JAKARTA – Presiden Asian Conference of Religions for Peace (ACRP) Prof. Din Syamsudin mengecam aksi teror dalam bentuk apapun. Sebab, aksi teror atau terorisme adalah kejahatan luar biasa yang dapat merusak kemanusiaan. Apalagi, kata Din, aksi teror itu dilakukan dengan mengaitkan agama.

“Maka tidak benar kalau ada yang menuduh Islam sebagai agama terorisme,” ujar Din menjelaskan dalam pengajian bulanan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang ditayangkan TVMu dengan tema “Pemberantasan Terorisme yang Pancasilais dan Komprehensif”, di Jakarta, Jumat (8/4).

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menuturkan, terorisme sebenarnya tidak terkait dengan agama apapun. Namun, terang dia, aksi teror yang telah terjadi, selalu dikaitkan dengan Islam. Dan itu, kata dia, dapat juga terlihat dengan adanya generalisasi terhadap seluruh umat Islam yang dilakukan pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Merusak citra,” tegas Din yang menyesalkan adanya stereotipe terhadap Islam. Akibat stereotipe ini, Din melanjutkan, terutama di Amerika Serikat dan di Eropa, muncul dengan skala besar yaitu ketakutan pada Islam atau islamophobia.

Sehingga, Din memberitahukan, negara-negara barat itu, melakukan tindakan yang tidak tepat dalam menanggulangi terorisme. Yakni, kata dia, banyak negara melawan terorisme selalu dengan peperangan. “War on terror diakui menempuh jalan yang salah,” ujar Din menegaskan ihwal pandangan banyak pihak terkait war on terror.

Bahkan, program deradikalisasi yang digaungkan oleh Amerika Serikat itu, menurut Din, adalah tindakan yang sebenarnya memunculkan radikalisme itu sendiri. “Saya meyakini program deradikalisasi ini adalah proyek Amerika Serikat,” katanya.

Tak terkecuali di Indonesia, sambung Din, deradikalisasi yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) justru melanggengkan terorisme. “Deradikalisasi selama ini menempuh jalan yang keliru,” ucap Din yang tengah melaksanakan tugasnya di Wina.

Karena itu, ia berharap, penanggulangan terorisme haruslah dilakukan secara komprehensif. Atau, kata dia, tidak menggunakan cara berpikir yang sempit seperti analogi menggunakan kacamata kuda. Yaitu tidak hanya melihat sumber penyebab adanya terorisme karena faktor ideologi.

Namun, Din menegaskan, faktor lain penyebab adanya terorisme adalah kesenjangan, ketidakadilan ekonomi dan politik. Lalu, faktor lainnya adalah adanya pihak tertentu yang melakukan standar ganda dalam menyelesaikan konflik Palestina-Israel.

Dan tak kalah besarnya, penyebab lahirnya terorisme, kata Din, yakni faktor penunggangan. Faktor ini ada karena ada yang memiliki kepentingan terhadap terorisme itu. Ini dimunculkan, terang dia, tak lain juga untuk mendiskreditkan Islam.

Din mendorong, agar Pemerintah Indonesia, Polri, dan masyarakat sipil untuk duduk bersama memberantas terorisme itu secara komprehensif.

“Ini tiada lain adalah membela kebenaran dan keadilan,” kata Din mengakhiri.

Sumber:

http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-5579-detail-din-deradikalisasi-jalan-yang-keliru.html


Jawa Timur – Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf dalam sambutannya di acara pembukaan Rakornas Lazismu mengatakan, Rakornas Lazismu yang berlangsung di The Sun Hotel, Sidoarjo, Kamis (7/3) diharapkan menghasilkan keputusan yang berkualitas. Sehingga dapat memberikan dampak yang positif bagi perjalanan bangsa Indonesia. Mengingat, potensi zakat di Indonesia sangat besar.

“Saya berharap, keputusan-keputusan Rakernas nantinya dapat menginspirasi dan menjadi stimulus bagi lembaga lainnya untuk selalu lebih baik,” kata Gus Ipul. Dia menambahkan, zakat adalah urusan yang sangat penting. Menurutnya, akses untuk berzakat harus dipermudah dan lembaganya harus dipercaya.

Maka dari itu, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini berharap, Rakornas ini dapat menjadi pelopor dalam mempermudah zakat. Baik dari segi akses, administrasi dan juga transparansi. “Saya yakin banyak orang yang mau zakat. Tapi mereka merasa kesulitan. Mungkin salah satu faktor pelancar orang agar mau zakat adalah caranya harus gampang, tidak repot, alamat jelas, dan lembaganya dipercaya. Acara ini harus bisa memperjelas alamat buat zakat. Terus terang Lazismu selama ini aksesnya belum jelas,” tuturnya.

Gus Ipul menyarankan, setiap gedung milik Muhammadiyah memiliki ruangan untuk Lazismu. Hal ini bertujuan untuk mempermudah masyarakat jika berzakat. “Biar mudah dijangkau, kalau bisa setiap gedung milik Muhammadiyah ada Lazismu. Misalnya di kantor-kantor PWM, PDM, dan sekolah-sekolah. Lazismu diberi ruangan khusus. Catnya juga harus khusus. Seperti franchise. Tidak hanya ruangannya, tenaganya juga harus khusus pula. Dengan begitu, maka Lazismu akan mudah diakses dan terpercaya,” usulnya.

