Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) dan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah gelar pertemuan sebagai upaya Tabayyun di tengah info hoax ataupun fitnah yang bertebaran secara “liar” di media sosial yang menyudutkan Pimpinan DPP IMM yang mendukung hasil Tanwir. Pertemuan tersebut dilangsungkan di Kantor PP Muhammadiyah Jalan Cikditiro, Yogyakarta, dan menghasilkan keputusan yang sangat penting.

Pertemuan tersebut, terselenggara pada hari Rabu 14 Februari 2018,  yang dipihak DPP IMM diwakili oleh Ketua DPP IMM Bidang Kader, IMMawan Amirullah, Ketua Bidang Tabligh, IMMawan Kadarisman, dan Ketua Bidang Media dan Komunikasi, IMMawan Din Salahudin, sedangkan dipihak PP Muhammadiyah diwakili oleh Ketua Muhammadiyah yang membidangi Kaderisasi dan Ortom, ayahanda Dahlan Rais.

“Silaturrahim ini juga sebagai upaya kami untuk mencari solusi terbaik di tengah polemik IMM Pasca Tanwir. Kita mengiginkan IMM bisa lebih baik lagi dan perbedaan pandangan bisa diselesaikan secara arif untuk kebaikan IMM,” kata Ketua Bidang Media, Din Salahudin, di keterangan pada, Sabtu (17/02).

Mantan Ketua DPD IMM NTB Periode 2014 – 2016 itu merilis beberapa hasil penting sebagai klarifikasi dan  sebagai langkah Tabayyun.

Pertama, adanya info yang tersebar ke kader-kader bahwa resafel sepihak yang dilakukan oknum yang mengaku diri Ketua Umum DPP IMM dengan mengatasnamakan PP Muhammadiyah, adalah tidak benar. Pak Dahlan Rais justru merasa kaget kok ada resafel-resafel lagi secara sepihak, malah beliau baru mendengar info itu pertama kali dari DPP IMM yang menemui Dahlan Rais, “tidak ada resafel-resafel, karena kalian sekarang harus fokus mempersiapkan Muktamar,” kata Dahlan Rais dikutip oleh Din Salahudin.

Ia pun menilai, bahwa Ayahanda Dahlan Rais menyangsikan adanya resafel illegal tersebut, dan menyarankan untuk fokus mempersiapkan Muktamar.

Kedua, adanya fitnah yang mengatasnamakan Pak Dahlan Rais dengan mengatakan bahwa, Siapa-siapa yang menolak SK PP Muhammadiyah, yang setuju dengan hasil Tanwir, silahkan keluar dari Muhammadiyah dan buat organisasi sendiri di luar Muhammadiyah. Hal ini dibantah secara tegas oleh Pak Dahlan Rais. Belyiau merasa kaget ketika melihat status-satus  fitnah yang mengatasnamakan namanya tersebut, “itu tidak benar,” ujar Dahlan Rais

Tambanya, Hal itu bukanlah kultur Muhammadiyah, Muhammadiyah orgnisasi dakwah, merangkul, membina, dan mencerahkan. Apalagi untuk kalian DPP IMM.

Menurut Din Salahudin, kalimat ‘itu tidak benar’ diartikannya sebagai fitnah yang disebarkan di medsos yang menyudutkan bahkan menjatuhkan orang-orang DPP IMM yang mendukung hasil Tanwir IMM di Kota Sorong Provinsi Papua Barat dengan mengatasnamakan Pak Dahlan Rais merupakan fitnah yang keji, yang tidak mencerminkan sebagai Kader Muhammadiyah.

Ketiga, secara pribadi, Pak Dahlan Rais mendukung untuk segera dilaksanakan Muktamar. Muktamar IMM yang dilaksanakan pada 01 - 06 Mei 2018 di Kendari, beliau menyarankan untuk turun di sana untuk memastikan kesiapan Panitia atau Tuan Rumah di sana. Beliyau meminta Muktamar disiapkan secara rapih dan matang dari berbagai hal. Ia juga mengharapkan Muktamar IMM kali ini harus syiarnya bagus. Dan beliyau juga meminta DPP IMM untuk mmpersiapkan Muktamar dengan baik secara bersama.

