Idul Adha, Gerakan Spirit Spiritual demi Mewujudkan Indonesia Berkemajuan



Oleh : Mizan Aminuddin 

Aceh - Seluruh anggota badan terhentak semangat, ketika takbir dilantunkan di seluruh penjuru negeri. Kehadiran Idul Adha telah dinantikan, kambing serta sapi hidangan di pagi hari. Qurban merupakan salah satu ibadah yang asal muasalnya dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alayhis salam, hal ini diabadikan oleh Allah Subahanhu wa Ta’alaa di dalam Al-Qur’an: 

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. (QS. Ash-Shaaffat 37 : 102-107).

Qurban berarti dekat, istilah lain yang biasa digunakan adalah Nahr (sembelihan), dan Udliyyah (sembelihan atau hewan sembelihan). Kurban  berasal dari kata Arab yakni Qurbah, yang bermakna mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam ritual Kurban ini, seluruh umat Islam di penjuru belahan bumi melaksanakan penyembelihan hewan kurban seperti domba, kerbau, sapi dan unta, sebagai tanda memenuhi panggilan Allah SWT.
Hari Raya Kurban juga merupakan refleksi atas catatan sejarah perjalanan kebaikan umat manusia pada masa lalu. Dalam konteks sejarah, Hari Raya Kurban berarti refleksi atas ketulusan serta istiqamah nya Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah SWT.

Dalam konteks ini, mimpi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail, merupakan sebuah ujian Maha Pencipta, sekaligus perjuangan maha berat seorang Nabi Ibrahim yang diperintah oleh Tuhannya melalui malaikat Jibril untuk mengurbankan anaknya. Peristiwa itu dapat dimaknai sebagai pesan simbolik religiusitas, yang menunjukkan ketakwaan, keikhlasan, dan kepasrahan seorang Ibrahim pada titah Yang Maha Kuasa.

Para ulama telah sepakat sepakat bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap Ismail adalah bukti penyerahan diri sepenuhnya terhadap perintah Tuhan. Oleh karenanya ajaran Nabi Ibrahim disebut sebagai bentuk penyerahan diri. 

Ali Syariati memaknainya sebagai sebuah perumpamaan atas kemusnahan dan kematian ego. Berkurban berarti menahan diri dari, dan berjuang melawan, godaan ego. Kurban atau penyembelihan hewan sebenarnya adalah lambang dari penyembelihan hewan (nafsu hewani) dalam diri manusia. Ibadah qurban juga memiliki pesan bahwa umat Islam diharuskan lebih mendekatkan diri dengan kaum dhuafa (fakir & miskin) dan lebih mengutamakan nilai-nilai persaudaraan serta civil society (kemasyarakatan). 

Ibadah Kurban juga mengajarkan bahwa umat Islam tidak mengambil harta kekayaan orang lain dengan cara yang tidak baik. Misalnya dari korupsi, riba dan akhlak tercela lain nya. Dengan begitu, melalui berqurban, kita dapat mendekatkan diri kepada mereka yang kurang mampu. Karena pada prinsip nya adalah saling berbagi atas nikmat yang telah Allah berikan, maka sudah sepatutnya kita diwajibkan untuk berbagi kenikmatan dengan orang lain. Momentum Ibadah kurban adalah saat yang tepat dan mengajak mereka yang termasuk dalam golongan dhuafa untuk merasakan kenyang. 

Atas dasar spirit di atas, peringatan Idul Adha kurban dapat kita maknai beberapa makna penting sekaligus. Pertama, makna ketakwaan manusia atas perintah Yang Maha Kuasa, karena dengan berqurban adalah sebagai simbol penyerahan diri manusia secara totalitas kepada Allah SWT. 

Dalam ruang lingkup masyarat, spirit ibadah berqurban sebaiknya mari kita jadikan sebagai prinsip dasar dalam berbagi di kehidupan sehari-hari. Spirit berqurban bukan hanya soal menyerahkan hewan qurban untuk disembelih atau menunjukkan kalau kita adalah yang paling bertaqwa! Namun lebih dari pada itu spirit berkurban harus kita jadikan spirit hidup sepanjang masa dengan niat karena Allah SWT semata mengharapkan pahala yang besar dari nya. 

Bukan hanya itu, bagi para pemimpin selaknya spirit berqurban ini bisa dijadikan sebagai prinsip hidup dalam memberikan pelayanan publik terbaik kepada masyarakat tanpa pandang bulu, suku, ras, agama, latarbelakang ekonomi serta tidak bermotifkan standar ganda (kepentingan) belaka. Karena menjadi sorang pemimpin adalah saat yang tepat untuk mengumpulkan amal sebanyak-banyaknya dengan cara berbakti kepada masyarakat. 

Bagi seorang guru/dosen, pelajar dan mahasiswa, sebaiknya spirit berkurban bisa menjadi landasan dalam belajar, mengajar dan melakukan penelitian yang menghasilkan ilmu bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

Atau bagi yang berprofesi dokter, bidan hingga perawat bahwa spirit berqurban bisa menjadi prinsip hidup dalam melayani para pasien dengan hati gembira demi memperoleh nilai-nilai ibadah karena Allah SWT. 

Alhasil, mari kita maknai Idul Adha tahun dengan hati yang suci, saling memaafkan atau melakukan hal-hal yang kecil seperti membantu proses penyembelihan kurban di mesjid terdekat atau tempat-tempat lain demi menumbuhkan spirit spiritual untuk mewujudkan Indonesia Berkemajuan di masa yang akan datang. Agar Allah SWT senantiasa memberikan yang terbaik untuk negeri tercinta ini. Amiin.[]




Penulis : Ketua Umum DPD IMM Aceh