Menurut Saifullah, sudah saatnya Muhammadiyah memperkuat lazismu. Kalau hal ini bisa dilakukan, lanjut Saifullah, maka akan banyak yg bisa dilakukan Muhammadiyah. Lazismu harus menjadi lembaga yang modern, terukur dan nyaman. “Kita sedang berpacu dengan waktu. ada MEA, dan globalisasi. Persaingan semakin ketat. baik antar negara maupun juga persaingan swasta yang ada di negara masing-masing. Muhammadiyah harus menjadi motor dalam kemenangan semua lini. Jika Muhammadiyah maju, saya pun ikut senang,” pungkasnya.

Sumber:
http://sidoarjo.muhammadiyah.or.id/berita-5573-detail-wagub-jatim-gus-ipul-saya-senang-kalau-muhammadiyah-maju.html


Jakarta – Bersamaan dengan kedatangan Ketua dan Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Yunahar Ilyas dan DR Agung Danarto, ke Inggris untuk berceramah, berbagai agenda kegiatan lain juga diikutkan. Salah satunya adalah Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah United Kingdom (Inggris Raya) melakukan silaturahim ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di London, (4/6). Acara berjalan lancar, karena Duta Besar RI untuk kerajaan Inggris Raya, Dr Rizal Sukma, sendiri yang menyambut.

Dalam pertemuan itu, ketua PCIM UK, Zain Maulana (PhD Kandidat, Leeds University), bersama Dr Abram Perdana (Penasihat PCIM UK) dan beberapa pimpinan menyampaikan agenda dan program PCIM UK dua tahun ke depan. Diantaranya Muhammadiyah International Forum (MIF), yang akan bekerjasama dengan sejumlah NGO di UK dan pemaparan beberapa program lainnya. “Ke depan, kami berharap dapat bersinergi dengan KBRI dalam upaya menampilkan wajah Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin serta Indonesia yang ramah dan damai,” jelas Zain Maulana.

Duta Besar pun, Rizal Sukma, menyambut sangat baik sejumlah program dan agenda dakwah PCIM UK. Dia justru menekankan bahwa sinergi antara KBRI dengan elemen masyarakat Indonesia, termasuk Muhammadiyah, yang sudah berkontribusi besar bagi umat Islam dan bangsa Indonesia sangat penting dan harus ditingkatkan. “Sinergi ini sangat penting, dan harus kita tingkatkan pada masa mendatang,” jelas Rizal.

Silaturahim antara PCIM UK dan Duta Besar RI kali ini merupakan momentum yang tepat. Sebab, Rizal Sukma baru saja memulai tugasnya sebagai Dubes RI di London pada Februari 2016 kemarin.

Sumber:
http://inggris.muhammadiyah.or.id/berita-5574-detail-pcim-united-kingdom-perkuat-sinergi-muhammadiyahkbri-inggris.html


JAKARTA – Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-70 dinilai bisa dijadikan momentum memperkuat ideologi Pancasila, terutama mencegahbahaya paham radikalisme dan terorisme.

“Sebagai generasi muda, kami ingin memperkuat ideologi Pancasila demi kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu kami juga harus tetap konsisten dalam memperjuangkan cita-cita luhur founding father Indonesia yang dulu berjuang sampai titik darah penghabisan untuk membawa Indonesia menjadi negara merdeka,” papar Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) DKI Jakarta Fadli Ferryansyah, dalam rilisnya, Rabu (5/8).

Alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah melanjutkan bahwa ideologi Pancasilan dan NKRI itu penangkal bagi kelompok atau perseorangan yang menyebarkan atau menganut paham yang tidak sesuai nilai-nilai Pancasila.

Sejauh ini, lanjut Fadli, IMM DKI Jakarta telah melaksanakan kegiatan konkret berupa pengaderan yang tidak hanya memperkenalkan ideologi kemuhamadiyahan, tetapi juga ideologi kebangsaan.

Fadli menambahkan, dalam pengamatannya saat ini segmentasi propaganda dan penyebaran paham radikalisme dan terorisme berbeda. Kalau dulu, mereka menyasar kaum marjinal seperti masyarakat desa, tapi sekarangmereka membidik kamu intelektual.

“Pergerakan mereka ini dengan membangun ‘sekoci-sekoci’ lembaga yang memang tidak terlihat dari luar. Jadi secara kasat mata gerakan itu sebenarnya adalah ideologi radikal. Di kalangan mahasiswa, biasanya mereka memanfaatkan tugas makalah dengan membuat artikel berbau ideologi radikalisme,” ungkap Fadli.

Sumber:

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/08/05/nslcy6346-tangkal-radikalisme-imm-dki-tak-hanya-ajarkan-kemuhammadiyahan

Poto: www.monitor.day


Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, mengapresiasi konferensi internasional untuk memerangi terorisme yang diadakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Menurutnya, konferensi tersebut menjadi salah satu cara cerdas memerangi terorisme.

“Saya sambut baik kegiatan ini. Sebagai bentuk apresiasi, kami atas nama gubernur dan saya secara pribadi menyambut dan menjamu seluruh peserta konferensi internasional pemuda untuk melawan terorisme dalam acara jamuan makan malam di Balai Agung. Satu tempat yang sangat prestisius di Balai Kota,” kata Djarot di Balai Agung, Balai Kota, Jakarta, Minggu 13 Maret 2016.

Djarot mengatakan tindakan terorisme memang harus diantisipasi melalui pemahaman agama. Lalu perlu juga dipahami bahwa kekerasan dan pembunuhan untuk tujuan politik benar-benar diharamkan.