Keempat, terkait dengan dinamika DPP IMM Pasca Tanwir, beliyau meminta DPP IMM untuk menyelesaikannya secara dewasa dan arif untuk kebaikan IMM. Dan dalam waktu dekat PP Muhammadiyah akan memfasilitasi untuk penyelesaiannya yang terbaik.

“Demikian hal ini saya sampaikan, sebagai tabayyun dari info hoax atau fitnah yang sengaja disebarkan di medsos untuk menjatuhkan nama baik serta integritas pimpinan DPP IMM yang lainnya,” pungkas Salahudin.

 Editor : Zainul Abidin





JAKARTA – Unsur Badan Pimpinan Harian Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PBH DPP IMM) menemui Drs. Dahlan Rais, M.Hum, Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi Kaderisasi dan Ortom.

Agenda tersebut merupakan rangkaian konsolidasi persiapan Muktamar IMM Ke XVIII di Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra), dan Uunsur DPP IMM diterima di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta di jalan Cikditiro pada Rabu (14/2) 

“Saya mendukung untuk segera dilaksanakan Muktamar dan jangan ditunda-tunda lagi,” kata Ayahada Dahlan Rais.

Lanjutnya, Muktamar IMM Ke XVIII, dilaksanakan seperti Muktamar IMM Ke XVI di Solo yang dilaksanakan pada bulan Mei, dan Muktamar IMM Ke XVII di Jakarta yang dilaksanakan pada bulan Mei juga.

“Karena kalau diundur-undur akan memperpanjang masalah,” ujar Ayahanda Dahlan Rais.







JAKARTA - Belum lama ini publik dikejutkan oleh aksi nekat seorang siswa yang melakukan aksi kriminalisasinkepada salah satu guru di pulau jawa hingga tewas. belum usai diberitakan kasus tersebut, muncul lagi kasus baru yang cukup viral dimedia sosial yakni seorang ibu kepala sekolah dikriminalisasi oleh siswa dan orang tuanya dan beberapa peristiwasa lain yang serupa yang dimana korbannya adalah siswa. 

Guru mengkriminalisasi murid, murid mengkriminalisasi guru dan ada kalanya orang tua siswa yang mengkriminalisasi guru.

Muncul pertanyaan dibenak publik, apa yang terjadi pada lembaga pendidikan kita? Apa yang menyebabkan sehingga hal tersebut bisa terjadi.

Ini adalah sederet pertanyaan-pertanyaan yang seringkali muncul manakala terjadi kasus yang seperti di atas.

Apakah ini mutlak kesalahan lembaga pendidikan yaitu (tenaha pendidik, kurikulum?) Apakah ini mutlak kesalahan siswa? Ataukah mutlak kesalahan orang tua siswa? Tentu pertanyaan tersebut harus dijelaskan dengan baik.

Karakter

kasus kriminalisasi yang demikian dalam dunia pendidikan baik itu guru atau siswa yang menjadi korban atau pelaku biasanya disebut sebagai (dekadensi moral) penurunan moral. Apa yang menyebabkan itu terjadi, tentu banyak faktor yang mempengaruhi, sebut saja
1). Pola asuh orang tua
2). Lingkungan bermain 
3). Lembaga sekolah yang belum maksimalkan pendidikan karakter.
Ketiga hal tersebut bisa jadi sebagai pemicu maraknya siswa mengkriminalisasi guru.

1). Pola asuh orang Tua
Dalam dunia yang serba maju ditambah dengan kebutuhan manusia yang semakin bertambah membuat banyak orang tua tega menitipkan anaknya yang masih kecil karena sebuah pekerjaan, bukannya tidak boleh namun tidak sedikit penelitian yang telah membuktikan bahwa ada sebuah perbedaan dimana anak yang diasuh langsung oleh orang tuanya jauh lebih baik perkembangan dan pertumbuhan karakternya ketimbang diasuh oleh baby sister. Mengapa demikian, sebab orang tua kandung mengasuh tidak hanya dengan ketulusan namun dengan kelembutan, kehangatan dan penuh cinta. Sebab pendidikan yang paling utama adalah di rumah dan pendidikan yang dipenuhi dengam kasih sayang adalah merupakan pendidikan karakter. 

