariat sampai tingkat Dewan Pimpinan Pusat, semuanya memiliki instrument media khususnya media sosial seperti Website, Twitter, Facebook, Instagram, Line. Bahkan secara personal kader IMM, membuat akun tersendiri dengan identitas IMM, tanpa ada rasa malu dan ragu, karena mereka yakin, IMM bukan organisasi yang elergi dengan Media. Selain itu, ada beberapa Dewan Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang, bahkan Komisariat, memiliki Majalah dan, atau Tabloid selain media sosial contohnya, di Pusat ada majalah yakni Majalah Kauman, dan sebagai contoh, di Pimpinan Komisariat Ibn. Khaldun Universitas Muhammadiyah Mataram, memiliki Tabloit Mahardika.

Ketika IMM andil secara aktif produktif dalam dinamika Media, maka IMM harus dengan jujur, benar, berani dan bertanggung jawab atas informasi yang dibuat olehnya. IMM secara Institusi dan kader IMM secara personal, bukan institusi atau orang, yang menyebarkan ujaran kebencian atau hate speech, karena kehadiran IMM adalah sang pencerah di tengah kegelapan informasi Media. Maka IMM harus istiqomah, dan berkomitmen, untuk menjaga eksistensi media sebagai penyebar informasi tanpa hate speech.

Informasi tanpa Hoax

Masa reformasi sejak 1998, merupakan momentum bagi anak negeri untuk terus bergerak tanpa tekanan, terutama dalam mengambil bagian didimensi Media. Kebebasan Pers juga menjadi jalan yang lebar bagi penggiat media untuk menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi publik. Tentu kondisi ini menjadi catatan penting bagi kita semua untuk menjaga eksistensi media, sebagaimana niat awalnya, yakni menyampaikan informasi yang mengedapankan asas jurnalistis, yakni asas demokrasi, moralitas, dan supremasi hukum.

Akhir-akhir ini, dunia media semakin suram dari pemberitaan yang benar, dengan adanya pemberitan palsu/bohong, atau disebut dengan HOAX. Kehadiran media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, dan media sosial lain menjadi penyebab utama hoax, bisa tersebar lebih cepat. Hoax dibuat oleh seseorang, atau sekelompok dengan tujuan yang beragam. Banyak tujuan pengguna internet untuk membuat hoax, yaitu mulai dari yang main – main, agitasi, yang bersifat menghasut, politik, propaganda, dan kepentingan yang berorientasi kepada ekonomi. Hoax yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan yang berorientasi kepada ekonomi biasanya bersifat penipuan.

Kebiasaan memberikan konten hoax, sangatlah berbahaya terhadap publik, karena konten hoax sangat mudah terlihat di media sosial, yang notabenenya banyak dinikmati, dan dilihat oleh masyarakat awam. Di Indonesia, hoax mulai marak saat pemilihan presiden (pilpres) tahun 2014, dengan menggunakan tren kampanye. Dalam pilpres 2014, hoax bermunculan untuk menjatuhkan citra, dari salah satu pasangan calon presiden pada saat itu. Penyebab lain maraknya hoax adalah pemerintah dinilai lambat dan tidak cekatan dalam merespon berbagai macam isu yang muncul. Hoax diawali oleh opini publik, yang memihak tanpa ada suatu kebenaran yang jelas, dan opini publik tersebut tidak dapat dibendung, dan dikendalikan oleh pemerintah. Sebelum kemunculan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan semacamnya, Hoax banyak disebar lewat SMS. Hoax dapat menimbulkan dampak yang merugikan bagi siapapun, yang melihat konten – konten Hoax tersebut. Khususnya bagi masyarakat yang menggunakan Internet secara aktif.