“Terorisme bisa dilakukan dengan teknologi informasi dengan merekrut pemuda yang belum paham tentang nilai Islam untuk dicuci otaknya. Indonesia sebagai negara yang sangat heterogen rawan terhadap tindakan terorisme. Tapi Indonesia mempunyai ideologi pemersatu yaitu Pancasila,” papar Djarot.

Ia menilai tindakan terorisme untuk mencuci otak para pemuda tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di dunia. Sehingga konferensi ini dinilai memainkan peran penting untuk memerangi terorisme.

Sumber:

http://sangpencerah.com/2016/03/wagub-dki-jakarta-apresiasi-cara-cerdas-imm-dalam-perangi-terorisme.html


Jakarta – Pengurus DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) DKI mengundang Calon Gubernur DKI Jakarta Muhamad Idrus memaparkan visi misinya dalam diskusi bertajuk “Konsep dan Arah Kebijakan Pembangunan Pemerintah DKI Jakarta Tinjauan Ekonomi dan Local Wisdom”, Kamis (24/3/2016) kemarin. Selain Bang Idrus, hadir pula sebagai pembicara dosen FKIP Uhamka, Abu Bakar.

Dalam acara yang berlangsung di Kampus B FKIP UHAMKA, Pasar Rebo, Jakarta Timur itu, Penyandang dana Rumah Sakit “Tanpa Kasir” Ibnu Sina ini mengungkapkan, tingginya angka kesenjangan ekonomi di Jakarta dan rendahnya penyerapan anggaran APBD DKI mengindikasikan Provinsi DKI Jakarta tidak bisa memaksimalkan potensi yang dimiliki.

Jumlah pendapatan dalam APBD DKI 2016 adalah Rp 58,2 triliun. Sisa lebih perhitungan anggaran (SILPA) tahun sebelumnya adalah Rp 7,9 triliun. Sehingga, total nilai APBD DKI 2016 adalah Rp 66, 37 triliun. Sementara, jumlah belanja langsung dan tidak langsung mencapai Rp Rp 59 triliun. Dengan itu, seharusnya Pemerintah DKI Jakarta bisa melakukan banyak hal. “Ke depan salah satu program Jakarta Keren 1 Miliar 1 RW per tahun,” tegas Bang Idrus.

idrus

“Untuk membangun DKI Jakarta ke depan harus merata dan dimulai level terendah. Kota Jakarta memiliki RW 2709 buah dikali 1 milyar hanya 2,709 T belum sampai 5 % dari total APBD DKI 2016. Ini yang akan menjadi penggerak ekonomi masyarakat Jakarta kedepan” jelas Bang Idrus.

Bang Idrus juga menerangkan visi misinya, termasuk konsep#JakartaKEREN. Ia mengatakan, #JakartaKEREN tidak menghakimi siapapun dan untuk semua. Sosok yang disebut sebagai Darah Baru Jakarta ini juga menekankan pentingnya menghormati dan menghargai siapapun yang pernah memimpin DKI Jakarta. Karena mereka semua merupakan bagian dari sejarah kepemimpinan Ibukota.

“Kita harus menghargai siapapun yang pernah memimpin di DKI Jakarta. Ketika Allah takdirkan Basuki tidak jadi gubernur DKI Jakarta, kita hargai beliau sebagai bagian dari sejarah gubernur DKI Jakarta, Pak Jokowi, Bang Foke, Bang Yos serta Mantan Gubernur lainnya adalah bagian dari proses kepemimpinan di DKI Jakarta. Kedepan Kita mulai bangun generasi tanpa dendam,” tegas Bang Idrus.

Sumber:

http://poskotanews.com/2016/03/25/imm-dki-undang-cagub-pks-bang-idrus-paparkan-visi-misi/


Jakarta, (07/04) – Seisi ruangan riuh orang bahasa inggris. Tak disangka, siang itu para kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah STIE Ahmad Dahlan Jakarta (IMM STIEAD) tengah mengikuti kegiatan Sekolah Bahasa.

Sebanyak 16 kader IMM STIEAD mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh antusias.

 “Sekolah Bahasa adalah sebagai wadah bagi para kader untuk lebih mendalami tentang bahasa asing,” tutur Ilmi salah satu peserta Sekolah Bahasa.

Sekolah Bahasa baru diselenggarakan IMM STIEAD pada tahun ini melalui Bidang Keilmuan dengan fokus pendalaman bahasa inggris. Pada kesempatan, hadir Ketua Umum PK. IMM STIE Ahmad Dahlan Jakarta, Khoirul Abidin. “Sekolah Bahasa ini bertujuan untuk memajukan para Kader dengan kemampuan berbahasa asing, dimana kini Bahasa menjadi suatu hal penting dalam membuka jendela dunia,” tuturnya.

Berdasarkan informasi, kegiatan ini diselenggarakan dua kali dalam sebulan, tepatnya di minggu kedua dan keempat. (Yoca)

Generasi muda haruslah menjadi generasi yang sesuai dengan harapan. Gelar yang disematkan sebagai agent of change menuntut generasi muda untuk banyak melakukan perubahan guna memberikan kontribusi berarti bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentu, kepekaan generasi muda terhadap fenomena yang terjadi dewasa ini sangatlah diperlukan sebagai modal untuk menjalankan tugasnya tersebut. Salah satu persoalan yang hari ini menjadi parasit di kalangan generasi muda (akademisi) khususnya mahasiswa adalah menurunnya budaya menulis.