2). Lingkungan bermain
Orang tua seringkali bahkan kebanyakan tidak memperhatikan lingkungan bermain buah cintanya. Dengan siapa dia berteman, apa yang dilakukan anaknya diluar, ini sangat janrang diperhatikan oleh orang tua, nungkin karena mereka sibuk bekerja sehingga ketika pulang kerumah anak-anaknya tah istirahat sehingga untuk mau hanya untuk sekedar bertanya saja butuh keesokan harinya, itupun kalau tidak ada pekerjaan tambahan ditempat ia bekerja. Sehingga kontrol terhadap buah hatinya berkurang maka tidak jarang terkadang banyak orang tua yang kaget manakala mendapatkan informasi anaknya melakukan tindakan kriminal dan sebagainya.

3). Lembaga sekolah
Jika semua persoalan kriminal dan sebagainya yang terjadi di sekolah kita alamatkan kepada lembaga sekolah maka itu sangat keliru.  mengapa demikian, sebab yang namanya lembaga sekolah pasti akan memberikan pelayanan yang prima demi memanusiakan manusia, walaupun ada beberapa lembaga sekolah yang tenaga pendidikannya malah yang menjadi pelaku tindakan kekerasan terhadap siswa.
Sekolah hanya diberikan waktu kurang lebih 8 jam dalam sehari untuk memberikan bekal ilmu, memberikan contoh dan lainnya sisanya adalah siswa dalam perjalanan pulang, lingkungan bermain dan rumah. Namun dirumahlah waktu yang lebih banyak.

Kekerasan, siapa yang disalahkan

Tak perlu kita saling melempar kesalahan kepada orang tua, siswa dan pihak lembaga. Sebab mereka punya tanggung jawab masing-masing. Yang perlu lakukan adalah orang tua, siswa dan lembaga pendidikan mengevaluasi diri masing-masing, suda sejauh mana saya memberikan yang terbaik (orang tua kepada anak, anak kepada orang tua dan lembaga pendidikan kepada orang tua). Jiak suda evaluasis diri secepatnya diperbaiki yang menjadi kekurangan masing-masing sehinga tidak ada yang perlu disalahkan. Namun orang tualah yang lebih banyak tanggujawabnya terhadap karakter anak sebab mereka terlahir dari rahimnya dan akan dipertanggung jawabkan dihadapan yabg mahaa kuasa.

Pemerintah dalam ini kementrian pendidikan dan kebudayaan RI  harus terus membenah diri (evaluasi) apa yang kurang dari kurikulum kita, sebab kurikulum di indonesia manakala berubah menteri pendidikan maka berubah pula kurikum layaknya ada pesan yang ingin ditinggalkan kepada publik dalam bentuk sejarah bahwa kurikulum tersebut adalah produm ketika saya yang menjadi meteri pendidikan. Tapi ketika dunia pendidikan ditimpah musibah mereka tidak muncul lalu berkata bahwa bisa saja produk yang saya hasilkan dalam masa kepemimpinannya masih kuranh sehingga dunia pendidikan masih mengalami kasus tragis kriminal. []


Penulis : Jailani Tong





JAKARTA - Ikatan Mahasiswa Muhamnadiyah atau IMM saat berdiri mencita citakan satu masyarakat kedepan menjadi masyarakat yang memiliki tingkat kecerdasan, keadilan sosial dan kebaikan yang luar biasa dengan menanampan nilai nilai tetbaik melalui para kader.

Cita cita atau harapan tersebut sebagaimana tertuang dalam Trilogi IMM yakni Religiusitas, Intelektualitas dan Humanitas. IMM mengharapkan munculnya kader dengan kualitas terbaik untuk tuhan, diri dan lingkungan.

Selain trilogi IMM juga memiliki narasi narasi yang mengarah kepada harapan yang indah di masa yang akan datang sehinga harapan untuk angun dalam moral ungul dalam intelektual sangat di harapkan.

