Baridin ‘Keki’

Baridin dengan lembut mengetuk pintu rumah yang sedikit terbuka tersebut. Ketika hendak diketuk, pemilik rumah langsung menarik pintu sembari memperlihatkan wajahnya. Tangan Baridin yang sudah terlanjur mengetuk akhirnya mengenai wajah pemilik rumah. Sontak, wajah cantik pemilik rumah langsung berubah menjadi bengis. Baridin yang merasa bersalah pun langsung meminta maaf sambil mengulurkan tangannya dan memasang wajah melas. Seperti tak mau memaafkan, pemilik rumah hanya terdiam sambil memandangi Baridin tetap dengan wajah bengisnya.

“Mbak, saya minta maaf?” ujar Baridin.

“Siapa kau?” tanya pemilik rumah.

“Aku akan jawab pertanyaan Mbak, tapi sebelumnya maafkan aku terlebih dahulu.” tegas Baridin.

“Sebaiknya kau pergi!” usir pemilik rumah.

“Lho, hanya karena ketidaksengajaan Mbak tega mengusir tamu?” kesal Baridin.

“Mas, ini rumah, rumah siapa?” tanya pemilik rumah.

“Siapa? Hah? Siapaaaaaaaaaaa?” teriak Baridin. “Memangnya siapa pemilik rumah rumah ini? Mbak? Hah? Pemilik rumah ini mbak? Mbak, asal Mbak tahu ya, Aku Baridin, baru keluar dari penjara, Aku dipenjara lantaran membunuh orang usianya persis seperti mbak, Aku membunuh Dia karena saat Dia kentut Aku tepat dibelakang Dia. Karena kesal, terpaksa Aku mehabisi nyawanya. Mbak mau macam-macam dengan Aku?” tambah Baridin.

“Mas, sangar-sangar kok ngomongnya pake Aku Kamu?” pemilik rumah bertanya dengan wajah penuh cemas.

“Ya, memangnya kenapa? Kenapa tidak sekalian Mbak komentari baju aku yang warnanya Pink?” Baridin balik bertanya.

“Aku juga tadi bermaksud begitu Mas,” jawab pemilik rumah.

“Oh gitu ya, begini saja, Mbak pilih, kanan rumah sakit, kiri kuburan?” kata Baridin dengan wajah penuh kerut menahan kesal.

“Lho, Mas kok tahu kalau kanan ke arah rumah sakit dan kiri ke kuburan? Mas orang sini ya?” tanya pemilik rumah.

“Argh, dasar, cantik-cantik gitu.” teriak Baridin sambil berlalu pergi meninggalkan rumah tersebut dan juga pemiliknya.

Akan tetapi, setelah berbalik badan, sebelum berjalan, Baridin mengangkat celana, sepertinya melorot. Melihat hal itu, pemilik rumah hanya bisa tertawa kecil, sepertinya takut dibunuh. Diketahui, pemilik rumah bernama Ratmina.

Ditulis oleh Suparman (Sekretaris Umum PC. IMM Jakarta Pusat. Pernah menjadi Ketua Umum PK. IMM Periode 2013-2014)