Hilangnya Budaya Menulis

Penyebab utama dari hilangnya budaya menulis diantaranya adalah rendahnya minat membaca di kalangan pelajar. Salah satu penelitian (Rezki Lusanti: 2013) mengatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara minat baca dengan kemampuan menulis.

Kedua, rendahnya kemampuan menulis di kalangan pelajar. Prof. Budi Darma (Guru Besar Emiritus Unesa) mengemukakan tiga hal yang menyebabkan seseorang tidak bisa menulis. Diantaranya, kurangnya kemampuan berpikir kritis, kurangnya kemampuan mengorganisasi pikiran, dan kurangnya kemampuan menggunakan bahasa.

Ketiga, model pembelajaran yang tidak menunjang tertanamnya budaya menulis. Padahal, dalam penelitian (Hardiyanti: ….) bahwa penggunaan model pembelajaran lebih berpengaruh terhadap kemampuan menulis daripada minat baca siswa.

Keempat, maraknya budaya copas (copy paste ) atau flagiatisme. Penyalahgunaan kelebihan internet dalam pemenuhan literasi, menandakan malasnya generasi muda untuk berpikir atau menulis.

Beberapa alasan lain yang menjadi penyebab hilangnya budaya menulis dikalangan pelajar, khususnya mahasiswa (Mukhaer Pakkana: 2014). Pertama, karena adanya sosial media. Penggunaan sosial media yang tidak optimal membuat mahasiswa menjadi malas karena mereka lebih senang menuangkan pemikirannya melalui status (facebook, twitter, bbm, dll). Penulisan yang disingkat-singkat dan struktur bahasa yang tidak benar ini menjadikan remaja tidak dapat dengan utuh menuangkan pemikirannya.

Kedua, lebih tertariknya mahasiswa terhadap budaya ngomong. Padahal, budaya ngomong ini jika sudah dilepas dari mulut, maka sudah menjadi milik publik dan sudah tidak bisa untuk diralat. Sedangkan, budaya menulis sebelum kita publish masih bisa kita perbaiki terlebih dahulu agar menjadi sebuah tulisan yang menarik dan bermanfaat.

Strategi Menumbuhkan

Dalam membangkitkan budaya menulis hal perlu kita lakukan, dintaranya, pertama, mempopulerkan gerakan membaca. Menurut Mukhaer Pakkana (2014) bahwa menumbukan semangat untuk menulis yang terpenting adalah membaca buku. Kemudian, sering membaca tulisan-tulisan pelajar atau mahasiswa lain karena dengan begitu pasti akan tergugah untuk membuat tulisan juga. Cara lain, bisa dengan membaca biografi penulis terkenal agar tumbuh semangat untuk terus menulis.

Kedua, menyelenggarakan pelatihan menulis. Selain menambahkan semangat untuk belajar menulis, kegiatan ini penting dilakukan sebab literatur-literatur berkenaan dengan menulis harus pula dipahami agar terbangunnya paradigma bahwa menulis itu mudah dan menyenangkan. Selain itu, melalui pelatihan ini peserta diarahkan untuk praktik dari setiap materi yang diberikan dalam pelatihan sebagai bentuk follow up. Tujuan lain dari kegiatan ini adalah semata-mata agar potensi menulis terus tergali.

Ketiga, membuat kegiatan dengan mendatangkan penulis terkenal untuk melakukan testimoni. Kegiatan semacam ini bisa membuat para pemula termotivasi untuk terus menulis. Atau bisa juga pengemasannya dalam bentuk kegiatan kunjungan ke beberapa penulis terkenal.

Keempat, membuat komunitas menulis. Jika ingin bisa menulis maka tentu lingkungan para penulislah yang harus menjadi labuhan. Selanjutnya, lingkungan tersebut merupakan wadah belajar bagi para pemula.

Kelima, membuat media (cetak maupun online) dan mengisi mading-mading sekolah atau kampus. Dalam rangka menghidupkan budaya menulis, ketersediaan fasilitas menjadi sangat diperlukan guna mempublikasi setiap karya yang dihasilkan para pemula. Sejalan dengan ini, Mukhaer Pakkana (2014) mengatakan bahwa banyak yang bisa dilakukan untuk mengembangkan potensi menulis. Selain menulis di dunia digital seperti ngeblog, juga bisa menulis untuk mading yang tersedia ataupun dengan mengirim tulisan ke surat-surat kabar. Dengan demikan, menulis tidak hanya dijadikan hobi akan tetapi menjadi sebuah karya yang mendulang rezeki bagi sang penulis.

Keenam, membumikan gerakan optimalisasi Sosial Media (sosmed). Realitasnya, pelajar atau mahasiswa lebih pede jika menulis status di facebook, twitter, dan sosmed lainnya. Sebetulnya, bagi para pemula hadirnya sosmed bisa membantu dan menjadi media baru dalam mengembangkan potensi menulis, selain blog. Penggunaannya bisa untuk semua jenis tulisan dan tentunya dalam hitungan detik semua orang yang kenal maupun tidak dikenal bisa membaca karya yang dipublikasi tersebut.

Ketujuh, membuat lomba menulis. Kegiatan ini sebagai bentuk apresiasi kepada mereka yang memiliki minat menulis yang tinggi atau para pemula. Lebih lanjut lagi, kegiatan ini dalam rangka meningkatkan kualitas tulisan.

