JAKARTA – Presiden Asian Conference of Religions for Peace (ACRP) Prof. Din Syamsudin mengecam aksi teror dalam bentuk apapun. Sebab, aksi teror atau terorisme adalah kejahatan luar biasa yang dapat merusak kemanusiaan. Apalagi, kata Din, aksi teror itu dilakukan dengan mengaitkan agama.

“Maka tidak benar kalau ada yang menuduh Islam sebagai agama terorisme,” ujar Din menjelaskan dalam pengajian bulanan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang ditayangkan TVMu dengan tema “Pemberantasan Terorisme yang Pancasilais dan Komprehensif”, di Jakarta, Jumat (8/4).

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menuturkan, terorisme sebenarnya tidak terkait dengan agama apapun. Namun, terang dia, aksi teror yang telah terjadi, selalu dikaitkan dengan Islam. Dan itu, kata dia, dapat juga terlihat dengan adanya generalisasi terhadap seluruh umat Islam yang dilakukan pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Merusak citra,” tegas Din yang menyesalkan adanya stereotipe terhadap Islam. Akibat stereotipe ini, Din melanjutkan, terutama di Amerika Serikat dan di Eropa, muncul dengan skala besar yaitu ketakutan pada Islam atau islamophobia.

Sehingga, Din memberitahukan, negara-negara barat itu, melakukan tindakan yang tidak tepat dalam menanggulangi terorisme. Yakni, kata dia, banyak negara melawan terorisme selalu dengan peperangan. “War on terror diakui menempuh jalan yang salah,” ujar Din menegaskan ihwal pandangan banyak pihak terkait war on terror.

Bahkan, program deradikalisasi yang digaungkan oleh Amerika Serikat itu, menurut Din, adalah tindakan yang sebenarnya memunculkan radikalisme itu sendiri. “Saya meyakini program deradikalisasi ini adalah proyek Amerika Serikat,” katanya.

Tak terkecuali di Indonesia, sambung Din, deradikalisasi yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) justru melanggengkan terorisme. “Deradikalisasi selama ini menempuh jalan yang keliru,” ucap Din yang tengah melaksanakan tugasnya di Wina.

Karena itu, ia berharap, penanggulangan terorisme haruslah dilakukan secara komprehensif. Atau, kata dia, tidak menggunakan cara berpikir yang sempit seperti analogi menggunakan kacamata kuda. Yaitu tidak hanya melihat sumber penyebab adanya terorisme karena faktor ideologi.

Namun, Din menegaskan, faktor lain penyebab adanya terorisme adalah kesenjangan, ketidakadilan ekonomi dan politik. Lalu, faktor lainnya adalah adanya pihak tertentu yang melakukan standar ganda dalam menyelesaikan konflik Palestina-Israel.

Dan tak kalah besarnya, penyebab lahirnya terorisme, kata Din, yakni faktor penunggangan. Faktor ini ada karena ada yang memiliki kepentingan terhadap terorisme itu. Ini dimunculkan, terang dia, tak lain juga untuk mendiskreditkan Islam.

Din mendorong, agar Pemerintah Indonesia, Polri, dan masyarakat sipil untuk duduk bersama memberantas terorisme itu secara komprehensif.

“Ini tiada lain adalah membela kebenaran dan keadilan,” kata Din mengakhiri.

Sumber:

http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-5579-detail-din-deradikalisasi-jalan-yang-keliru.html


Jawa Timur – Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf dalam sambutannya di acara pembukaan Rakornas Lazismu mengatakan, Rakornas Lazismu yang berlangsung di The Sun Hotel, Sidoarjo, Kamis (7/3) diharapkan menghasilkan keputusan yang berkualitas. Sehingga dapat memberikan dampak yang positif bagi perjalanan bangsa Indonesia. Mengingat, potensi zakat di Indonesia sangat besar.

