Negeri Ini Kaya, Katanya!

Andi keluar kelas dengan lunglai. Hari ini tubuhnya sudah sangat lelah. Dua hari sudah ia mengalami insomnia mendadak. Rasanya, ia ingin sekali memejamkan matanya merebahkan tubuh diempuknya double bed kamar. Namun, sejak kejadian dua hari yang lalu, rumahnya seakan hampa, sunyi tak berpenghuni, tak ada lagi tawa renyah seorang bocah tujuh tahunan yang sedang asyik dengan sepeda barunya. Ada titik senyum dari simpul bibir berkumis tipis itu, bayangan saat ia bercanda gurau dengan Reza membuat hatinya menjerit “Kaka kangen kamu, Za”. Andi melirik jam G-Shock di tangan kanannya, “ baru pukul 13.00 WIB, main ahh kerumah Reza” guraunya sendiri sambil melajukan langkahnya ke area parkir kampus.

Tubuh Andi tiba-tiba gemetar, jantungnya memompa lebih cepat, darahnya mengalir deras, airmatanya menyirami breok tipisnya diselebar pipi. “Maafkan kaka, Za….. Jika kaka tak lalai, kau tak mungkin ada ditempat ini sekarang… seharusnya…. aaaaahhhhhhhh….” teriakan Andi seakan tak menjadikan tempat pemakaman umum Karet menjadi riuh ramai.

“Ka…. ka… sedang apa disini? Mengapa dirimu berteriak? Tak ada orang yang bisa kau panggil, hanya ada aku disini” tegur anak kecil berkaus kusam dengan celana jeans pendek yang sudah robek dibagian dengkul. Andi yang kaget dengan kehadiran anak kecil tersebut sedikit memundurkan langkah kakinya.

“Siapa kau?” tanya Andi heran.

“Aku Bimo ka… aku pembersih makam disini, apa kaka mau kubantu untuk membersihkan makam yang kau kunjungi ini?”

“Ini bukan makam yang hendak aku kunjungi” jawab Andi

Andi memandangi Bimo dengan penuh bayangan. Ia merasakan kehadiran Bimo seakan menggantikan adik kesayangannya. Wajah datar nan lugu dengan alis mata tebal seakan menjadi duplikat Reza.

“Hmmmm… kau sudah makan?” tanya Andi sambil menepuk pundak mungil Bimo

“Belum ka… aku belum dapat uang hari ini” jawab Bimo datar

“Apa kau mau menemani kaka makan?”

Dengan penuh kegirangan Bimo menerima ajakan Andi untuk menemaninya makan siang.

*****

Restaurant ini kembali didatangi Andi. Restaurant sederhana yang sengaja didesain seperti taman bermain mini anak-anak.Restaurant favorit Reza.

Andi membawa Bimo kesini untuk menemaninya makan siang. Bimo yang baru pertama kali makan siang di Restaurant sangat kagum dengan desain unik tempat makan ini. Bimo sangat menikmati seluruh permainan yang disediakan, sampai akhirnya Andi mengajak Bimo untuk menyantap hidangan yang telah dipesannya.

“Ka Andi, kenapa yaa aku dan teman-teman di jalanan tidak bisa bersekolah? Padahal Negeri ini kaya, katanya! Bimo selalu tanyakan itu pada Ibu, namun Ibu selalu mengatakan kalau Negeri ini bukan hanya milik kita yang hidup di jalanan dan belum saatnya kita yang merasakan hartanya” celetuk Bimo disela suapan terakhirnya.

“Lantas negeri ini milik siapa Ka? Mimpiku hanya satu, aku bisa bersekolah, belajar menggambar, menulis cerita tentang Ibu, dan menulis surat untuk Ayah agar ia mau kembali. Apa Negeri ini tak mampu mewujudkan cita-citaku?” lanjut Bimo seusai meneguk minumannya.

“Siapa yang beritahu Bimo kalau Negeri ini kaya? tanya Andi panasaran.

“Bimo punya teman, Dika namanya. Ia seorang pengantar koran, setiap pagi sebelum ia berangkat mengantarkan koran pesanan, kami menyempatkan untuk membaca. Yaa…. itung-itung latihan membaca, hehehe…”

“hmmm… aku pernah membaca, Negeri ini punya pesawat mewah harga triliunan rupiah, negeri ini punya gedung bertingkat yang banyak sekali…. bahkan Bimo pernah mendengar negeri ini punya gunung emas di timur sana kan ka? Oiya.. kata Alpin di kampungnya banyak sekali lautan dan sawah dengan milyaran ikan dan padi yang menguning. Sudah cukup kaya kan ka negeri ini?” tanya Bimo dengan nada penasaran.

“Haha.. kau sangat pintar Bimo, kaka tak salah menduga. Kau memang sudah sepantasnya mendapatkan apa yang menjadi hakmu. Namun, kau harus tahu Bimo, negeri ini sudah rapuh, kekayaannya seakan semu.. entahlah siapa yang rakus mengahabiskannya atau memang harta negeri ini belum sanggup membiayai kita semua. Kau tak perlu tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan negeri ini, benar kata ibumu mungkin belum saatnya kau merasakan harta negeri ini. Negeri ini sangat kaya, kata mereka yang bisa merasakannya” Andi menjawab semua pertanyaan Bimo dan mengakhirinya dengan senyuman tipis disudut bibirnya. Andi sangat kagum dengan Bimo, anak seusia belia memiliki mimpi ingin bersekolah. Ada rasa malu dalam dirinya, jika ia ingat sampai diumurnya menginjak 20 tahun, terkadang rasa malas masih menggelayuti pikirannya. Padahal seharusnya ia beruntung, karena dirinya masih diberi kesempatan untuk bersekolah.

“Terimakasih Tuhan, kau buka pemikiran dan semangatku lewat malaikat kecil ini” gumamnya dalam hati.

Ditulis oleh:

Maulidya Khoirunnisa (Kader PK. IMM STIE Ahmad Dahlan Jakarta)