Kedepalan, memberikan pemahaman tentang manfaat menulis. Langkah ini perlu dilakukan karena selama ini kegiatan menulis dianggap sebagai aktifitas yang melelahkan. Padahal, selain bisa digunakan sebagai profesi yang menjanjikan, menulis merupakan kegiatan yang mampu meningkatkan kecerdasan seperti yang dikatakan oleh para ahli bidang kesehatan.

Ditulis oleh Suparman (Sekretaris Umum PC. IMM Jakarta Pusat. Pernah menjadi Ketua Umum PK. IMM STIE Ahmad Dahlan Jakarta periode 2013-2014)

* Tulisan ini dipublish di media cetak Tangselpos dan blog pribadi http://suparmankadamin.blogspot.com

Baridin dengan lembut mengetuk pintu rumah yang sedikit terbuka tersebut. Ketika hendak diketuk, pemilik rumah langsung menarik pintu sembari memperlihatkan wajahnya. Tangan Baridin yang sudah terlanjur mengetuk akhirnya mengenai wajah pemilik rumah. Sontak, wajah cantik pemilik rumah langsung berubah menjadi bengis. Baridin yang merasa bersalah pun langsung meminta maaf sambil mengulurkan tangannya dan memasang wajah melas. Seperti tak mau memaafkan, pemilik rumah hanya terdiam sambil memandangi Baridin tetap dengan wajah bengisnya.

“Mbak, saya minta maaf?” ujar Baridin.

“Siapa kau?” tanya pemilik rumah.

“Aku akan jawab pertanyaan Mbak, tapi sebelumnya maafkan aku terlebih dahulu.” tegas Baridin.

“Sebaiknya kau pergi!” usir pemilik rumah.

“Lho, hanya karena ketidaksengajaan Mbak tega mengusir tamu?” kesal Baridin.

“Mas, ini rumah, rumah siapa?” tanya pemilik rumah.

“Siapa? Hah? Siapaaaaaaaaaaa?” teriak Baridin. “Memangnya siapa pemilik rumah rumah ini? Mbak? Hah? Pemilik rumah ini mbak? Mbak, asal Mbak tahu ya, Aku Baridin, baru keluar dari penjara, Aku dipenjara lantaran membunuh orang usianya persis seperti mbak, Aku membunuh Dia karena saat Dia kentut Aku tepat dibelakang Dia. Karena kesal, terpaksa Aku mehabisi nyawanya. Mbak mau macam-macam dengan Aku?” tambah Baridin.

“Mas, sangar-sangar kok ngomongnya pake Aku Kamu?” pemilik rumah bertanya dengan wajah penuh cemas.

“Ya, memangnya kenapa? Kenapa tidak sekalian Mbak komentari baju aku yang warnanya Pink?” Baridin balik bertanya.

“Aku juga tadi bermaksud begitu Mas,” jawab pemilik rumah.

“Oh gitu ya, begini saja, Mbak pilih, kanan rumah sakit, kiri kuburan?” kata Baridin dengan wajah penuh kerut menahan kesal.

“Lho, Mas kok tahu kalau kanan ke arah rumah sakit dan kiri ke kuburan? Mas orang sini ya?” tanya pemilik rumah.

“Argh, dasar, cantik-cantik gitu.” teriak Baridin sambil berlalu pergi meninggalkan rumah tersebut dan juga pemiliknya.

Akan tetapi, setelah berbalik badan, sebelum berjalan, Baridin mengangkat celana, sepertinya melorot. Melihat hal itu, pemilik rumah hanya bisa tertawa kecil, sepertinya takut dibunuh. Diketahui, pemilik rumah bernama Ratmina.

Ditulis oleh Suparman (Sekretaris Umum PC. IMM Jakarta Pusat. Pernah menjadi Ketua Umum PK. IMM Periode 2013-2014)

Andi keluar kelas dengan lunglai. Hari ini tubuhnya sudah sangat lelah. Dua hari sudah ia mengalami insomnia mendadak. Rasanya, ia ingin sekali memejamkan matanya merebahkan tubuh diempuknya double bed kamar. Namun, sejak kejadian dua hari yang lalu, rumahnya seakan hampa, sunyi tak berpenghuni, tak ada lagi tawa renyah seorang bocah tujuh tahunan yang sedang asyik dengan sepeda barunya. Ada titik senyum dari simpul bibir berkumis tipis itu, bayangan saat ia bercanda gurau dengan Reza membuat hatinya menjerit “Kaka kangen kamu, Za”. Andi melirik jam G-Shock di tangan kanannya, “ baru pukul 13.00 WIB, main ahh kerumah Reza” guraunya sendiri sambil melajukan langkahnya ke area parkir kampus.

Tubuh Andi tiba-tiba gemetar, jantungnya memompa lebih cepat, darahnya mengalir deras, airmatanya menyirami breok tipisnya diselebar pipi. “Maafkan kaka, Za….. Jika kaka tak lalai, kau tak mungkin ada ditempat ini sekarang… seharusnya…. aaaaahhhhhhhh….” teriakan Andi seakan tak menjadikan tempat pemakaman umum Karet menjadi riuh ramai.

“Ka…. ka… sedang apa disini? Mengapa dirimu berteriak? Tak ada orang yang bisa kau panggil, hanya ada aku disini” tegur anak kecil berkaus kusam dengan celana jeans pendek yang sudah robek dibagian dengkul. Andi yang kaget dengan kehadiran anak kecil tersebut sedikit memundurkan langkah kakinya.