Kini harapan itu hanya tingal kepingan kepingan kalimat tidak lagi menjadi dasar perjuangan atau pegangan dalam perjuangan. Problematika ikatan makin tidak dikendalikan, syahwat kekuasaan dan pragmatisme meracuni kader.

Harapan terbentuknya maayarakat terbaik seakan runtuh oleh emosi yang takdikendalikan. Baru hanya IMM suda di pertentangkan hinga saling membunuh kehidupan yang lain hinga hancur berantakan dengan cara cara yang tidak sesuai dengan norma kader ikatan.

Bagaimana nanti ketika berada di tengah masyarakat yang begitu kmplet pertentangan bisa jadi kerusakan yang terjadi yang di munculkan karena tidak mampu mengendalika dan menahan syahwat setan yang dimiliki.

IMM harus kembali kalau kata mantan presiden Partai Keadilan Sejatrah (PKS) Anis Matta, itu Taubatan Nasional. Karna akan rusak kalau selalu ini di pertahangkan dan tidak memiliki jalan keluar yang terbaik apalagi tidak mau kembali ke cita cita dan harapan IMM itu sendiri.

Karna bikan hanya harapan yang akan runtuh tapi IMM juga akan runtuh dan bahkan bisa jadi karna tidak memiliki kader pelangsung yang kuat maka Muhammadiyah juga akan runtuh dan bisa jadi berdampak kepada Bangsa Indonesia akan bubar karna tidak memiliki penyeimbang dalam betbangsa karna muhammadiyah adalah sala satu organisasi penyeimbang bangsa ini. []

Penulis :Muhammad Rimbo Bugis





PALU – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Tengah (IMM Sulteng) ditepar kabar duka, kader terbaik yang dimiliki Sulawesi Tengah, IMMawan Ibrahim meninggal dunia saat mempersiapakan aksi damai menolak perayaan hari valentine (Valentine’s Day). 

Dari Kronologi yang dikirim oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Tengah (DPD IMM Sulteng) IMMawan Kamarudin Amar melalui via WhatsApp, Rabu 14 Februari 2018, mengatakan Almarhum meninggal yang sebelumnya mengalami kecelakaan lalu lintas saat mengambil peralatan penunjang aksi.

“Alm. IMMawan Ibrahim bersama IMMawan Alan Jabir (Pengemudi) berangkat dari sekret IMM Palu menuju arah Utara Palu (Taipa Lokasi kecelakaan) mengendarai mobil open dengan tujuan mengambil peralatan penunjang aksi damai berkaitan dengan Valentine’s day,” kata Ketua Umum DPD IMM Sulteng, IMMawan Kamarudin Amar.

Lanjutnya, di saat perjalan terjadi kecelakaan dengan Sepeda motor yang ditumpangi oleh 2 orang yang sebelumnya Ban Mobil yang mereka tumpangi pecah.

Pada peristiwa tersebut, satu (1) orang korban yang mengenderai sepeda motor meninggal di Tempat Kejadian Perkara (TKP)  dan 1 orang lagi masih di rumah sakit dan dikarkan masih dalam keadaan koma.

“IMMawan Ibrahim meninggal di Rumah Sakit, dan IMMawan Alan Jabir selamat dan saat ini berada di Polres Palu,” ujar Amar.

Dari keterangan  Amar, Peralatan aksi yang diambil oleh IMMawan Ibrahim dan IMMawan Alan Jabir ialah Genset untuk Sound Sistem yang dipakai untuk aksi pada sore hari Ba’ada Asar waktu setempat.

Almarhum IMMawan Ibrahim merupakan aktivis IMM yang militan, Ia merupakan Ketua Domisioner Pimpinan Komisariat  FKIP Periode 2016 – 2017, Sebelum meninggal juga, beliyau jadi Ketua Panitia Musyawarah Cabang (Musycab) IMM Palu pada tanggal 23 Februari 2018.

“Dia salah satu bakal calon Formatur, dan beliyau juga Alumni DAM di Makassar,” pungkas Amar. []

Penulis : Zainul Abidin
Editor : Din Salahudin   
Powered by Blogger.