“Saya berharap, keputusan-keputusan Rakernas nantinya dapat menginspirasi dan menjadi stimulus bagi lembaga lainnya untuk selalu lebih baik,” kata Gus Ipul. Dia menambahkan, zakat adalah urusan yang sangat penting. Menurutnya, akses untuk berzakat harus dipermudah dan lembaganya harus dipercaya.

Maka dari itu, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini berharap, Rakornas ini dapat menjadi pelopor dalam mempermudah zakat. Baik dari segi akses, administrasi dan juga transparansi. “Saya yakin banyak orang yang mau zakat. Tapi mereka merasa kesulitan. Mungkin salah satu faktor pelancar orang agar mau zakat adalah caranya harus gampang, tidak repot, alamat jelas, dan lembaganya dipercaya. Acara ini harus bisa memperjelas alamat buat zakat. Terus terang Lazismu selama ini aksesnya belum jelas,” tuturnya.

Gus Ipul menyarankan, setiap gedung milik Muhammadiyah memiliki ruangan untuk Lazismu. Hal ini bertujuan untuk mempermudah masyarakat jika berzakat. “Biar mudah dijangkau, kalau bisa setiap gedung milik Muhammadiyah ada Lazismu. Misalnya di kantor-kantor PWM, PDM, dan sekolah-sekolah. Lazismu diberi ruangan khusus. Catnya juga harus khusus. Seperti franchise. Tidak hanya ruangannya, tenaganya juga harus khusus pula. Dengan begitu, maka Lazismu akan mudah diakses dan terpercaya,” usulnya.

Menurut Saifullah, sudah saatnya Muhammadiyah memperkuat lazismu. Kalau hal ini bisa dilakukan, lanjut Saifullah, maka akan banyak yg bisa dilakukan Muhammadiyah. Lazismu harus menjadi lembaga yang modern, terukur dan nyaman. “Kita sedang berpacu dengan waktu. ada MEA, dan globalisasi. Persaingan semakin ketat. baik antar negara maupun juga persaingan swasta yang ada di negara masing-masing. Muhammadiyah harus menjadi motor dalam kemenangan semua lini. Jika Muhammadiyah maju, saya pun ikut senang,” pungkasnya.

Sumber:
http://sidoarjo.muhammadiyah.or.id/berita-5573-detail-wagub-jatim-gus-ipul-saya-senang-kalau-muhammadiyah-maju.html


Jakarta – Bersamaan dengan kedatangan Ketua dan Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Yunahar Ilyas dan DR Agung Danarto, ke Inggris untuk berceramah, berbagai agenda kegiatan lain juga diikutkan. Salah satunya adalah Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah United Kingdom (Inggris Raya) melakukan silaturahim ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di London, (4/6). Acara berjalan lancar, karena Duta Besar RI untuk kerajaan Inggris Raya, Dr Rizal Sukma, sendiri yang menyambut.

Dalam pertemuan itu, ketua PCIM UK, Zain Maulana (PhD Kandidat, Leeds University), bersama Dr Abram Perdana (Penasihat PCIM UK) dan beberapa pimpinan menyampaikan agenda dan program PCIM UK dua tahun ke depan. Diantaranya Muhammadiyah International Forum (MIF), yang akan bekerjasama dengan sejumlah NGO di UK dan pemaparan beberapa program lainnya. “Ke depan, kami berharap dapat bersinergi dengan KBRI dalam upaya menampilkan wajah Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin serta Indonesia yang ramah dan damai,” jelas Zain Maulana.

Duta Besar pun, Rizal Sukma, menyambut sangat baik sejumlah program dan agenda dakwah PCIM UK. Dia justru menekankan bahwa sinergi antara KBRI dengan elemen masyarakat Indonesia, termasuk Muhammadiyah, yang sudah berkontribusi besar bagi umat Islam dan bangsa Indonesia sangat penting dan harus ditingkatkan. “Sinergi ini sangat penting, dan harus kita tingkatkan pada masa mendatang,” jelas Rizal.