“Siapa kau?” tanya Andi heran.

“Aku Bimo ka… aku pembersih makam disini, apa kaka mau kubantu untuk membersihkan makam yang kau kunjungi ini?”

“Ini bukan makam yang hendak aku kunjungi” jawab Andi

Andi memandangi Bimo dengan penuh bayangan. Ia merasakan kehadiran Bimo seakan menggantikan adik kesayangannya. Wajah datar nan lugu dengan alis mata tebal seakan menjadi duplikat Reza.

“Hmmmm… kau sudah makan?” tanya Andi sambil menepuk pundak mungil Bimo

“Belum ka… aku belum dapat uang hari ini” jawab Bimo datar

“Apa kau mau menemani kaka makan?”

Dengan penuh kegirangan Bimo menerima ajakan Andi untuk menemaninya makan siang.

*****

Restaurant ini kembali didatangi Andi. Restaurant sederhana yang sengaja didesain seperti taman bermain mini anak-anak.Restaurant favorit Reza.

Andi membawa Bimo kesini untuk menemaninya makan siang. Bimo yang baru pertama kali makan siang di Restaurant sangat kagum dengan desain unik tempat makan ini. Bimo sangat menikmati seluruh permainan yang disediakan, sampai akhirnya Andi mengajak Bimo untuk menyantap hidangan yang telah dipesannya.

“Ka Andi, kenapa yaa aku dan teman-teman di jalanan tidak bisa bersekolah? Padahal Negeri ini kaya, katanya! Bimo selalu tanyakan itu pada Ibu, namun Ibu selalu mengatakan kalau Negeri ini bukan hanya milik kita yang hidup di jalanan dan belum saatnya kita yang merasakan hartanya” celetuk Bimo disela suapan terakhirnya.

“Lantas negeri ini milik siapa Ka? Mimpiku hanya satu, aku bisa bersekolah, belajar menggambar, menulis cerita tentang Ibu, dan menulis surat untuk Ayah agar ia mau kembali. Apa Negeri ini tak mampu mewujudkan cita-citaku?” lanjut Bimo seusai meneguk minumannya.

“Siapa yang beritahu Bimo kalau Negeri ini kaya? tanya Andi panasaran.

“Bimo punya teman, Dika namanya. Ia seorang pengantar koran, setiap pagi sebelum ia berangkat mengantarkan koran pesanan, kami menyempatkan untuk membaca. Yaa…. itung-itung latihan membaca, hehehe…”

“hmmm… aku pernah membaca, Negeri ini punya pesawat mewah harga triliunan rupiah, negeri ini punya gedung bertingkat yang banyak sekali…. bahkan Bimo pernah mendengar negeri ini punya gunung emas di timur sana kan ka? Oiya.. kata Alpin di kampungnya banyak sekali lautan dan sawah dengan milyaran ikan dan padi yang menguning. Sudah cukup kaya kan ka negeri ini?” tanya Bimo dengan nada penasaran.

“Haha.. kau sangat pintar Bimo, kaka tak salah menduga. Kau memang sudah sepantasnya mendapatkan apa yang menjadi hakmu. Namun, kau harus tahu Bimo, negeri ini sudah rapuh, kekayaannya seakan semu.. entahlah siapa yang rakus mengahabiskannya atau memang harta negeri ini belum sanggup membiayai kita semua. Kau tak perlu tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan negeri ini, benar kata ibumu mungkin belum saatnya kau merasakan harta negeri ini. Negeri ini sangat kaya, kata mereka yang bisa merasakannya” Andi menjawab semua pertanyaan Bimo dan mengakhirinya dengan senyuman tipis disudut bibirnya. Andi sangat kagum dengan Bimo, anak seusia belia memiliki mimpi ingin bersekolah. Ada rasa malu dalam dirinya, jika ia ingat sampai diumurnya menginjak 20 tahun, terkadang rasa malas masih menggelayuti pikirannya. Padahal seharusnya ia beruntung, karena dirinya masih diberi kesempatan untuk bersekolah.

“Terimakasih Tuhan, kau buka pemikiran dan semangatku lewat malaikat kecil ini” gumamnya dalam hati.

Ditulis oleh:

Maulidya Khoirunnisa (Kader PK. IMM STIE Ahmad Dahlan Jakarta)


JAKARTA – Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi DKI Jakarta Heru Budi Hartono mendatangi Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Kamis (7/4/2016).

Heru diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan suap anggota DPRD DKI Jakarta terkait revisi Peraturan Daerah tentang Reklamasi.

“Sebagai saksi terkait dugaan penerimaan hadiah atau janji terkait pembahasan Raperda tentang Reklamasi Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil DKI Jakarta periode 2015-2035,” ujar Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha di Gedung KPK, Jakarta, Kamis.

Heru akan diperiksa bagi tersangka Ariesman Widjaja yang merupakan Presiden Direktur PT Agung Podomoro Land.

Selain Heru, penyidik KPK juga memeriksa beberapa pejabat di Pemprov DKI Jakarta dan beberapa pihak swasta.

Kasus yang tengah disidik oleh KPK ini merupakan kelanjutan dari operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK pekan lalu.

Dalam operasi tersebut, KPK menangkap Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, M Sanusi. Ia diduga menerima suap sebesar Rp 2 miliar dari Presiden Direktur PT Agung Podomoro Land Ariesman Widjaja.