Hoax memiliki indikasi mencurigakan, meskipun sudah terdengar mencurigakan, masih banyak pengguna internet yang tertipu dengan hoax di media massa. Hoax memiliki banyak dampak negatif, diantaranya adalah Hoax dapat membuang waktu dan uang. Hoax dinilai dapat membuang waktu dan uang karena membaca berita Hoax menimbulkan kerugian yang tidak main – main, khususnya bagi para pengguna Internet yang berstatus pelajar, mahasiswa, dan pekerja. Pengaruh Hoax terhadap individu adalah, apabila individu, tersebut menghabiskan waktu untuk membahas dan membicarakan berita Hoax tersebut, dengan kurun waktu yang lama dan berlarut – larut. Hoax juga dapat dijadikan sebagai alat penipuan publik.

Perkembangan media dan juga media sosial di tubuh IMM, ditandai dengan adanya, instrumen media yang dimiliki, oleh setiap level kepemimpinan IMM. Seperti di tingkat Komisariat mempunyai media sendiri,  begitu juga di level kepemimpinan di atasnya, sampai tingkatan pusat. Bahkan jika, institusi IMM dari setiap level, ada diantara mereka tidak memiliki instrument media sosial, maka dianggap bergerak mundur, atau ketinggalan dimensi kemajuan.  Sudah bukan saatnya lagi IMM menjadi penonton, atau sekedar pengguna media sosial, tetapi IMM harus menginovasikan media sosial baru, sebagai rujukan atau sumber informasi publik. Jika selama ini, IMM secara institusi atau kader IMM secara pribadi, hanya sebagai pembaca berita dari berbagai media atau penikmat informasi di media sosial, maka sudah saatnya pula IMM, sebagai pembuat berita sekaligus menjadi sumber dari berbagai informasi.

Kehadiran media sosial yang dimiliki oleh IMM, atau Kader IMM, akan menjadi pengimbang dengan berita-berita yang sedang berkembang saat ini. Bukan hal yang rahasia lagi bahwa saat ini, media khususnya media sosial terlalu banyak menyampaikan informasi Hoax. Sehingga kondisi ini, Media IMM harus menjadi elemen pencerahan bagi media-media yang lain yang sangat massif menyebarkan informasi Hoax bermuatan fitnah. Sehingga syarat utama informasi yang disampaikan oleh IMM, melalui media Online atau media sosial adalah secara benar tanpa ada embel-embel berita palsu atau Hoax.

Sebagai landasan wartawan IMM, untuk memuat informasi disetiap pemberitaan maka kader IMM yang berprofesi wartawan harus memahami dan melaksanakan 10 kode etik jurnalistik sebagaimana yang tertera dalam point yang ketiga yaitu, “wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah”. Pada point ke empat mempertegas, “wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis dan cabul”.

Edukatif yang mencerahkan

Menyampaikan informasi melalui media sosial, atau online tidak cukup hanya sekedar menyampaikan informasi, akan tetapi harus ada dimensi lain yang disampaikan. Dimensi lain yang saya maksud adalah, Medsos harus bernilai edukasi dalam memuat pemberitaan, sehingga para pembaca tidak hanya menikmati beritanya, akan tetapi nilai edukasi dalam pemberitaan tersebut dapat diserap juga.

Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah Hak Asasi Manusia yang dilindungi oleh Pancasila, uUndang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah, sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat dan norma-norma agama. Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan perannya. Pers  harus menghormati hak asasi setiap orang, oleh karena itu, pers dituntut professional, dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat.

IMM sebagai organisasi yang memikul Misi pencerahan, maka sebuah kewajiban untuk menyampaikan informasi yang mencerahkan, sehingga masyarakat tercerahkan oleh informasi yang disampaikan oleh media milik IMM. Pekerjaan IMM bukan menyesali atau gelisah dengan pemberitaan yang mengandung HOAX, sebagaimana fenomena saat ini, akan tetapi IMM menjadi sandaran masyarakat, untuk mendapatkan informasi yang aktual, dan faktual, serta tingkat kredibilitasnya sangat tinggi.

