Cita-Cita Kemerdekaan


Oleh : IMMawati Yayu As-Syifa
Atas berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya. (Alinea ke 3 Pembukaan Undang-undang 1945). 

Tak terasa perjalanan panjang Negara Kesatuan Republik Indonesia telah mencapai usia 72 tahun lamanya, tentu merupakan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia-Nya. Dahulu dengan penuh perjuangan dan pantang menyerah,  para pahlawan merebut Negara Kesatuan Republik Indonesia dari tangan penjajah, dengan senjata yang seadanya, dan tentunya dengan strategi yang dibangun begitu matang dan kuat, sehingga dapat memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Ukiran sejarah yang telah ditorehkan oleh para pahlawan kita dimasa lalu, merupakan kado terindah yang diberikan kepada kita sebagai generasi penerus bangsa.

Indonesia adalah negara di  Asia Tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa, berada diantara dua benua yaitu, Benua Asia dan Benua Australia serta dua samudra, Samudara Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari ribuan pulau yang meliputinya. Indonesia juga merupakan wilayah terluas ketujuh di dunia setelah Rusia, Kanada, Amerika Serikat, China, Brasil dan Australia. Kini Indonesia telah mencapai usia yang begitu matang, akan tetapi kata merdeka bagi rakyat Indonesia, bagaikan panggang jauh dari pada api, dikarenakan dapat dikatakan kemerdekaan jauh dari kata sejahtera. 

Sebagai contoh, Indonesia telah menginjak usianya yang ke 72 tahun, Indonesia sebenarnya sudah tua, bila dilihat dari umurnya. Indonesia telah berkali-kali mengganti pemimpin, mulai dari era Soekarno sampai era Jokowi, keinginan rakyat Indonesia untuk sejahtera masih jauh dari harapan. Puluhan partai yang berbaris dan berkibar di depan gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) pun, dengan berbagai tujuan dan janji untuk memakmurkan rakyat Indonesia, namun semua itu belum tercapai. Semakin tua Indonesia semakin, bergejala penyakit tua, tidak bisa mengingat sejarah, matanya rabun, dll.   

Berbagai persoalan yang kini mendera bangsa Indonesia tak kunjung usai. Masalah besar yang tengah dihadapi bangsa Indonesia yang mencekam, diantaranya persoalan kestabilan ekonomi. Ekonomi bisa dikatakan sebagai penunjang dari segala aktivitas rakyat Indonesia. Dengan kondisi ekonomi yang tidak stabil dapat menyebabkan masyarakat ekonomi kelas atas akan semakin kaya dan sejahtera akan tetapi berbanding terbalik dengan masyarakat yang ekonominya kelas menengah kebawah akan semakin miskin bahkan melarat. 

Bangsa kita pula sampai saat ini tak henti-hentinya berperang melawan korupsi, yang semakin merajalela diberbagai tingkat sektoral, mulai dari pusat sampai pelosok pedesaan. Pencuri berdasi yang tak kunjung sadar, dan pencuri teri yang sudah lupa pernah diasinin, semakin melancarkan aksinya sampai memasuki gedung-gedung terhormat dan tidak lepas dari korupsi. Akankah rakyat Indonesia sejahtera melihat perilaku para pejabat yang melakukan korupsi? Selain itu, meningkatnya harga pangan yang dapat memicu kelangkaan bahan pokok, bahkan hal yang paling dibutuhkan masyarakat yakni garam mengalami kelangkaan beberapa waktu yang lalu. Lebih miris lagi ketika pemerintah mengambil kebijakan untuk mengimpor garam dari Negara tetangga yang nyatanya Indonesia memiliki wilayah lautan sekitar 70% dari total luas wilayah Indonesia.

Berbagai persoalan di atas pada akhirnya akan menyebabkan kemiskinan yang meningkat dan jauh dari kata sejahtera. Jika pemerintah Indonesia tidak segera mencari solusi dan mengeluarkan kebijakan yang memihak terhadap rakyat kecil. Maka jangan heran jumlah kemiskinan akan semakin meningkat. Cita-cita mulia para pendahulu kita, memberikan kesejahteraan kepada masyarakat umum seyogyanya bisa diusahakan untuk mencapainya. Selain persoalan di atas, kini kebhinekaan bangsa Indonesia sedang diuji dengan munculnya beberapa kalangan yang ingin memecah belah kerukunan umat beragama dikalangan rakyat Indonesia. Munculnya intoleransi di tengah masyarakat, jika tak dapat diredam dengan baik, maka suatu waktu dapat menyebabkan rakyat Indonesia terpecah belah. Oleh sebab itu, diharapkan kepada pemerintah untuk turun tangan membantu meredam persoalan ini agar tidak semakin memanas.

Perjalanan panjang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) telah mencapai usia 53 tahun yang memiliki perbedaan usia kurang lebih 19 tahun dengan kemerdekaan Republik Indonesia. Untuk merefleksikan sejarah, IMM telah ikut mengukir sejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang merupakan bagian dari rakyat Indonesia telah ikut menancapkan kuku cengkramannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui berbagai peran penting, seperti contohnya sekarang kita menikmari kebebasan untuk berekspresi dan mengungkapkan pendapat dimuka umum, merupakan bukti kongkret Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ikut serta membangun peradaban bangsa. Karena Tokoh Reformasi M. Amien Rais adalah Pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. 

Dengan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa, sebaiknya kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, terus menyumbangkan gagasan, pemikiran, dan ide-ide serta terus mengawal untuk membangun bangsa. Berbagai peran penting di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara kader-kader IMM harus terus memberikan kontribusi positif, diberbagai  dimensi kehidupan bangsa dan negara. Kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah diharapkan dapat menjadi kader umat, kader persyarikatan, dan kader bangsa. Sehingga dapat terus mengisi ruang-ruang publik, memberikan manfaat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tentunya, memiliki nafas dalam bergerak dan berjuang diranah keagamaan, kemasyarakatan, maupun kemanusiaan untuk Indonesia yang berdaulat.

Bersatu, berdaulat, adil dan makmur merupakan cita-cita bangsa Indonesia yang akan terus dikawal dan diwujudkan dalam bentuk yang nyata. Memaknai kemerdekaan yang sesungguhnya ada dalam setiap diri rakyat Indonesia, yakni sejahtera di depan mata. Pemimpin diharapkan tidak hanya sebuah jabatan dan kekuasaan belaka melainkan, itu merupakan tanggung jawab untuk terus mengayomi, memberikan perubahan dan mensejahterakan rakyat Indonesia. []


Penulis :  IMMawati Sultra
Editor  :  Zainul Abidin An- Suma