Suap ini terkait pembahasan revisi Peraturan Daerah (Perda) tentang Reklamasi Pantai Utara Jakarta.

Heru yang merupakan mantan Wali Kota Jakarta Utara tersebut merupakan salah satu orang yang mendapat tawaran dari Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama “Ahok” untuk menjadi calon wakil gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

Sumber:
http://megapolitan.kompas.com/read/2016/04/07/11162751/Calon.Pendamping.Ahok.pada.Pilkada.DKI.Diperiksa.KPK


Jakarta – Pada hari Selasa, 29 Maret 2016 bertepatan dengan 19 Jumadil Akhir 1437 H, jam 14.00 WIB dilaksanakan Pelantikan Ketua STIE Muhammadiyah Jakarta, untuk masa jabatan November 2015 s/d November 2019.

Acara pelantikan tersebut dibuka dengan pembacaan Alquranul Karim Surah Al Maidah ayat 59 yang dibacakan oleh ananda Ahmad Maulana Yusuf mahasiswa Semester 4 jurusan Manajemen. Kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Himne Muhammadiyah dan Himne STIE Muhammadiyah Jakarta oleh paduan suara STIE Muhammadiyah Jakarta.

Dilantik oleh Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Bapak Prof. Dr. H. Sudarnoto Abdul Hakim, MA yang memberikan pengarahan tentang perlunya profesionalisme dalam pengelolaan perguruan tinggi.

Pelantikan ini sesuai dengan SK Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 62/KEP/I.0/D/2016 tentang penetapan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Jakarta masa jabatan 2015-2019

Bapak Enong Muiz dalam pidato pengangkatannya membicarakan mengenai masalah pembangunan gedung STIE Muhammadiyah Jakarta baik dari Sarana dan prasarana yang akan terus ditingkatkan dan juga akan terus meningkatkan kualitas SDM untuk meningkatkan pelayanan dan mutu.

Bapak Prof. Dr. Haryono Umar, Ak, M.Sc selaku Guru Besar dan juga Ketua BPH STIE Muhammadiyah Jakarta ikut memberikan pidato dan pengarahan pada pelantikan Ketua STIE Muhammadiyah Jakarta tersebut.

Sekretaris PWM Jakarta Bapak Nuswantoro saat memberikan pidato pengarahan pada pelatikan ketua STIE Muhammadiyah Jakarta periode 2015-2019

Pelantikan dimulai jam 14.00 dan diakhiri jam 16.00.

Sumber:
http://www.stmikmj.ac.id/site/index.php/id/2013-09-09-05-45-48/campus/43-pengajian-stmik-muhammadiyah-jakarta


Kuliah agama dengan topik hakikat ibadah oleh Syeikh ‘Adil al-As’ad al-Su’udi (dari Arab Saudi) di hadapan para dosen dan karyawan STMIK Muhammadiyah Jakarta dipandu oleh Ust. M. Zuhdi Zaini dosen Al-Islam & Kemuhammadiyahan (lulusan S3 Iran).

Alhamdulillah dua kutub yang berbeda (Arab Saudi dan Iran) telah mewarnai pengajian di STMIK Muhammadiyah Jakarta. Semoga ini menambah nilai ibadah sebagaimana tema yang diangkat.

Sumber:
http://www.stmikmj.ac.id/site/index.php/id/2013-09-09-05-45-48/campus/43-pengajian-stmik-muhammadiyah-jakarta


JAKARTA – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta Tuty Kusumawati diperiksa selama 9 jam oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (7/4/2016) terkait kasus dugaan suap terkait Raperda Rencana Zonasi dan Tata Ruang.

Tuty mengaku ditanya oleh penyidik KPK seputar revisi Peraturan Daerah (Perda) tentang Reklamasi.

(Baca juga: KPK Cegah Staf Khusus Ahok dan Direktur Agung Sedayu).

Salah satunya, ia menjelaskan soal kewajiban 15 persen bagi perusahaan pengembang yang ikut dalam proyek reklamasi Pantai Utara Jakarta.

Menurut Tuty, pada prinsipnya Pemprov DKI Jakarta tetap meminta agar kontribusi 15 persen bagi pengembang tersebut disepakati.

“Poin yang kita belum sepakat, yang kemudian ada tulisan Pak Gubernur itu,” kata Tuty sebelum meninggalkan Gedung KPK, Kamis malam.

Adapun hitungan pengenaan tambahan kontribusi sebagai satu dari tiga kewajiban pengembang dihitung dengan rumusan 15 persen dikali nilai NJOP dikali saleable area sebuah pulau.

Selain Tuty, hari ini KPK memeriksa Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi DKI Jakarta Heru Budi Hartono dan Asisten Pembangunan Lingkungan Hidup Sekretaris Daerah DKI Jakarta Gamal Sinurat.

(Baca juga: Diperiksa KPK, Heru Budi Hartono Jelaskan soal Hak Pengelolaan Lahan di Pulau Reklamasi).

Ketiganya diperiksa sebagai saksi bagi tersangka kasus dugaan suap Raperda Rencana Zonasi dan Tata Ruang, Ariesman Widjaja, yang merupakan Presiden Direktur PT Agung Podomoro Land.

Kasus yang tengah disidik oleh KPK ini merupakan kelanjutan dari operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK pekan lalu.

Dalam operasi tersebut, KPK menangkap Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, M Sanusi.