Misi pencerahan IMM khususnya dalam dunia media sosial, harus dimaksimalkan agar pendidikan media sosial semakin massif, dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Sehingga publik tidak lagi dibodohi, oleh media pembawa Hoax atau fitnah, masyarakat tidak lagi menikmati kekejaman pemberitaan media, yang membangun paradigma buruk terhadap media. Dan masyarakat bukan lagi sasaran pembohongan media. Maka IMM mengambil peran untuk mendidik masyarakat dengan memuat asas dan 10 kode etik jurnalistik, dalam setiap pemberitaan diberbagai medianya.

Akses Medsos Berlandaskan Moralitas dan Spiritualitas

Media cetak dan media elektronik (TV), bukan berarti tidak disukai oleh publik. Akan tetapi, sebagian besar publik sudah berubah sumber beritanya, yakni dari media sosial atau online. Medsos atau online sangat mudah diakses, karena fenomean  Hendphone Android yang semakin berinovasi. Dan semua menyadari, bahwa Hp Android menyediakan banyak aplikasi, tanpa terkecuali aplikasi mengakses Medsos atau online.  Inilah fenomena Medsos yang sedang berkemabang, tentu kondisi ini tidak bisa dibendung tetapi kita jadikan sebagai peluang untuk terus berkarya melalui media sosial.

Sebuah rahasia umum bahwa media sosial saat ini, dijadikan sebagai alat propaganda, instrument pembohongan, atau fitnah, sehingga mengakibatkan konflik horizontal yang tak berkesudahan. Tentu cara-cara ini bukan cara yang berkarakter, juga bukan cara yang menjadi style IMM sebagai elemen pencerahan. Informasi atau pemberitaan media, yang banyak mengandung Hoax dan fitnah yang kita rasakan saat ini, merupakan pembuat informasi di media, yang tidak didasari oleh nilai moralitas dan spiritual. Jika seorang wartawan, tidak melibatkan dimensi moralitas dan spiritualitas dalam membuat berita, maka yang terjadi adalah kehampaan berita dari sisi kebenarannya.

Apabila pengguna Medsos, atau netizen mengabaikan dimensi moral dan spiritual, dalam mengakses atau mengkonsumsi informasi, maka yang terjadi adalah semua berita dikonsumsi tanpa ada penyaringan. Sehingga semua informasi dianggap faktual dan aktual, serta tingkat kredibilitas, ketika informasi Medsos menurutnya sangat tepat dan patut dikonsumsi. Situasi ini membuat media Hoax semakin meraja lela, atau menyebar luas di tengah kehidupan masyarakat, karena konsumennya, masih massif, untuk menikmati berita bohong dan fitnah tersebut.

IMM yang terlahir dari rahim Muhammadiyah, tentu berperdoman pada Al-Qur’an dan Al-Hadits Assohihah. Jika kader IMM berkomitmen dengan nilai-nilai Al-qur’an dan Al hadits, maka setiap aktivitasnya, tetap mengandung nilai moralitas dan spiritual. Oleh karenanya sebagai kader pembawa misi pencerahan tidak boleh keluar dari pesan-pesan moralitas dan spiritual, terutama dalam mengakses Medsos. Sebagai kader IMM, tentu punya ciri khas, ketika mengakses Medsos, baik dalam hal membuat informasi, maupun dalam hal mengkonsumsi informasi. Ciri khas yang saya maksud adalah, kader IMM sangat memperhatikan dampak negatif, ketika mengakses Medsos (membuat dan mengkonsumsi berita).

Dari penjelasan di atas, saya hanya mengatakan, bahwa keberadaan IMM di tengah dinamika media sosial yang semakin tinggi mobilitasnya, IMM harus menjadikan Medsos, sebagai instrumen pencerahan. Karena hemat saya, IMM meyakini dimensi moralitas dan spiritual adalah fondasi yang mengkarakterisasi, dalam segala aktivitasnya kader dan umat, terutama dalam memanfaatkan Medsos yang sedang berkembang. []



Penulis : Din Salahudin (Ketua DPP IMM Bidang Media dan Komunikasi)
Editor  : Zainul Abidin An-Suma