Menumbuhkan Budaya Menulis

Generasi muda haruslah menjadi generasi yang sesuai dengan harapan. Gelar yang disematkan sebagai agent of change menuntut generasi muda untuk banyak melakukan perubahan guna memberikan kontribusi berarti bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentu, kepekaan generasi muda terhadap fenomena yang terjadi dewasa ini sangatlah diperlukan sebagai modal untuk menjalankan tugasnya tersebut. Salah satu persoalan yang hari ini menjadi parasit di kalangan generasi muda (akademisi) khususnya mahasiswa adalah menurunnya budaya menulis.

Hilangnya Budaya Menulis

Penyebab utama dari hilangnya budaya menulis diantaranya adalah rendahnya minat membaca di kalangan pelajar. Salah satu penelitian (Rezki Lusanti: 2013) mengatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara minat baca dengan kemampuan menulis.

Kedua, rendahnya kemampuan menulis di kalangan pelajar. Prof. Budi Darma (Guru Besar Emiritus Unesa) mengemukakan tiga hal yang menyebabkan seseorang tidak bisa menulis. Diantaranya, kurangnya kemampuan berpikir kritis, kurangnya kemampuan mengorganisasi pikiran, dan kurangnya kemampuan menggunakan bahasa.

Ketiga, model pembelajaran yang tidak menunjang tertanamnya budaya menulis. Padahal, dalam penelitian (Hardiyanti: ….) bahwa penggunaan model pembelajaran lebih berpengaruh terhadap kemampuan menulis daripada minat baca siswa.

Keempat, maraknya budaya copas (copy paste ) atau flagiatisme. Penyalahgunaan kelebihan internet dalam pemenuhan literasi, menandakan malasnya generasi muda untuk berpikir atau menulis.

Beberapa alasan lain yang menjadi penyebab hilangnya budaya menulis dikalangan pelajar, khususnya mahasiswa (Mukhaer Pakkana: 2014). Pertama, karena adanya sosial media. Penggunaan sosial media yang tidak optimal membuat mahasiswa menjadi malas karena mereka lebih senang menuangkan pemikirannya melalui status (facebook, twitter, bbm, dll). Penulisan yang disingkat-singkat dan struktur bahasa yang tidak benar ini menjadikan remaja tidak dapat dengan utuh menuangkan pemikirannya.

Kedua, lebih tertariknya mahasiswa terhadap budaya ngomong. Padahal, budaya ngomong ini jika sudah dilepas dari mulut, maka sudah menjadi milik publik dan sudah tidak bisa untuk diralat. Sedangkan, budaya menulis sebelum kita publish masih bisa kita perbaiki terlebih dahulu agar menjadi sebuah tulisan yang menarik dan bermanfaat.

Strategi Menumbuhkan

Dalam membangkitkan budaya menulis hal perlu kita lakukan, dintaranya, pertama, mempopulerkan gerakan membaca. Menurut Mukhaer Pakkana (2014) bahwa menumbukan semangat untuk menulis yang terpenting adalah membaca buku. Kemudian, sering membaca tulisan-tulisan pelajar atau mahasiswa lain karena dengan begitu pasti akan tergugah untuk membuat tulisan juga. Cara lain, bisa dengan membaca biografi penulis terkenal agar tumbuh semangat untuk terus menulis.

Kedua, menyelenggarakan pelatihan menulis. Selain menambahkan semangat untuk belajar menulis, kegiatan ini penting dilakukan sebab literatur-literatur berkenaan dengan menulis harus pula dipahami agar terbangunnya paradigma bahwa menulis itu mudah dan menyenangkan. Selain itu, melalui pelatihan ini peserta diarahkan untuk praktik dari setiap materi yang diberikan dalam pelatihan sebagai bentuk follow up. Tujuan lain dari kegiatan ini adalah semata-mata agar potensi menulis terus tergali.

Ketiga, membuat kegiatan dengan mendatangkan penulis terkenal untuk melakukan testimoni. Kegiatan semacam ini bisa membuat para pemula termotivasi untuk terus menulis. Atau bisa juga pengemasannya dalam bentuk kegiatan kunjungan ke beberapa penulis terkenal.

Keempat, membuat komunitas menulis. Jika ingin bisa menulis maka tentu lingkungan para penulislah yang harus menjadi labuhan. Selanjutnya, lingkungan tersebut merupakan wadah belajar bagi para pemula.

Kelima, membuat media (cetak maupun online) dan mengisi mading-mading sekolah atau kampus. Dalam rangka menghidupkan budaya menulis, ketersediaan fasilitas menjadi sangat diperlukan guna mempublikasi setiap karya yang dihasilkan para pemula. Sejalan dengan ini, Mukhaer Pakkana (2014) mengatakan bahwa banyak yang bisa dilakukan untuk mengembangkan potensi menulis. Selain menulis di dunia digital seperti ngeblog, juga bisa menulis untuk mading yang tersedia ataupun dengan mengirim tulisan ke surat-surat kabar. Dengan demikan, menulis tidak hanya dijadikan hobi akan tetapi menjadi sebuah karya yang mendulang rezeki bagi sang penulis.

Keenam, membumikan gerakan optimalisasi Sosial Media (sosmed). Realitasnya, pelajar atau mahasiswa lebih pede jika menulis status di facebook, twitter, dan sosmed lainnya. Sebetulnya, bagi para pemula hadirnya sosmed bisa membantu dan menjadi media baru dalam mengembangkan potensi menulis, selain blog. Penggunaannya bisa untuk semua jenis tulisan dan tentunya dalam hitungan detik semua orang yang kenal maupun tidak dikenal bisa membaca karya yang dipublikasi tersebut.

Ketujuh, membuat lomba menulis. Kegiatan ini sebagai bentuk apresiasi kepada mereka yang memiliki minat menulis yang tinggi atau para pemula. Lebih lanjut lagi, kegiatan ini dalam rangka meningkatkan kualitas tulisan.

Kedepalan, memberikan pemahaman tentang manfaat menulis. Langkah ini perlu dilakukan karena selama ini kegiatan menulis dianggap sebagai aktifitas yang melelahkan. Padahal, selain bisa digunakan sebagai profesi yang menjanjikan, menulis merupakan kegiatan yang mampu meningkatkan kecerdasan seperti yang dikatakan oleh para ahli bidang kesehatan.

Ditulis oleh Suparman (Sekretaris Umum PC. IMM Jakarta Pusat. Pernah menjadi Ketua Umum PK. IMM STIE Ahmad Dahlan Jakarta periode 2013-2014)

* Tulisan ini dipublish di media cetak Tangselpos dan blog pribadi http://suparmankadamin.blogspot.com