Ia diduga menerima suap sebesar Rp 2 miliar dari Presiden Direktur PT Agung Podomoro Land Ariesman Widjaja terkait pembahasan Raperda tentang Reklamasi Pantai Utara Jakarta.

Sumber:
http://megapolitan.kompas.com/read/2016/04/07/22043251/Diperiksa.KPK.Kepala.Bapedda.DKI.Jelaskan.Kewajiban.15.Persen.bagi.Pengembang.Reklamasi

JAKARTA, KOMPAS.com – Puluhan pelajar berseragam SLTA terlibat tawuran di kawasan Gandaria, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (7/4/2016) sore.

Salah satu kelompok pelajar yang taawuran diduga merupakan siswa dari salah satu SMK Negeri di Jakarta ini. Mereka berkonvoi merayakan berakhirnya Ujian Nasional dengan mengenakan seragam yang penuh coretan cat semprot.

Tawuran terjadi saat kelompok pelajar SMK itu bertemu kelompok pelajar lainnya. Beberapa di antara para pelajar itu nampak membawa tongkat kayu, senjata tajam, dan ada pula yang melempar benda-benda keras.

Aksi tawuran para pelajar ini sempat menimbulkan kemacetan di sekitar lokasi. Meski terlihat panik, tapi warga di lokasi kejadian berusaha melerai tawuran tersebut.

“Di sini sering banget tawuran. Kemarin di Radio Dalam juga ada,” kata Aji, warga yang beprofesi sebagai satpam di dekat lokasi kejadian.

Kepala Humas Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Purwanta mengatakan aksi tawuran pelajar usai mengikuti UN memang kerap terjadi. Untuk itu, ia telah menginstruksikan jajarannya untuk siaga setelah UN berakhir.

“Polisi sudah ter-ploting di setiap sekolah untuk mengantisipasi tawuran setelah UN. Kita akan tangkap sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata Purwanta saat dihubungi.

Dia meminta beberapa petugas dari Polsek Kebayoran Lama dan Kebayoran Baru lebih mengawasi wilayah yang rawan terjadi tawuran itu.

“Jangan sampai karena euforia yang berlebihan maka terjadi kejadian yang tidak diinginkan. Tugas polisi mengamankan agar setelah UN ketertiban dan kenyamanan di lingkungan tetap terjaga,” pungkasnya.

Sumber:
http://megapolitan.kompas.com/read/2016/04/07/20361001/Usai.UN.Pelajar.Tawuran.di.Kebayoran


Jakarta – Rektor UHAMKA Prof. Dr. H. Suyatno, M.Pd (kiri), Perwakilan Kedubes Jerman Deniz Sertcan (tengah) dan Wakil Rektor I Dr. H. Gunawan Suryoputro, M. Hum (kanan) saat penyerahan cinderamata. (foto: dokumen Humas UHAMKA)

Sebagai bentuk komitmen mencetak lulusan yang berkualitas, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA) bekerja sama dengan pemerintah Jerman mengadakan workshop sosialisasi bantuan tenaga ahli dari Jerman untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Indonesia. Deniz Sertcan, Bagian Kerjasama Pembangunan Kedutaan Besar Jerman turut hadir memberikan sambutan pembuka.

Kegiatan workshop dilaksanakan dalam rangka peningkatan kualitas tenaga pengajar perguruan tinggi sebagai penyedia sumber daya manusia, khususnya untuk mengahadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN. Workshop kerjasama dengan Senior Experten Service (SES) ini akan dilaksanakan selama dua hari, 11-12 Januari 2015 di Hotel Amarossa, Jakarta. Sebanyak 18 Perguruan Tinggi Muhammadiyah hadir sebagai peserta workshop.

Sosialisasi ini dilakukan agar para dosen memahami persyaratan dan prosedur pengajuan bantuan tenaga ahli, serta asistensi penulisan proposal pengajuan bantuan tenaga ahli. “Bantuan Jerman merupakan suatu berkah. Untuk mendapatkan bantuan tidak begitu saja diberikan. Kita harus membuat proposal project” kata Rektor UHAMKA Prof. Dr. H. Suyatno, M.Pd di Hotel Amarossa, Jakarta, Senin (11/1).

Bagi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), workshop sosialisasi bantuan tenaga ahli Jerman merupakan upaya peningkatan kualitas dosen, kualitas akademik, dan secara khusus kualitas kurikulum untuk mewujudkan target menjadi perguruan tinggi yang memiliki keungggulan di bidang pendidikan (excellent teaching university). Wakil Rektor I UHAMKA Dr. H. Gunawan Suryoputro, M.Hum, mengatakan “bantuan tenaga ahli Jerman memiliki kualifikasi yang tinggi. Rata-rata mereka adalah pensiunan perguruan tinggi. Harapannya di tahun 2020 UHAMKA memiliki SDM yang terkualifikasi sesuai dengan standar perguruan tinggi yang unggul”.

Selama dua hari, peserta workshop akan ikut merumuskan kebutuhan tenaga ahli Jerman sekaligus menyelesaikan proposal kebutuhan pengajuan tenaga ahli agar dapat segera direalisasikan pada tahun 2016. Bantuan yang diberikan pemerintah Jerman hanya berupa tenaga ahli yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perguruan tinggi.

Sumber:
http://uhamka.ac.id/uhamka/hadapi-mea-uhamka-datangkan-tenaga-ahli-jerman/
Powered by Blogger.