Silaturahim antara PCIM UK dan Duta Besar RI kali ini merupakan momentum yang tepat. Sebab, Rizal Sukma baru saja memulai tugasnya sebagai Dubes RI di London pada Februari 2016 kemarin.

Sumber:
http://inggris.muhammadiyah.or.id/berita-5574-detail-pcim-united-kingdom-perkuat-sinergi-muhammadiyahkbri-inggris.html


JAKARTA – Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-70 dinilai bisa dijadikan momentum memperkuat ideologi Pancasila, terutama mencegahbahaya paham radikalisme dan terorisme.

“Sebagai generasi muda, kami ingin memperkuat ideologi Pancasila demi kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu kami juga harus tetap konsisten dalam memperjuangkan cita-cita luhur founding father Indonesia yang dulu berjuang sampai titik darah penghabisan untuk membawa Indonesia menjadi negara merdeka,” papar Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) DKI Jakarta Fadli Ferryansyah, dalam rilisnya, Rabu (5/8).

Alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah melanjutkan bahwa ideologi Pancasilan dan NKRI itu penangkal bagi kelompok atau perseorangan yang menyebarkan atau menganut paham yang tidak sesuai nilai-nilai Pancasila.

Sejauh ini, lanjut Fadli, IMM DKI Jakarta telah melaksanakan kegiatan konkret berupa pengaderan yang tidak hanya memperkenalkan ideologi kemuhamadiyahan, tetapi juga ideologi kebangsaan.

Fadli menambahkan, dalam pengamatannya saat ini segmentasi propaganda dan penyebaran paham radikalisme dan terorisme berbeda. Kalau dulu, mereka menyasar kaum marjinal seperti masyarakat desa, tapi sekarangmereka membidik kamu intelektual.

“Pergerakan mereka ini dengan membangun ‘sekoci-sekoci’ lembaga yang memang tidak terlihat dari luar. Jadi secara kasat mata gerakan itu sebenarnya adalah ideologi radikal. Di kalangan mahasiswa, biasanya mereka memanfaatkan tugas makalah dengan membuat artikel berbau ideologi radikalisme,” ungkap Fadli.

Sumber:

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/08/05/nslcy6346-tangkal-radikalisme-imm-dki-tak-hanya-ajarkan-kemuhammadiyahan

Poto: www.monitor.day


Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, mengapresiasi konferensi internasional untuk memerangi terorisme yang diadakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Menurutnya, konferensi tersebut menjadi salah satu cara cerdas memerangi terorisme.

“Saya sambut baik kegiatan ini. Sebagai bentuk apresiasi, kami atas nama gubernur dan saya secara pribadi menyambut dan menjamu seluruh peserta konferensi internasional pemuda untuk melawan terorisme dalam acara jamuan makan malam di Balai Agung. Satu tempat yang sangat prestisius di Balai Kota,” kata Djarot di Balai Agung, Balai Kota, Jakarta, Minggu 13 Maret 2016.

Djarot mengatakan tindakan terorisme memang harus diantisipasi melalui pemahaman agama. Lalu perlu juga dipahami bahwa kekerasan dan pembunuhan untuk tujuan politik benar-benar diharamkan.

“Terorisme bisa dilakukan dengan teknologi informasi dengan merekrut pemuda yang belum paham tentang nilai Islam untuk dicuci otaknya. Indonesia sebagai negara yang sangat heterogen rawan terhadap tindakan terorisme. Tapi Indonesia mempunyai ideologi pemersatu yaitu Pancasila,” papar Djarot.

Ia menilai tindakan terorisme untuk mencuci otak para pemuda tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di dunia. Sehingga konferensi ini dinilai memainkan peran penting untuk memerangi terorisme.

Sumber:

http://sangpencerah.com/2016/03/wagub-dki-jakarta-apresiasi-cara-cerdas-imm-dalam-perangi-terorisme.html
Diberdayakan oleh Blogger.